KUNINGAN, (FC).- Komitmen Pemerintah Kabupaten Kuningan dalam menjaga produktivitas pertanian terus diwujudkan melalui aksi nyata di lapangan. Melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan (Diskatan), pemerintah daerah melaksanakan Gerakan Pengendalian (Gerdal) Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) penyakit tungro pada tanaman padi seluas 5 hektare di Desa Cikaso, Kecamatan Kramatmulya, Jumat (9/1/2026).
Kegiatan ini dilaksanakan oleh Kelompok Tani Bina Karya III Desa Cikaso sebagai respons cepat atas hasil pengamatan lapangan Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT). Hasil observasi menunjukkan adanya potensi perkembangan penyakit tungro yang perlu segera dikendalikan sejak dini agar tidak meluas dan mengganggu produksi padi.
POPT Kecamatan Kramatmulya dari UPTD Brigade Proteksi, Anas Nasrudin, menjelaskan bahwa langkah pengendalian terpadu sangat penting untuk memutus siklus penyebaran penyakit.
“Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, diperlukan gerakan pengendalian di Desa Cikaso agar penyebaran penyakit tungro dapat ditekan dan produktivitas padi tetap terjaga,” ujarnya.
Pada pelaksanaan Gerdal tersebut, Kepala Diskatan Kuningan Wahyu Hidayah turun langsung ke sawah bersama petani. Selain memberikan penyuluhan teknis, Wahyu juga ikut melakukan penyemprotan tanaman padi sebagai bentuk pendampingan dan pengawalan langsung dari pemerintah daerah.
“Pengendalian OPT harus dilakukan secara bersama-sama, tepat waktu, dan sesuai rekomendasi teknis. Kehadiran kami di lapangan untuk memastikan petani memahami dan menerapkan langkah pengendalian yang benar,” kata Wahyu.
Dalam kesempatan tersebut, Wahyu menyampaikan optimisme Diskatan Kuningan terhadap capaian produksi padi tahun 2026. Ia menargetkan surplus padi Kabupaten Kuningan meningkat menjadi 125.000 ton, dari capaian sebelumnya sekitar 120.000 ton.
Ia juga menjelaskan bahwa penyakit tungro disebabkan oleh virus yang ditularkan melalui serangga vektor wereng hijau. Gejala serangan antara lain daun menguning hingga oranye, pertumbuhan tanaman kerdil, jumlah anakan berkurang, serta malai pendek dan tidak terisi sempurna.
“Dampak penyakit tungro sangat serius. Jika tidak dikendalikan dengan baik, dapat menurunkan hasil panen secara signifikan bahkan berpotensi menyebabkan gagal panen. Karena itu, pengendalian harus dilakukan secara terpadu, mulai dari pengamatan rutin, pengendalian vektor, penggunaan varietas tahan penyakit, hingga pola tanam serempak,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Desa Cikaso Hidayat Noor menyampaikan apresiasi atas perhatian dan pendampingan yang diberikan Diskatan Kuningan kepada para petani.
“Kami sangat berterima kasih atas kehadiran dan pendampingan Diskatan Kuningan. Semoga kolaborasi ini terus berlanjut demi kemajuan pertanian dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Desa Cikaso,” ungkapnya.
Melalui gerak cepat pengendalian OPT dan pendampingan berkelanjutan kepada petani, Diskatan Kuningan optimistis produksi padi daerah tetap terjaga dan menjadi fondasi kuat menuju ketahanan pangan serta target surplus padi Kabupaten Kuningan tahun 2026. (Angga)










































































































Discussion about this post