KUNINGAN, (FC).- Program Kampung Ramadhan yang digagas Karang Taruna Nirwana Silebu, Desa Silebu, Kecamatan Pancalang, Kabupaten Kuningan, telah memasuki tahun ke-9 pelaksanaan.
Kegiatan berbasis komunitas tersebut dinilai berhasil menghidupkan alun-alun desa sebagai pusat ekonomi, budaya, dan aktivitas religius masyarakat selama bulan suci.
Sekretaris Umum Karang Taruna Nirwana Silebu periode 2017-2020 dan 2020-2026, Yayat Hidayatulloh, menyebutkan bahwa inisiatif pemuda desa ini lahir dari kesadaran untuk memaksimalkan fungsi ruang publik tanpa harus menunggu realisasi kebijakan pemerintah.
Setiap tahun, sekitar 80 lapak UMKM dan pedagang kaki lima mengisi alun-alun desa. Selain aktivitas ekonomi, panitia juga menyelenggarakan kajian keagamaan, lomba Islami, santunan sosial, serta berbagai kegiatan kemasyarakatan yang dirancang untuk menarik partisipasi warga.
“Alun-alun desa tidak akan hidup hanya karena ditata secara fisik. Ia hidup karena ada aktivitas, partisipasi, dan interaksi sosial di dalamnya,” tulis Yayat.
Dari sisi ekonomi, kegiatan ini dinilai memberikan dampak signifikan. Dengan asumsi rata-rata omzet Rp500 ribu per lapak per hari, potensi perputaran uang mencapai sekitar Rp40 juta per hari atau sekitar Rp1,2 miliar selama satu bulan pelaksanaan Ramadhan.
Yayat menilai, apa yang dilakukan pemuda Silebu sejatinya selaras dengan visi Program NATADAYA Pemerintah Kabupaten Kuningan yang bertujuan menjadikan alun-alun desa sebagai pusat ekonomi, wisata, dan budaya.
Namun hingga satu tahun pemerintahan Bupati Kuningan, Dian Rachmat Yanuar, implementasi program tersebut dinilai belum terlihat signifikan di tingkat desa
“Secara substansi, Kampung Ramadhan telah mempraktikkan tiga pilar NATADAYA yaitu ekonomi bergerak, budaya dan religiusitas hidup, serta daya tarik kunjungan meningkat. Pertanyaannya, apakah pemuda sedang mendahului kebijakan?” tulisnya.
Desa Silebu sendiri memiliki tujuh pondok pesantren dan situs peninggalan sejarah Hindu-Buddha yang menjadi modal sosial dalam membangun ruang publik berbasis komunitas. Kolaborasi antara karang taruna, lembaga desa, dan unsur masyarakat dinilai menjadi kunci keberlanjutan program tersebut.
Yayat berharap pemerintah daerah dapat melihat praktik di Silebu sebagai model pembangunan berbasis komunitas atau community-driven development.
Menurutnya, NATADAYA membutuhkan energi masyarakat, sementara gerakan pemuda memerlukan dukungan kebijakan yang lebih sistematis.
“Jika kolaborasi ini terwujud, bukan mustahil alun-alun desa di Kabupaten Kuningan benar-benar menjadi pusat ekonomi, wisata, dan budaya seperti yang dicita-citakan,” pungkasnya.
Desa Silebu telah memberi contoh implementasi di tingkat desa. Kini publik menunggu langkah konkret pemerintah daerah untuk menyelaraskan kebijakan dengan gerakan sosial yang telah lebih dulu berjalan.(Angga)

















































































































Discussion about this post