Oleh : H. Muhamad Jaenudin, S.Ag.
(Mahasiswa Pascasarjana UIN Syekh Nurjati Cirebon, Kepala KUA Kec. Mandirancan)
Dalam sebuah pelatihan, Direktur Emotional Spriritual Quotient (ESQ), Kang Ary Ginanjar Agustian pernah ditanya oleh seorang peserta tentang bagaimana hukumnya jika kesadaran seseorang datang hanya sesaat saja. Di saat bermuhasabah ia menagis sejadi-jadinya menyesali kesalahan, namun begitu bubar dari muhasabah, ia kembali lagi ke keadaan semula. Kembali lagi tertawa-tawa, seolah muhasabah tisak ada bekasnya.Kesadaran yang tidak stabil karena datangnya hanya sersaat saja. Kang Ary menjawab “hati-hati jangan sampai itu hanya menjadi kesadaran sesaat ala kesadaran Fir’aun!”.
Secara literatur Historis, Fir’aun adalah sosok penguasa tangan besi dan diktator , bahkan telah memproklamirkan diri sebagai Tuhan. Karena polahnya yang kelewat batas (togho) itulah maka Nabi Musa diperintah Allah untuk pergi menegur Fir’aun. Atas permintaan Musa, ia pergi ditemani Harun as. Awalnya keduanya diperintahkan menegur Fir’aun dengan bahasa yang lunak (qaulan layiina), kalau-kalau Fir’aun menjadi ingat dan takut (kepada Allah). Namun akhirnya apa boleh buat jalur diplomasi itu buntu, mereka terpaksa harus “show of force”, adu kekuatan dengan tukang sihir Fir’aun. Allah tidak tinggal diam, melalui tongkat Musa as. yang dilemparkan sehingga menjadi ular besar yang menelan habis ular-ular kecil milik tukang sihir Fir’aun.
Sebetulnya sampai di sini saja, jika Fir’aun mau mengikuti kata nurani, pasti ia akan tiba pada satu kesadaran bahwa ada kekuatan “supra natural” yang Maha Dahsyat yang tidak mungkin dilawan. Namun Fir’aun telah mengabaikan panggilan kata hati. Ia malah memperturutkan gengsinya di hadapan rakyat dan pasukannya. Maka ia kerahkan pasukannya untuk menyerang Musa dan pengikutnya hingga Nabi Musa dan pengikutnya terdesak ke tepi laut. Dalam keadaan genting seperti itu Allah kembali memperlihatkan kuasa-Nya. Allah wahyukan kepada Musa untuk memukulkan tongkatnya hingga keajaiban kembali terjadi, lautan terbelah menjadi dua, terpisah oleh jalan yang membentang sampai tepian sebrang sana yang begitu leluasanya dilalui Musa dan Pengikutnya.
Sampai di sini pun, jika Fir’aun mau mengikuti kata nurani, pasti ia akan tiba pada satu kesadaran. Namun Fir’aun tidak tidak pedulikan sema itu. Hatinya sudah tertutup dengan nafsu angkara untuk membunuh Musa. Hingga akhirnya saat ia bersama pasukannya mengikuti jalan yang dilalui Musa, lautan kembali menyatu dan Fir’aun tenggelam digulung ombak yang tanpa ampun. Di detik-detik akhir hampir tenggelam itulah Fir’aun barulah sadar tentang kekuasaan Tuhan. Saat itu terlontarlah pengakuan tulus sang raja dholim, “Aku beriman bahwa tidak ada tuhan melainkan Tuhan yang diimani oleh Bani Isroil. Dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri” (QS. Yunus: 90).
Namun sayang kesadaran model Fir’aun ini adalah kesadaran yang terlambat. Allah menolak tobat Fir’aun ini karena; pertama, saat nyawa sudah berada di kerongkongan, pintu taubat sudah tertutup. Allah membantah kesadaran Fir’aun ini dengan pernyataan-Nya “ Mengapa baru sekarang (kamu beriman), padahal sesungguhnya engkau telah durhaka sejak dahulu, dan engkau termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan” (QS. Yunus: 91). Kedua, kesadaran ala Fir’aun adalah kesadaran sesaat yang tidak mempunyai efek apa-apa. Karenanya seperti QS. Ali Imron : 135 bahwa ampunan Allah itu diperuntukkan bagi; orang-orang yang apabila melakukan perbuatan keji atau mendholimi diri sendiri ia segera mengingat Allah memohon ampun atas dosa-dosanya, dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu. Dengan kata lain sebuah pertaubatan mengharuskan kesungguhan untuk sadar dan keitiqomahan dalam ketaatan. Taubat dan taat harus terus beriringan. Itulah taubatan nasuha.
