KAB.CIREBON, (FC).- Dewan Energi Nasional (DEN) menilai Cirebon Power layak menjadi role model pengelolaan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Indonesia.
Penilaian tersebut diberikan setelah tujuh anggota DEN melakukan kunjungan lapangan dan meninjau langsung operasional pembangkit pada Sabtu (13/6).
DEN mengapresiasi keberhasilan perusahaan dalam menjaga keandalan operasi pembangkit, menerapkan teknologi rendah karbon, serta menjalankan program lingkungan dan pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan.
Anggota DEN dari unsur pemangku kepentingan industri, Sripeni Inten Cahyani, mengatakan kunjungan tersebut bertujuan melihat secara langsung kondisi industri ketenagalistrikan nasional, khususnya terkait penyediaan energi yang andal dan berkelanjutan.
“Kami melihat salah satu contoh pengelolaan PLTU yang sangat baik, mulai dari pengelolaan batu bara hingga operasional pembangkitnya,” ujar Sripeni.
Mantan Pelaksana Tugas Direktur Utama PT PLN (Persero) itu menjelaskan, kualitas pengelolaan pembangkit dapat dilihat dari capaian indikator operasional.
Menurutnya, nilai Equivalent Availability Factor (EAF) yang berada di atas 85 persen dengan capacity factor sekitar 80 persen menunjukkan performa pembangkit yang sangat baik.
“Menurut saya itu sangat bagus. Pengelolaan batu baranya baik dan kondisi pembangkit juga bersih, padahal ini merupakan PLTU berbahan bakar batu bara,” katanya.
Selain aspek operasional, DEN juga menyoroti penerapan teknologi supercritical (SC) dan ultra super critical (USC) yang mampu meningkatkan efisiensi pembangkitan sekaligus menekan emisi karbon dibandingkan pembangkit konvensional.
Sripeni menilai Cirebon Power telah menunjukkan komitmen terhadap agenda transisi energi nasional.
Hal itu terlihat dari kajian penerapan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) serta peluang pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) pada lahan yang tersedia.
“Mereka sudah sangat concern terhadap isu lingkungan. Bahkan telah mempersiapkan kajian CCS dan peluang pengembangan PLTS,” ungkapnya.
Apresiasi juga diberikan terhadap program tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan yang dinilai berdampak langsung bagi masyarakat sekitar.
Berbagai program pemberdayaan UMKM, peningkatan kualitas pendidikan, pelatihan keterampilan, hingga rehabilitasi lingkungan menjadi bagian dari upaya membangun hubungan harmonis dengan masyarakat.
“Penerimaan masyarakat menjadi kunci keberlanjutan operasional perusahaan. Jika seluruh perusahaan pembangkit swasta dapat melakukan hal serupa, tentu akan sangat baik,” ujarnya.
Penilaian senada disampaikan anggota DEN lainnya, Muhammad Kholid Syeirazi. Menurutnya, Cirebon Power telah menunjukkan praktik terbaik dalam pengelolaan pembangkit berbahan bakar batu bara yang tetap berorientasi pada efisiensi dan pengurangan emisi.
“Saya mengapresiasi kinerja PLTU ultra super critical yang sangat maju dalam penerapan teknologi rendah karbon,” katanya.
Kholid menambahkan, keberadaan Cirebon Power memiliki peran penting dalam menjaga keandalan sistem kelistrikan Jawa-Madura-Bali (Jamali).
Ia juga menilai perusahaan konsisten menjalankan program keberlanjutan lingkungan, termasuk penanaman hampir 200 ribu pohon mangrove di kawasan pesisir.
“Saya kira ini salah satu role model PLTU dan pembangkit listrik secara umum yang layak dijadikan barometer,” tegasnya.
Meski pengembangan energi baru dan terbarukan terus didorong pemerintah, Kholid menegaskan PLTU masih memiliki peran strategis sebagai pembangkit beban dasar (base load) untuk menjaga stabilitas pasokan listrik nasional.
“PLTU masih menjadi tulang punggung elektrifikasi nasional. Namun, pengurangan emisi harus tetap menjadi prioritas melalui penerapan teknologi yang lebih ramah lingkungan,” katanya.
Sementara itu, Wakil Direktur Utama Cirebon Power, Joseph Pangalila, menyampaikan apresiasi atas masukan yang diberikan anggota DEN selama kunjungan berlangsung.
Menurut Joseph, salah satu isu yang menjadi perhatian dalam diskusi adalah menurunnya pasokan batu bara ke sejumlah pembangkit listrik.
Karena itu, pihaknya berharap masukan yang disampaikan dapat menjadi pertimbangan dalam penyusunan kebijakan energi nasional.
“Kami berharap berbagai hal yang kami sampaikan dapat menjadi bahan perbaikan kebijakan energi nasional, terutama terkait pasokan batu bara yang saat ini mengalami penurunan,” ujarnya.
Untuk menjaga keandalan operasional pembangkit, Cirebon Power terus memperkuat koordinasi dengan para pemasok batu bara sekaligus membuka peluang kerja sama dengan sumber pasokan baru guna memastikan kebutuhan energi tetap terpenuhi.
“Kami terus berdiskusi dengan para pemasok untuk meningkatkan pasokan batu bara dan membuka peluang suplai dari sumber lainnya,” pungkas Joseph. (Nawawi)











































































































Discussion about this post