KAB.CIREBON, (FC),- Harga beras di pasar tradisional Ciayumajakuning mulai mengalami lonjakan harga, faktor penyebab kenaikan salah satunya dipengaruhi biaya produksi beras lokal yang meningkat dan kesulitan mendapatkan gabah.
Hal itu disampaikan oleh salah satu pengusaha beras lokal asal Kecamatan Gegesik, Kabupaten Cirebon, Surnita Sandi Wiranata, ia menuturkan biaya produksi beras di Ciayumajakuning khususnya di Kabupaten Cirebon memang telah meningkat.
Hal ini juga menjadi penting untuk memastikan para petani mendapatkan keuntungan yang layak dari hasil pertanian mereka.
Harga gabah yang diterima petani cenderung menurun dari Harga Pembelian Pemerintah (HPP), selain itu faktor harga tengkulak atau pengusaha rental alat pertanian combine harvester (alat pemotong dan perontok padi) juga turut andil menjadi penyebabnya kenaikan.
“Kalau kita perhatikan memang betul harga beras saat ini naik, tapi memang biaya produksinya juga sudah tinggi biaya operasional,biaya sewa mesin dan pupuk jadi ketika panen hasilnya itu langsung diserap oleh pemilik mesin combine yang mayoritas asal jawa jadi tiap musim panen itu selalu berebut sehingga produk lokal tidak dapat barang (gabah)” ujar Sandi yang juga sebagai Akademisi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMC ini. Senin (16/6)
Sandi menambahkan, petani lokal khususnya di Kabupaten Cirebon selalu merasa dilema karena hasil panen mereka banyak terserap dari pengusaha – pengusaha asal jawa, hal itu disebabkan para petani telah merasa banyak dibantu, mulai dari proses tanam,hingga menjelang musim panen.
“Petani merasa di bantu terutama akses permodalan untuk pupuk dan perawatan padi selama musim tanam kedua mereka akan di fasilitasi mesin panen (Combine Harvester), jadi biaya produksi jelas sangat tinggi sedangkan harga padi cenderung dinilai terlalu murah praktik – praktik itu yang tidak bisa dihindarkan oleh petani” ucapnya.
Selain praktik tengkulak pemilik mesin combine, Sandi juga menyebut faktor cuaca sekarang turut berpengaruh dalam masa tanam,cuaca yang cenderung berubah – berubah sangat berdampak terhadap kualitas padi.
“Faktor cuaca juga menjadi penyebab hasil panen menurun harusnya sekarang sudah memasuki musim kemarau tetapi masih sering terjadi hujan dengan intensitas tinggi itu sangat berpengaruh ke pertumbuhan padi dulu biasanya yang 1 hektar bisa menghasilkan padi 6 ton,tetapi sekarang hanya mampu 5,5 ton otomatis mengurangi hasil panen dan berdampak kepada kelangkaan bahan” tuturnya
Untuk tanaman pangan saat ini berada pada posisi yang baik, mencerminkan kondisi yang menguntungkan bagi para petani. Namun, pemerintah perlu memastikan konsumen juga dapat mengakses beras dengan harga yang terjangkau dan berkualitas.
Pemerintah harus hadir di tengah-tengah. Petani mendapatkan harga bagus, kemudian di konsumen, juga masyarakat konsumen dapat mengakses beras dengan harga yang terjangkau dengan kualitas yang baik.
“Salah satu solusi untuk mengatasi masalah harga ini adalah dengan meningkatkan kualitas benih agar produktivitas lahan pertanian meningkat, yang pada gilirannya dapat menstabilkan harga beras. Efisiensi dalam mata rantai produksi juga perlu diperhatikan agar petani mendapatkan hasil yang lebih baik” pungkasnya.
Sebelumnya, Harga beras di pasar tradisional di Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Cirebon merangkak naik. Kenaikan harga beras ini pun dikeluhkan oleh sejumlah pedagang, mengingat menurunnya permintaan dari konsumen
Pemilik kios beras Munir Jaya di Pasar Indramayu, Anas menyebutkan, harga beras kualitas medium saat ini berada di kisaran Rp12.500–Rp13.500 per kilogram. Harga tersebut berbeda tergantung kualitas berasnya.
Sedangkan harga beras premium, lanjut Jana, berada di kisaran Rp14 ribu per kilogram, Rp14.500 per kilogram, dan Rp15 ribu per kilogram. Semakin bagus kualitas berasnya, maka semakin mahal harganya. (Johan)
















































































































Discussion about this post