Oleh: Wahyudi, S.Pd
Merujuk hasil survei UNICEF terhadap 4.018 responden yang tersebar di seluruh Indonesia tentang tantangan selama belajar di rumah; 38% responden menyatakan kurang bimbingan dari guru, 35% akses internet tidak lancar, 7% tidak punya gawai yang memadai, 4% tidak bisa mengakses aplikasi daring, 3% kurang dampingan orangtua, dan sisanya sebanyak 13% dengan jawaban beragam atau lain-lain (Media Indonesia, 16/6/2020.
Hasil survay tersebut menunjukan bahwa kurangnya bimbingan guru kepada siswa selama belajar di rumah menjadi tantangan tertinggi. Ditambah kesulitan akses internet oleh siswa selama belajar di rumah. Pada persoalan pertama, selama belajar di rumah memang pengaruh atau otoritas guru terhadap proses pembelajaran siswa menjadi berkurang. Dampak dari metode pembelajaran jarak jauh (PPJ) memang demikian. Artinya orangtua di rumah sangat penting perannya sebagai kepanjangan tangan guru dalam menyampaikan materi-materi sekolah.
Namun sayangnya, sebagaimana hasil survay diatas justru yang juga menjadi kendala adalah kurangnya pendampingan orangtua terhadap anak selama belajar di rumah.
Paradigma kita selama ini yang menganggap pendidikan anak sepenuhnya diserahkan ke persekolahan turut membuat kaget orangtua ketika kenyataan anak harus belajar di rumah. Orangtua praksis ‘kelabakan’. Padahal sejatinya persekolahan bukanlah satu-satunya pendidikan yang berpengaruh atas tumbuh kembang anak. Persekolahan hanyalah satu faktor bagi tumbuh kembang pendidikan anak. Tentunya banyak faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang anak.
Pendemi covid-19 seharusnya menjadi kesempatan bagi kita orangtua untuk merubah paradigma bahwa orangtua menjadi ‘guru utama’ bagi pendidikan dan tumbuh kembang anak. Orangtua dalam menjalankan peran ‘guru utama’ di rumah tidak musti mengikuti cara guru sekolah memberikan pelajaran ke siswa. Jika sekolah identik dengan pelajaran yang sifatnya konsep dan tekstual (karena keterbatasan waktu dan lainnya). Maka orangtua di rumah punya kesempatan memberikan pendidikan kepada anak tidak hanya penanaman konsep-tekstual, tetapi juga pembelajaran berbasis pengalaman kepada anaknya. Pembelajaran berbasis pengalaman adalah tahap pembelajaran untuk anak lebih memaknai,mendalami, menghayati dan menerapkan konsep-konsep teori yang diajarkan.
Artinya orangtua tidak perlu setres seakan akan cara memberikan pendidikan pada anak sebagaimana cara yang dilakukan oleh guru di sekolah. Orangtua punya kreatifitas dan kedekatan emosional unik dengan anaknya sehingga tentu akan terwujud model belajar unik di rumah selama pendemi ini.
Memang tidak muda dan tidak semua orangtua bisa atau punya waktu menjadi kepanjangan tangan guru selama anak belajar di rumah. Artinya tidak semua orangtua mampu mendampingi anaknya untuk membantu memahami materi pelajaran sekolah selama belajar di rumah.
Dalam situasi seperti ini artinya orangtua pun dituntut untuk membantu anak memahami materi sekolah. Sehingga orangtua tidak hanya menjadi ‘role model’ teladan praksis bagi anaknya, tetapi juga menjadi agen ilmu pengetahuan seputar materi sekolah.
Memang tidak muda ditengah kondisi seperti ini, ditambah persoalan kesibukan atau bahkan kesulitan ekonomi yang banyak dirasakan orang saat ini. Artinya orangtua tidak hanya terbebani masalah pendidikan anaknya, tetapi juga terbebani oleh masalah ekonomi yang saat ini nyatanya sedang sulit.
Sebenarnya, dalam kondisi sulit atau tidak. Syogiyanya masalah orangtua menjadi ‘guru utama’ bagi anaknya selama belajar di rumah adalah masalah kebiasaan. Sesulit apapun kondisi, jika sudah terbiasa maka tidak lagi jadi kendala. Itulah hikmah pendemi ini, menuntut semua orang untuk masuk dalam kebiasaan baru. Yakni kebiasaan orangtua menjadi ‘guru utama’ di rumah. Paradigma pendidikan sepenuhnya dilakukan oleh persekolahan bukan tidak mungkin akan mengikis dalam paradigma masyarakat kita. Pendidikan keluarga menajdi paradigma yang perlu diperkuat. Pun harus diiringi pembangunan kualitas sosial masyarakat yang maju dan modern.
Pendemi ini juga memiliki pesan hikma agar bagaimana masalah komunikasi guru dengan orangtua dikonstruksi kembali. Masalah komunikasi yang tidak baik antara guru dengan orangtua menjadi masalah pendidikan yang seharusnya diselesaikan semua pihak terkait: manajemen sekolah, guru dan orangtua.
Jika komunikasi guru dengan orangtua berjalan dengan baik maka bisa dipastikan proses pembelajaran jarak jauh seperti sekarang tidak akan menemukan kendala yang berarti. Disini orangtua akan bisa menjadi media atau prantara guru dengan siswa dalam proses pembelajaran, artinya orangtua menjadi optimal membantu anaknya belajar di rumah.
Guru dan manjemen sekolah memang dituntut untuk memperbaiki kualitas komunikasi dengan orangtua. Apalagi diera teknologi komunikasi dan informasi seperti saat ini memudahkan terjadinya kegiatan komunikasi.
Atas masalah itu, tak ada gunanya pula jika justru yang menjadi kendala besar adalah kesulitan akses internet. Internet akhirnya menjadi nadi yang sangat penting adanya. Infrastruktur digital dan akses internet harus dibangun dan difasilitasi dengan baik. Pemerintah sejatinya punya tanggungjawab ini untuk membangun infrastruktur internet ini. Baik bagi siswa, guru dan sekolah. Tidak sedikit sekolah, guru dan siswa yang menghadapi kendala internet. Terutama di daerah-daerah, bahkan daerah plosok.
Memang sudah saatnya dunia pendidikan menjadi embrio bagi lahirnya model masyarakat digital. Digitalisasi pendidikan menjadi keharusan, internet kini menjadi kebutuhan dasar yang sama pentingnya dengan kebutuhan pangan dan energi.
Semua anak bangsa dari sabang sampai Merauke berhak dan harus dipenuhi hak digital internetnya. Sekolah dan dunia pendidikan sudah saatnya membiasakan internet dan digital dalam proses belajar siswa di sekolah.
Pendemi covid-19 telah memaksa reformasi dan rekonstruksi dunia pendidikan nasional. Cara-cara atau praktik konvensional dalam dunia pendidikan yang saat ini masih marak dipaksa untuk berubah. Itulah perubahan zaman yang mensicayakan pendididikan harus mampu beradaptasi dengan perubahan zaman yang cepat dan terjadi terus menerus.













































































































Discussion about this post