KAB. CIREBON, (FC).- Jalan menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Gunung Santri, Kabupaten Cirebon kondisinya sangat memprihatikan. Sepanjang jalan tersebut penuh dengan lobang dan bergelombang.
Padahal, Pemkab Cirebon menjanjikan kelayakan infrastruktur jalan bagi masyarakat setempat.
Menurut salah seoerang warga blok Gunung Santri, Hasan (58) kepada FC mengatakan, jalan tersebut merupakan satu-satunya akses menuju ke TPA Gunung Santri yang sudah lama tidak diperbaiki.
Ia memperkirakan, kerusakan jalan tersebut sudah terjadi 4 sampai 5 tahun terakhir. “Setahu saya, ya sekitar empat atau lima tahunan, pihak Binamarga (PUPR) belum memperbaikinya lagi,” kata Hasan, Selasa (28/9).
Hal senada juga disampaikan Erlina, warga di Blok Gunung Santri. Seingatnya, kerusakan jalan tersebut sudah terjadi sejak ia memiliki sepeda motor baru pada lima tahun yang lalu.
“Seingat saya, waktu saya baru beli motor ini, jalan sudah rusak,” kata Erlina.
Kendati demikian, ia memuji langkah Pemkab Cirebon yang telah memberikan kompensasi berupa jaminan kesehatan, PJU dan lainnya kepada warga Desa Kepuh, terutama yang ada di Blok Gunung Santri.
Terlebih, saat ini masyarakat Gunung Santri juga sudah menyatu dengan keberadaan TPA tersebut. Karena, Pemkab Cirebon telah memberdayakan dengan mempekerjakan mereka di sekitar TPA.
“Menurut saya sih Pemkab Cirebon sudah bagus, tapi jalannya belum bagus,” ujarnya.
Di tempat terpisah, aparat Desa Kepuh, Nono Haryono mengatakan, keluhan masyarakat saat ini hanya pada kondisi jalan saja. Masyarakat meminta perbaikan jalan dilakukan dengan cara betonisasi.
Pasalnya, kondisi jalan tersebut tanahnya labil. Ia menjelaskan, keinginan masyarakat tersebut sebenarnya sudah direspon Pemkab Cirebon melalui dins terkait.
Pihak dinas bahkan sudah meninjau lokasi dan melakukan pengukuran. “Rencananya yang akan dicor itu dari Blok Mirok sampai jembatan sungai Cogreg saja, jadi tidak semuanya,” ujar Nono.
Menurut Nono, molornya rencana betonisasi jalan tersebut ditengarai akibat adanya pandemi Covid-19.
Hal itu, lantaran anggaran di berbagai sektor mengalami refocusing. “Kami juga menyadari, kami tidak menyalahkan pemerintah karena semua anggaran kan terkena refocusing,” kata Nono.
Namun, Mandor desa tersebut menampik tudingan yang menyebut jalan tersebut tidak ada perbaikan selama 4 sampai 5 tahun.
Menurutnya, perbaikan selalu dilakukan Pemkab Cirebon meskipun dengan cara bertahap. Sehingga, kondisi jalan selalu terlihat ada yang rusak dan ada yang sudah baik. (Ghofar)















































































































Discussion about this post