KAB.CIREBON, (FC).- Potret memilukan masih terjadi di wilayah pesisir timur Kabupaten Cirebon. Selama tiga tahun terakhir, ribuan warga Desa Ambulu, Kecamatan Losari, harus bertahan hidup di tengah kepungan banjir rob yang tak kunjung surut.
Genangan air laut yang masuk ke permukiman tidak hanya merusak rumah dan mata pencaharian warga, tetapi juga mengancam kesehatan fisik serta kondisi psikologis masyarakat.
Salah satu kisah pilu dialami Salman Alfarisi, warga Desa Ambulu, yang bersama kedua orang tua dan saudaranya terpaksa hidup berdampingan dengan banjir rob setiap hari.
Rumah yang mereka tempati tak pernah benar-benar kering sejak tiga tahun terakhir akibat naiknya permukaan air laut yang diperparah perubahan iklim ekstrem.
Di dalam rumahnya, air rob menggenang hampir di seluruh ruangan. Untuk beristirahat, keluarga tersebut harus meninggikan tempat tidur agar terhindar dari genangan.
Sementara untuk beraktivitas sehari-hari, mereka terpaksa berjalan di dalam rumah yang terendam air dengan ketinggian mencapai sekitar 70 sentimeter.
“Kami sudah sering menyampaikan keluhan, tetapi sampai sekarang belum ada penanganan yang benar-benar bisa mengatasi rob ini,” ungkap Salman, Rabu (10/6) malam.
Menurutnya, kondisi tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang harus dijalani dengan penuh keterbatasan. Rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung justru berubah menjadi lingkungan yang tidak sehat dan rentan menimbulkan berbagai penyakit.
Selain mengganggu aktivitas, genangan rob juga meningkatkan risiko gangguan kesehatan. Lingkungan yang lembap dan kotor membuat warga rentan terserang penyakit kulit, infeksi, hingga berbagai penyakit lain yang berkaitan dengan sanitasi buruk.
Meski demikian, keterbatasan ekonomi membuat banyak warga tidak memiliki pilihan selain tetap bertahan di rumah masing-masing sambil berharap adanya solusi nyata dari pemerintah.
Sementara itu, Kuwu Ambulu Sunaji menegaskan bahwa kondisi desanya sudah masuk kategori darurat. Menurutnya, banjir rob yang terjadi hampir setiap hari telah mengubah wajah Desa Ambulu dan memberikan dampak luas terhadap kehidupan masyarakat.
“Banjir rob tidak hanya merusak rumah dan perekonomian warga, tetapi juga mulai memengaruhi kondisi psikologis masyarakat. Warga hidup dalam kecemasan karena harus menghadapi ancaman rob setiap hari,” ujarnya.
Berdasarkan data pemerintah desa, sekitar 60 persen kawasan permukiman di Desa Ambulu kini terancam tenggelam. Ribuan rumah dan warga terdampak akibat masuknya air laut yang terus terjadi tanpa henti.
Sunaji mengatakan, tidak sedikit rumah warga yang rusak parah dan akhirnya ditinggalkan pemiliknya. Sejumlah bangunan bahkan tampak kosong dan terbengkalai akibat tidak lagi layak dihuni.
“Bencana ini bukan lagi persoalan yang bisa selesai dalam hitungan hari atau minggu. Rob sudah menjadi ancaman permanen yang harus dihadapi masyarakat setiap saat,” katanya.
Ia menjelaskan, selain kerusakan fisik, dampak paling berat justru dirasakan pada aspek psikologis warga. Ketidakpastian kapan rob datang membuat masyarakat selalu waspada, baik pada pagi, siang, sore maupun malam hari.
Karena itu, Pemerintah Desa Ambulu bersama masyarakat terus mendesak pemerintah daerah, pemerintah provinsi, hingga pemerintah pusat untuk segera mengambil langkah konkret dalam menangani bencana rob yang semakin parah.
Beberapa tuntutan yang disampaikan antara lain pembangunan tanggul laut atau giant sea wall, penetapan status tanggap darurat, normalisasi saluran irigasi pesisir, hingga pembebasan pajak tambak yang tidak lagi produktif akibat terendam rob.
Menurut Sunaji, solusi jangka pendek sudah tidak lagi memadai untuk menghadapi ancaman banjir rob yang terus berulang. Masyarakat berharap pembangunan giant sea wall yang selama ini diwacanakan pemerintah pusat dapat segera direalisasikan.
“Kalau tidak ada langkah besar dan menyeluruh, bukan hanya rumah warga yang hilang, tetapi juga masa depan masyarakat pesisir yang selama ini menggantungkan hidup di kawasan ini,” tegasnya.
Bagi warga Ambulu, banjir rob kini bukan sekadar bencana musiman. Rob telah menjadi ancaman permanen yang perlahan mengikis kehidupan sosial, ekonomi, kesehatan, dan harapan masyarakat pesisir Kabupaten Cirebon. (Ghofar)









































































































Discussion about this post