MAJALENGKA, (FC).– Tak banyak generasi muda yang mengetahui bahwa Presiden ke-2 Republik Indonesia, pernah mengunjungi Desa Sangiang, Kecamatan Banjaran Kabupaten Majalengka. Hal ini menyusul adanya tragedi banjir bandang dan longsor yang menewaskan ratusan warga pada akhir tahun 1981.
Menurut catatan sejarah, kunjungan kepala negara tersebut berlangsung pada 26 Desember 1981, beberapa saat setelah bencana besar melanda wilayah Sangiang.
Pada peristiwa yang tercatat sebagai salah satu bencana terparah di Majalengka itu, sebanyak 139 orang meninggal dunia, 124 warga mengalami luka-luka, dan 14 lainnya dinyatakan hilang.
Bencana yang diawali longsor di kawasan perbukitan itu memicu banjir bandang yang menerjang lima kampung di Desa Sangiang. Besarnya jumlah korban jiwa membuat peristiwa tersebut mendapat perhatian nasional hingga Presiden Soeharto turun langsung ke lokasi untuk melihat kondisi masyarakat terdampak.
Saat itu, Presiden Soeharto didampingi sejumlah pejabat pemerintah meninjau kawasan bencana sekaligus menyerahkan bantuan bagi para korban. Pemerintah saat itu menyiapkan program relokasi permukiman dan padat karya sebagai bagian dari upaya pemulihan pascabencana.
Empat dekade lebih telah berlalu, namun tragedi tersebut masih tersimpan dalam ingatan kolektif masyarakat Desa Sangiang.
Tantangan yang kini muncul bagaimana mewariskan memori bencana kepada generasi muda agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman. Di antaranya agar masyarakat dapat membangun budaya sadar bencana yang berkelanjutan.
Namun kini kawasan yang dulu menjadi saksi salah satu tragedi terbesar di Majalengka, berkembang menjadi destinasi wisata alam berupa danau alami yang berada di tengah kawasan hutan lindung.
Lokasi itu menawarkan panorama alam yang asri sekaligus menyimpan nilai sejarah yang kuat. Tak hanya itu, Situ Sangiang juga lekat dengan kisah dan legenda Kerajaan Talaga Manggung yang menjadi bagian penting dari warisan budaya Majalengka.
Perpaduan antara keindahan alam, sejarah kebencanaan, dan nilai budaya menjadikan kawasan ini memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan maupun peneliti.
Bagi masyarakat Sangiang, mengenang tragedi 1981 bukan sekadar membuka kembali lembaran duka. Lebih dari itu, peristiwa tersebut menjadi pengingat penting bahwa sejarah bencana harus terus diwariskan agar masyarakat memiliki kesiapsiagaan yang lebih baik dalam menghadapi ancaman serupa di masa depan.
Hasanudin warga Jatitujuh yang datang ke lokasi wisata Situ Sangiang bercerita, dirinya sengaja mendatangi Talaga Situ Sangiang untuk mengingat sejarah bahwa di 45 tahun yang lalu ada tragedi besar di Kabupaten Majalengka tepatnya di Desa Sangiang Kecamatan Talaga ini.
Saat ini kata Hasan panggilan akrabnya, Danau Situ Sangiang dangat indah, disamping airnya jernih, jutaan ekor ikan pun hidup di habitat danau tersebut.
Masih dikatakan Hasan, orang kebanyakan saat ini kebanyakan tidak mengetahui peristiwa banjir besar yang sempat merenggut ratusan nyawa melayang, serta korban luka bajkan ada yang hilang.
Mereka kebanyakan mengetahui dari cerita mulut ke mulut saja. Dimungkinkan saat tragedi itu, dunia internet dan medsos belum lahir.
“Mungkin saat kejadian tragedi Situ Sangiang tersebut, saya sendiri masih dalam kandungan, jadi sekarang hanya bisa menikmati warisan wisata dan mendengar cerita singkat dari mulut ke mulut saja,” ujar Hasanudin, Senin (8/6). (Munadi)










































































































Discussion about this post