Oleh: Endang Kurnia
Direktur Madani Private Learning Indramayu
Puasa Ramadan yang semestinya menjadi ajang pengekangan diri dari hal-hal yang mubazir justru sering terjadi hal yang berkebalikan. Atas nama bulan Ramadan yang mulia, banyak di antara kita melakukan hal-hal yang sebenarnya dilarang oleh agama, yaitu berlebih-lebihan, termasuk dalam hal mengonsumsi asupan hidangan berbuka puasa. Fitrah daripada iftoh berbuka puasa itu bukanlah bebas untuk makan dan minum sebebas- bebasnya, tetapi makan dan minumlah sekadar untuk menghilangkan lapar haus dan tidak sampai makan melebihi batas hilangnya rasa lapar dan dahaga.
Dalam kaitan inilah spirit Ramadan menjadi hal yang sangat penting dan relevan untuk kembali dipelajari dalam madrasah Ramadan tahun ini, untuk menangkal dan menggugat keberadaan pasar yang cenderung zalim terhadap nilai-nilai kehidupan umat Islam yang sedang menjalankan ibadah puasa. Karena itu, bila yang tampak sekarang Ramadan identik dengan ramainya pasar dan tingginya tingkat konsumsi masyarakat, maka sesungguhnya hal itu tidak lepas dari spirit Ramadan yang didistorsikan oleh kekuatan ekonomi pasar. Maka, tidaklah mengherankan, jika bulan Puasa baru saja dimulai, maka yang dikampanyekan oleh pasar adalah sirup yang lezat, busana yang indah, kendaraan mudik yang nyaman, liburan Lebaran yang aduhai, kue-kue Lebaran, dan lain-lain. Jadi, ketika umat baru saja memasuki hari ke satu atau ke dua bulan Ramadan, yang terpikir di benaknya adalah menikmati kemewahan dan suasana Lebaran.
Semua bermunculan secara simultan di ruang maya maupun ruang nyata. Karena itu, menjadi hal yang jamak untuk dipahami jika pada minggu pertama bulan Puasa, hypermarket, supermarket, mal, dan toko-toko dan pasar menjadi lebih ramai dibandingkan dengan tempat ibadah shalat tarawih dan tempat tadarus Al- Qurían. Hal inilah yang menjadikan nilai keberagamaan dan nilai Ramadan menjadi terasa kering. Ibadah puasa Ramadan lebih cenderung bersifat rutinitas belaka, sehingga tidak menyentuh kehidupan umat yang sebenar-benarnya. Melihat persoalan yang demikian ini, maka sudah tiba waktunya untuk melakukan pembenahan kembali terhadap pemahaman tentang esensi dan substansi puasa Ramadan. Di tengah kepungan dan intervensi pasar yang sedemikian hebat ini, bagaimana umat Islam dapat menemukan dan membangun kembali spirit Ramadan yang telah luntur.
Kata kunci atas jawaban pertanyaan ini adalah menjadikan puasa sebagai madrasah rohaniyah yang bertujuan memajukan rohaniah manusia yang dengan mudah melakukan dosa, menjadi rohani yang resisten terhadap godaan-godaan duniawi. Hanya rohani-rohani yang cerdas yang akan mampu menjadikan puasa sebagai pendidikan rohaniahnya. Ketika Allah memerintahkan manusia untuk berpuasa, sesungguhnya Allah memerintahkan manusia agar bersekolah. Artinya, puasa dijadikan sebagai media pembelajaran atau bermadrasah, yaitu belajar menahan hawa nafsu, menahan berbagai bentuk keinginan yang berlebihan, dan mengendalikan diri dari segala keburukan, sehingga manusia terselamatkan dari kebodohan yang paling bodoh, yaitu kekufuran dan ketidakberimanan atas keagungan, ke-esa-an, dan kemuliaan Allah. Maka, agar tidak menjadi bodoh, diperintahkanlah manusia untuk berpuasa, karena puasa itu madrasah rohaniyah. Tujuan utama berpuasa yang sebenarnya adalah memberikan kesempatan kepada manusia untuk memperbaharui diri sekaligus menciptakan kehidupan yang lebih baik, sehingga mewujud kualitas takwa dalam kehidupannya.
