KAB. CIREBON, (FC).- Pemerintah Desa (Pemdes) Mundupesisir, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon bekerjasama dengan dua BUMN melakukan penyulaman pohon mangrove sebanyak 5000 bibit pohon mangrove yang mati karena banyaknya sampah di kawasan wisata mangrove kasih sayang Desa Mundupesisir, Kamis (3/8).
Kuwu Desa Mundupesisir, H Khaerun kepada FC mengungkapkan, Pemdes Mundupesisir telah menyediakan sekitar 7 hektare untuk kawasan hutan mangrove, namun dari lokasi yang disediakan tersebut penanamannya masih belum maksimal.
Aku Kuwu Khaerun dengan adanya bantuan corporate social responsibility (CSR) dari dua perusahaan BUMN (PNM dan Waskita), pihaknya merasa terbantu untuk memaksimalkan kondisi hutan mangrove yang mengalami kematian untuk dilakukan penyulaman.
“Kemungkinan matinya beberapa hutan mangruve karena sampah, makanya kita sebelum melakulan penyulaman, kita bersama melaksanakan pembersihan sampah di sekitar pohon mangrove,” jelasnya.
Lanjut menurut Kuwu Khaerun, dari luas lahan mangrove 7 hektare, hampir seluruhnya sudah ditumbuhi mangrove dan hanya menyisakan beberapa titik, khususnya di pesisir pantai.
Pemberian berbagai CSR berupa mangrove sudah banyak diterima oleh pemerintah desa untuk membantu dalam peningkatan sarana dan prasarana menuju lokasi mangrove, jika dikelola dengan baik tentu saja wisata mangrove yang terkoneksi dengan muara Mundu ini bisa menjadi destinasi wisata unggulan di Kabupaten Cirebon.
“Kami berharap ke depan ada pengelolaan yang baik untuk menciptakan destinasi wisata unggulan di Kabupaten Cirebon,” harapnya.
Lanjut menurut Kuwu Khaerun, berbagai upaya sudah dilakukan pemerintah desa bersama kelompok masyarakat secara mandiri dan swadaya untuk memelihara kawasan wisata, salah satunya secara rutin melakukan bersih-bersih di kawasan wisata tersebut, hal itu dilakukan untuk menjadikan kawasan mangrove kasih sayang dilirik oleh para wisatawan.
“Kendala belum maksimalnya pengelolaan karena keterbatasan anggaran desa, hal itu membuat kawasan wisata mangrove ini belum banyak didatangi wisatawan,” paparnya. (Nawawi)















































































































Discussion about this post