KOTA CIREBON, (FC).- Kalangan pengembang perumahan di Cirebon meminta pemerintah melakukan penyesuaian harga jual rumah subsidi tahun 2022.
Sebab, harga jual rumah subsidi saat ini masih mengacu harga yang ditetapkan pemerintah tahun 2019 sebesar Rp150.500.000.
“Kita harapkan tahun 2022 ada penyesuaian untuk harga FLPP,” kata Ketua Real Estate Indonesia (REI) Komisariat Cirebon, Gunadi kepada FC, Selasa (7/12).
Besaran harga saat ini, dinilai sudah tak sesuai beban biaya produksi yang meningkat akibat naiknya harga material bangunan. Ditambah lagi upah pekerja bangunan yang juga naik dalam 2 tahun terakhir.
“Semua orang tahu bahwa material akhir-akhir ini harganya luar biasa,” ujarnya
Gunadi menegaskan, tuntutan penyesuaian harga tak bisa dihindari demi keberlangsungan usaha pemenuhan kebutuhan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
Adapun berapa besar kenaikan harga yang diinginkan pengembang, hal itu disesuaikan besarnya kenaikan harga material bangunan.
“Berapa kenaikan material semen, besi, baja, dan juga berapa kenaikan upah,” tegasnya
Jika dari seluruh komponen produksi tersebut naik, namun harga jual rumah subsidi tak ada kenaikan di tahun 2022 nanti, Gunadi menilai hal tersebut tidak adil.
“Adilnya gimana, ya kita hitung proporsional saja. Kenaikan harga material tak bisa dipungkiri, semua orang tahu,”tegasnya.
Secara kelembagaan, lanjut Gunadi, REI Komisariat Cirebon mengusulkan penyesuaian harga jual rumah KPR FLPP tahun 2022 sebesar Rp172 juta.
Gunadi menambahkan, sektor properti memberikan kontribusi besar mendorong pemulihan ekonomi nasional.
Sektor properti memiliki multiplier-effect secara langsung maupun tak langsung terhadap puluhan sub sektor yang berkaitan. (Andriyana)















































































































Discussion about this post