Untuk mencapai tujuan tersebut, tidak ada jalan lain kecuali dengan menyekolahkan jiwa/rohaniyah, sehingga terwujud intelektualitas kejiwaan. Dengan intelektualitas ini manusia akan sanggup menerima kebenaran dan membenarkan ajaranajaran Allah, sehingga tergolong sebagai orang yang ulil albab. Orangorang ulil albab dan inilah yang dimaksud sebagai orang yang tataqun.
Puasa Humanis
Puasa Ramadan mempunyai dimensi sosial dan dimensi ketuhanan. Artinya, puasa tidak hanya mengajarkan manusia untuk menyembah dan berbakti kepada Allah. Puasa juga membawa ajaran untuk mengembangkan perilakuperilaku humanis yang bersifat horizontal. Puasa membawa juga ajaran untuk mengembangkan nilai keseimbangan rohaniah dan jasadiyah. Dengan kata lain puasa tidak hanya berdimensi ibadah vertikal (menyembah Allah), tapi juga mengajarkan bagaimana bersikap empatik terhadap derita orang miskin yang sering merasakan lapar karena kemiskinannya. Secara jasadiah puasa ëhanyalah’ amalan berupa menahan rasa lapar dan minum serta mengendalikan diri dari perilaku seksual dan perilaku- perilaku konsumtif yang cenderung serakah, dari sejak matahari terbit hingga matahari terbenam.
Pelajaran atau ibrah yang muncul dari puasa jasadiah ini adalah bagaimana rasanya lapar dan dahaga memengaruhi pola pikir dan pola perilaku seseorang, sehingga ada pengalaman secara langsung yang dirasakan. Orang yang mau berpikir akan menjadikan pengalaman ini sebagai landasan untuk mengembangkan perilaku empatik terhadap orang-orang miskin yang sering merasa lapar dan dahaga, karena kemelaratannya. Secara psikologis perilaku empatik yang muncul karena pengalaman langsung ini akan menghindarkan seseorang dari perilaku congkak, sombong, atau takabur. Sebaliknya, justru akan membawa seseorang pada perilaku syukur, konaíah, dan tawaduk, suka bersedekah, menjadi penyayang, dan tahu diri. Karena itulah, hanya orangorang yang seperti inilah yang sesunguhnya mempunyai hak dan bisa untuk bereuforia pada bulan mulia Ramadan ini, yaitu euforia spiritual yang tanpa batas dan tanpa penghalang.
Euforia Spiritual
Bulan Ramadan adalah saatnya kita melampiaskan euforia spiritual. Euforia yang kita lampiaskan adalah kegembiraan yang luar biasa karena pada bulan Ramadan ini kita difasilitasi Allah dengan segala kemudahan dan fasilitas untuk menemukan kesejatian diri sebagai hamba Allah yang berbahagia. Ramadan bukan menjadi ajang bagi manusia untuk bereuforia dalam makna suka-cita jasadiah dengan berperilaku berlebih-lebihan, baik dalam perilaku makan, minum, sandang, maupun bersosialitas terhadap sesama. Puasa bukanlah euforia sesaat, karena setan- setan dibelenggu, sehingga seakan-akan kita boleh berlaku dengan cara setan. Sebaliknya, puasa adalah saat-saat kita boleh berbahagia tanpa batas, karena pintupintu surga dibuka dan pintu- pintu neraka ditutup rapat. Namun, keterbukaan pintu-pintu surga dan ketertutupan pintu neraka tersebut tidak akan berarti apa-apa, jika kita melakukan puasa sebagai ritual ibadah yang tidak punya makna.***














































































































Discussion about this post