Sam menginginkan masyarakat itu beranggapan bahwa pengembangan hidroponik ini sebagai usaha atau bisnis yang dapat dipertanggung jawabkan kedepannya dan dapat dikembangkan.
“Kalau mengandalkan dari bantuan atau gratis, khawatirnya tidak akan adanya tanggung jawab atau konsekuen dari pihak-pihak yang memang seharusnya bertanggung jawab,” ungkapnya.
Dengan begitu, lanjut Sam usaha pun tidak akan mudah bangkrut. Dalam pantauannya pada hari ini pun, ia melihat terdapat potensi besar agar dapat sukses menjalankan program pengembangan hidroponik ini.
Karena, dengan metode hidroponik ini akan memberikan keuntungan dari segi waktu, yang dalam 20 hari dapat panen.
“Saya melihat Kuwu nya sangat bagus, BUMDesnya pun aktif. Jadi, sangat memungkinkan atau berpeluang untuk pengembangan hidroponik ini berjalan baik,” kata Sam.
Maka nantinya, akan ada percobaan dengan penanaman kangkung menggunakan metode hidroponik dan ketika berhasil maka akan berlanjut dengan tanaman-tanaman lainnya.
Adapun, permasalahannya yang menjadi kekhawatiran warga desa adalah harga yang jual sayur yang pastinya akan lebih tinggi dari pasar umum.
“Masalah harga yang lebih tinggi dari pasar. Sayur mayur ini bisa dijual ke kota dan dijual ke supermarket-supermarket, yang tentunya targetnya adalah kelas menengah keatas,” ujar Sam.
Sebab, masyarakat kota yang notabennya kelas menengah keatas itu mayoritas mengutamakan kualitas dibanding harga. Sehingga, akan memudahkan pemasaran.
“Hanya tinggal memutuskan dan menjalin kerja sama dengan supermarket terkait, mulai dari berapa kebutuhan sayur mayurnya, harga, jenis sayur mayur yang dibutuhkan oleh supermarket tersebut,” tegasnya.
Adapun harapan Sam sendiri bahwa program ini dapat berjalan lancara sehingga, perekonomian warga Desa Sampiran dapat merangkak naik. (Sarrah/Job/FC)
















































































































Discussion about this post