KAB.CIREBON, (FC).- Di tengah pesatnya pembangunan permukiman di Kabupaten Cirebon, masih ada warga yang harus bertahan hidup dalam kondisi memprihatinkan.
Salah satunya keluarga Kasiyati (36), warga Blok Karanganyar Wetan, Kelurahan Kemantren, Kecamatan Sumber, yang selama 15 tahun terakhir menghuni rumah reyot yang jauh dari standar kelayakan.
Rumah berdinding geribik bambu dan berlantai tanah itu menjadi tempat tinggal Kasiyati bersama suaminya, Suhadi (40), serta putra mereka yang kini duduk di bangku kelas VII SMP Negeri 3 Sumber.
Kondisi bangunan tampak rapuh. Sejumlah bagian rumah terlihat miring dan hanya ditopang batang bambu seadanya agar tidak roboh. Saat musim hujan tiba, keluarga tersebut harus menghadapi rembesan air yang masuk dari berbagai sisi bangunan.
“Kalau hujan deras, air masuk ke dalam rumah. Lantainya jadi becek karena masih tanah,” ujar Kasiyati saat ditemui, Rabu (10/6).
Keterbatasan ekonomi membuat keluarga itu belum mampu memperbaiki rumah yang ditempatinya. Suhadi yang bekerja sebagai kuli bangunan hanya memperoleh penghasilan tidak menentu, sehingga kebutuhan sehari-hari menjadi prioritas utama dibandingkan memperbaiki tempat tinggal.
Meski hidup dalam keterbatasan, Kasiyati tetap menyimpan harapan agar suatu saat keluarganya mendapat bantuan perbaikan rumah dari pemerintah. Namun harapan tersebut belum juga terwujud.
Menurutnya, selama bertahun-tahun dirinya telah beberapa kali mengikuti pendataan program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu). Namun hingga kini belum ada realisasi bantuan yang diterimanya.
“Kalau ada pendataan bantuan rumah saya selalu ikut sesuai prosedur, tetapi sampai sekarang belum pernah mendapatkan bantuan,” katanya.
Tak hanya soal rumah, Kasiyati juga mengaku belum pernah menerima bantuan sosial lainnya.
Bahkan untuk program BPJS Penerima Bantuan Iuran (PBI), hanya dirinya dan sang anak yang terdaftar sebagai penerima, sementara suaminya belum mendapatkan fasilitas jaminan kesehatan tersebut.
Kondisi keluarga Kasiyati juga mendapat perhatian warga sekitar. Tokoh masyarakat setempat, Karsiwan (58), menilai rumah tersebut sudah sangat layak masuk prioritas program bantuan perbaikan rumah tidak layak huni.
Menurutnya, tidak ada kendala terkait status kepemilikan lahan karena rumah tersebut berdiri di atas tanah milik pribadi keluarga Kasiyati.
“Rumahnya memang sudah lama dalam kondisi seperti itu. Kami sudah beberapa kali menyampaikan agar mendapatkan perhatian, tetapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut,” ujarnya.
Karsiwan berharap pemerintah daerah dapat segera turun tangan memberikan bantuan agar keluarga tersebut dapat menempati rumah yang lebih aman dan layak.
Di tengah berbagai program pembangunan yang terus berjalan, keluarga Kasiyati masih menunggu perhatian dan uluran bantuan.
Bagi mereka, rumah yang kokoh dan layak huni bukan sekadar tempat berteduh, melainkan harapan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik dan lebih aman di masa depan. (Johan)











































































































Discussion about this post