INDRAMAYU, (FC). – Aksi unjuk rasa ribuan petani tambak di depan Pendopo Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Kamis (30/4), berlangsung tak biasa.
Massa yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Pesisir Indramayu (KOMPI) membawa tiga ekor biawak berukuran besar sebagai simbol kritik terhadap lingkungan birokrasi di lingkaran pendopo.
Aksi ini merupakan demonstrasi jilid kedua sebagai bentuk penolakan terhadap proyek revitalisasi tambak di kawasan Pantai Utara (Pantura) yang masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN).
Dalam aksi itu, para pendemo menggelar istigasah sebagai doa bersama, memohon perlindungan dan keadilan bagi masyarakat pesisir yang terdampak. Selain itu, mereka juga menandatangani petisi sebagai wujud penolakan terhadap proyek tersebut.
Koordinator Umum KOMPI, Hatta, menegaskan tuntutan utama massa tetap sama, yakni meminta pemerintah membatalkan proyek revitalisasi tambak di wilayah Indramayu.
Ia menilai tidak ada ruang kompromi karena kebijakan tersebut dianggap merugikan masyarakat pesisir.
“Tuntutan demo kita masih tetap seperti dahulu, batalkan revitalisasi tambak Pantura di wilayah Kabupaten Indramayu. Tidak ada kata lain kecuali batalkan. Kami masyarakat tambak menolak revitalisasi tambak di wilayah Pantura Indramayu,” tegasnya.
Hatta menjelaskan, penolakan tersebut didasari kekhawatiran hilangnya mata pencaharian masyarakat dalam jumlah besar jika proyek tetap dijalankan.
Menurutnya, ratusan ribu warga pesisir berpotensi terdampak langsung oleh kebijakan tersebut.
“Karena itu jelas-jelas akan merugikan kami, akan menghilangkan ruang hidup kami, khususnya masyarakat pesisir Indramayu yang jumlahnya ratusan ribu orang kalau itu terdampak,” jelasnya.
Lebih lanjut, Hatta mengungkapkan bahwa aksi membawa biawak merupakan bentuk simbolis sekaligus sindiran kepada pemerintah daerah.
Simbol tersebut ditujukan sebagai pengingat bagi Bupati Indramayu agar berhati-hati terhadap lingkungan di sekitarnya.
“Itu sebagai bentuk apresiasi sekaligus simbol kepada Bupati sebagai pengingat bahwa hati-hati di lingkaran pendopo itu banyak sekali penjilat. Biawak itu lidahnya panjang, kami contohkan seperti orang yang menjilat untuk kepentingan golongan dan kelompoknya masing-masing,” ungkapnya.
Hatta menyebut, dalam aksi tersebut Bupati Indramayu, Lucky Hakim, tidak menemui massa secara langsung.
Namun, perwakilan pemerintah daerah tetap menerima aspirasi para demonstran melalui aparat yang ditugaskan di lokasi.
“Tadi tidak, dan kami juga tidak berharap harus ditemui Bupati. Yang penting aspirasi kita tersalurkan,” kata Hatta.
Meski demikian, Hatta berharap Bupati tetap berpihak kepada masyarakat pesisir dan berani mengambil sikap tegas dalam menyikapi polemik revitalisasi tambak.
“Harapan kita Bupati tetap ada di belakang kita, pasang badan buat rakyatnya, jangan takut dipenjara, kami ada di belakang Bupati,” ujarnya. (Agus Sugianto)










































































































Discussion about this post