KOTA CIREBON, (FC).- Menguatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat hingga menyentuh kisaran Rp18.000 tidak hanya menjadi sorotan pelaku ekonomi dan investor, tetapi juga berdampak pada dinamika sosial di Kota Cirebon, khususnya terkait minat warga untuk bekerja di luar negeri sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI).
Di tengah kondisi lapangan kerja yang masih terbatas serta tekanan kebutuhan ekonomi keluarga, bekerja di luar negeri kembali dipandang sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan kesejahteraan.
Sejumlah negara tujuan seperti Malaysia, Taiwan, Singapura, hingga Hong Kong masih menjadi pilihan utama warga Cirebon yang ingin merantau untuk bekerja.
Data Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Cirebon mencatat hingga Mei 2026, terdapat 132 warga yang telah resmi mendaftarkan diri sebagai calon PMI. Angka ini menunjukkan minat masyarakat untuk bekerja di luar negeri masih cukup tinggi.
Pengantar Kerja Ahli Pertama Disnaker Kota Cirebon, Dinul Muarif menjelaskan Malaysia masih menempati posisi teratas sebagai negara tujuan favorit. Dari total pendaftar, sebanyak 42 orang memilih Malaysia sebagai tujuan kerja.
Sementara itu, Taiwan berada di urutan kedua dengan 40 orang calon PMI, disusul Singapura sebanyak 22 orang, serta Hong Kong sebanyak 15 orang.
“Berdasarkan data sampai Mei 2026, jumlah pendaftar calon PMI ada 132 orang. Paling banyak masih ke Malaysia, kemudian Taiwan, Singapura, dan Hong Kong,” ujar Dinul, Senin (8/6).
Ia menambahkan, sebagian besar PMI asal Kota Cirebon didominasi oleh perempuan yang bekerja di sektor informal, seperti asisten rumah tangga dan pekerjaan jasa lainnya.
Kelompok ini umumnya berada pada rentang usia di atas 30 tahun, termasuk mereka yang sudah berkeluarga dan menghadapi keterbatasan kesempatan kerja di dalam negeri.
Dari sisi sebaran wilayah, Kecamatan Lemahwungkuk tercatat sebagai penyumbang calon PMI terbanyak dengan 39 orang. Angka tersebut tersebar di beberapa kelurahan, terutama Pegambiran dan Kasepuhan.
Posisi berikutnya ditempati Kecamatan Harjamukti dengan 36 orang, Kecamatan Kejaksan sebanyak 26 orang, Kecamatan Kesambi 19 orang, serta Kecamatan Pekalipan dengan 12 orang.
Fenomena meningkatnya minat bekerja ke luar negeri ini turut dipengaruhi oleh kondisi ekonomi global, termasuk penguatan nilai tukar dolar yang memberikan dampak positif bagi pendapatan para PMI ketika dikonversi ke rupiah.
Dinul menyebut, naiknya kurs dolar memberikan keuntungan tersendiri bagi para pekerja migran yang sudah lebih dulu bekerja di luar negeri. Penghasilan yang mereka terima menjadi lebih bernilai saat dikirim dan ditukarkan ke mata uang rupiah.
“Dampaknya memang terasa. PMI yang sudah bekerja di luar negeri mendapatkan nilai lebih ketika penghasilannya dikonversi ke rupiah,” jelasnya.
Kondisi tersebut juga membuat PMI kerap disebut sebagai pahlawan devisa, karena kontribusi mereka tidak hanya membantu ekonomi keluarga di daerah asal, tetapi juga berperan dalam pemasukan devisa negara.
Ia bahkan menyebut, di media sosial para PMI kerap mengekspresikan harapan agar nilai dolar tetap tinggi karena berpengaruh langsung terhadap pendapatan yang mereka terima di tanah air.
Selain berdampak pada pekerja migran, penguatan dolar juga ikut memengaruhi penerimaan daerah, khususnya dari sektor Dana Kompensasi Penggunaan Tenaga Kerja Asing (DKPTKA).
Menurut Dinul, terdapat penyesuaian nilai retribusi seiring menguatnya kurs dolar. Jika sebelumnya kisaran penerimaan berada di angka Rp18 juta hingga Rp19 juta per tenaga kerja asing, kini meningkat menjadi sekitar Rp21 juta hingga Rp22 juta.
“Untuk retribusi TKA juga terdampak. Saat dolar naik, nilai yang masuk ke daerah ikut meningkat,” pungkasnya. (Agus)










































































































Discussion about this post