MAJALENGKA, (FC).- Miris sekali bagi dunia pendidikan yang ada di wilayah Kecamatan Kertajati, tepatnya di SDN Kertasari 3 Kecamatan Kertajati Kabupaten Majalengka karena pada tahun ajaran baru 2025 – 2026 ini, tidak mendapatkan murid baru. Bahkan total murid di sekolah ini pun semuanya hanya berjumlah 18 siswa, karena ada sejumlah kelas tidak ada muridnya alias kosong.
Menurut keterangan Ketua Kelompok Kepala Sekolah ( K3S ) Kecamatan Kertajati Ikin Asikin, untuk tahun ajaran baru 2025 – 2026 , SDN Kertasari 3 , tidak membuka pendaftaran murid baru, karena kalaupun di paksakan membuka pendaftaran murid baru , dipastikan orang tua murid tidak akan mau mendaftarkan anaknya ke sekolah ini , untuk itu untuk tahun ajaran baru 2025 ini tidak membuka pendaftaran murid baru .
Sementara itu kepala sekolah SDN kertasari 3 Sofia Widawaty , dalam keterangannya menegaskan hingga saat ini jumlah muridnya ada 18 siswa dimana sebelumya ada 19 siswa, satu murid yang naik ke kelas V pindah sekolah ke desa lain, untuk kelas I sendiri kosong , kelas II ada 3 murid, kelas III ada 4 murid, kelas IV hanya 3 murid, dan kelas V kosong dan kelas VI cuma ada 8 murid .
Minimnya jumlah siswa bukan hal baru bagi SDN Kertasari 3. Setiap tahun ajaran baru, pihak sekolah selalu kesulitan menjaring murid. Tahun ini misalnya, belum ada satu siswa baru yang mendaftar. Sebagian besar orang tua lebih memilih menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah yang letaknya lebih dekat atau yang memiliki jumlah murid lebih banyak. Padahal, secara fasilitas, SDN Kertasari 3 tergolong memadai. Bangunan sekolah ini baru dibangun pada 2017 sebagai bagian dari relokasi dari lokasi bangunan lama akibat proyek pengembangan Bandara Kertajati.
Sekolah ini memiliki sepuluh ruang kelas yang masih layak pakai. Sayangnya, lokasi sekolah yang terpencil, sekitar 500 meter dari permukiman warga dan berada di tengah sawah, menjadi alasan utama masyarakat enggan menyekolahkan anaknya di sana.
“Jauh, dan di tengah sawah, begitu alasannya para orang tua dan anak,” ungkap Sofia Midawaty.
Selain masalah jumlah murid, sekolah ini juga menghadapi keterbatasan tenaga pengajar. Saat ini, SDN Kertasari 3 hanya memiliki dua guru, yaitu satu guru berstatus PNS yang akan pensiun pada Juli 2025, dan satu guru honorer. Kegiatan belajar mengajar pun digabung dalam satu ruang kelas karena keterbatasan tenaga pengajar, meski sebenarnya ruang kelas tersedia cukup banyak.
“Saat ini kegiatan belajar mengajar kami satukan di satu ruang, walaupun sebenarnya kami punya sepuluh ruang kelas yang layak pakai,” tambah Sofia.
Kini, pihak sekolah hanya bisa berharap adanya perhatian dari pemerintah maupun masyarakat sekitar. Dukungan tersebut sangat dibutuhkan agar sekolah ini tetap bisa bertahan dan tidak hanya menjadi bangunan kosong di tengah sawah. SDN Kertasari 3 menjadi cerminan tantangan pendidikan di daerah terpencil meskipun memiliki infrastruktur memadai, tetapi tetap sulit berkembang karena faktor geografis dan keterbatasan sumber daya manusia. (Munadi)











































































































Discussion about this post