Kita bersyukur, begitu masuk Ramadhan semua “hingar bingar” menyambut Ramadhan. Iklan layanan televisi semua bertema puasa; iklan sirup, sarung, jilbab, busana, kopeah, biskuit, semua tayang bertubi-tubi. Para artis yang biasa tidak berkerudung, mendadak berpenampilan Islami. Acara stasiun televisi juga disetting sedemikian rupa dengan konten ibadah puasa. Tak ketinggalan film dan sinetron yang kejar tayang bertema puasa. Walaupun setelah habis Ramadhan keadaan berubah sedia kala, seolah tanpa ada pengaruh apa-apa.Maka seperti banyak yang demam bola saat musim kompetisi liga sepak bola, semua sekarang sedang demam Ramadhan
Bahkan gara-gara demam Ramadhan ini pula acara TV dan sinetron ber ratting tinggi justru ditayangkan bersamaan waktu sholat. Akibatnya banyak Ummat Islam yang seharusnya berada di masjid, malah asyik “beritikaf” di depan TV. Akhirnya mereka tertinggal tidak bisa pergi ke masjid, mereka sholat di samping TV dengan mulut mengucap bacaan sholat namun telinga tajam mendengarkan suara TV karena sedang tayang sinetron favorit.
Demam Ramadhan juga melanda perilaku Ummat. Alhamdulillah memang, minimal selama Ramadhan mereka rela berpuasa, walaupun ada juga diantara mereka yang nyolong buka dengan makan di warteg yang ditutup kain yang tidak pull sampai kebawah yang berakibat deretan kaki sang pencolong itu masih jelas kelihatan.Selanjutnyatadarus al-Quran juga mengalun di mana-mana bahkan sampai agak malam yang terkesan agak mengganggu istirahatnya banyak orang. Sholat tarawih juga gencar dilaksanakan di masjid dan langgar. Tak cukup dengan itu, kaum shomimin juga sedang rajin bangun malam, qiyamul lailmencari maghfiroh Allah, memburu lailatul qodar. Kesolehan sosial pun terus ditingkatkan dengan membantu dan berbagi kepada sesama yang tidak mampu. Bahkan jika kita memberi makanan pada orang yang buka puasa pahalanya sebesar pahala puasa orang yang diberi. Dan sebagai penutup puasa, Ummat Islam wajib mebayar zakat fitrah. Semua mengajarkan bahwa kesolehan individual (antara individu dengan Kholiknya) karus dibuktikan kebenarannya dengan kesolehan sosial.
Maka kini lihatlah, apakah semangat Ramadhan itu bertahan terus di sebelas bulan berikutnya?. Entahlah, yang jelas jangankan sampai sebelas bulan, begitu selesai Ramadhan dengan pengumuman pemerintah bahwa besok lebaran saja, kita banyak yang terlarut dalam euforia kegembiraan yang terkadang berbau hura-hura dan mubadzir. Bunyi petasan meledak di setiap sudut jalan, anak muda melakukan iring-iringan konvoi sepeda motor sambil membunyikan klakson. Berboncengan dengan lawan jenis, bahkan mengumbar syahwat. Di hari lebaran setelah selesai bersalaman setumpuk perjalanan rekrasi pun di mainkan.
Maka setelah lewat Ramadhan, lewat pulalah ajaran Ramadhan. Puasa sudah tidak lagi dilakukan. Kalau dalam Ramadhan bisa khatam al-Quran minimal satu kali, maka di sebelas bulan stelahnya bisa khatam satu kali saja sudah jago. Al-Quran kembali diselimuti debu yang tebal, di simpan di atas lemari. Tidak beda nasibnya dengan kebiasaan qiyamul lail.
Kita berharap fenomena itu semua bukan hanya demam Ramadhan. Semangat ibadah yang tinggi harus terjaga juga di luar Ramadhan. Karena kita tidak ingin kesadaran kita akan disamakan dengan keasdaran Firaun yang hanya sesaat. Wa Allahu a’lam bissawwab.***















































































































Discussion about this post