MAJALENGKA, (FC).– Kabupaten Majalengka kembali menyimpan jejak masa lalu yang mengejutkan. Penemuan fosil stegodon di kawasan aliran Sungai Cilutung membuka kembali tabir sejarah purba yang diyakini pernah menyelimuti wilayah ini. Temuan tersebut diungkap Ketua Grumala, Nana Rohmana, yang akrab disapa Kang Naro.
Ia menjelaskan, fosil itu ditemukan oleh warga bernama Sudarja alias Vijay, seorang pencari batu unik suseki asal Cicenang, saat menyusuri kawasan Sungai Cilutung.
“Ini merupakan penemuan kedua fosil stegodon di kawasan Cilutung. Fosil tersebut kini kami simpan di Museum Alit Grumala di Gedung Juang Majalengka sebagai bahan edukasi sejarah dan arkeologi,” ujar Kang Naro, Senin (11/5).
Penemuan fosil purba itu bermula ketika Kang Naro mengunjungi rumah Ucu Supriatna di Perum Gunungsari Indah Kasokandel, Minggu, (10/5) kemain.
Dalam pertemuan tersebut, ia mendapat informasi mengenai penemuan fosil stegodon yang kemudian menarik perhatian komunitas sejarah dan geologi di Majalengka.
Menurut Kang Naro, kawasan Cilutung memang memiliki keterkaitan erat dengan sejarah geologi purba di Majalengka. Sebelumnya, pada 26 April bulan lalu, komunitas JAF menggelar kegiatan bertajuk “Zaroh Bumi” dengan mengunjungi sejumlah titik penelitian geologi dan arkeologi di wilayah Majalengka.
Kegiatan tersebut menghadirkan ahli geografi dari Bandung, Prof Titi Bachtiar, serta arkeolog dari Universitas Indonesia untuk meneliti batuan di kawasan Cilutung Babakan Jawa dan Curug Galatik di Desa Nunuk. Dari hasil kajian awal, Desa Nunuk disebut pernah menjadi bagian dari lautan purba. Di lokasi tersebut juga pernah ditemukan fosil taring hiu purba megalodon dan sejumlah gigi hewan darat lainnya.
Menurut Prof Titi Bachtiar, kondisi itu sangat memungkinkan karena wilayah Nunuk mengalami perubahan bentang alam dari laut purba menjadi rawa dan hutan terbuka setelah air laut menyusut ribuan tahun lalu.
“Lingkungan seperti itu menjadi habitat ideal bagi hewan besar seperti stegodon yang memiliki tubuh raksasa dan gading panjang,” kata Kang Naro menirukan penjelasan Prof Titi Bachtiar.
Fenomena serupa juga diyakini terjadi di sepanjang aliran Sungai Cilutung yang memiliki karakter kawasan bebatuan luas dan terhubung secara geologis dengan wilayah Nunuk. Tak hanya itu, catatan sejarah kolonial Belanda juga pernah menyebut sejumlah temuan fosil penting di Majalengka. Mulai dari taring megalodon di Rajagaluh, fosil hewan darat di Baribis, hingga berbagai temuan purba lainnya.
“Peneliti Belanda bahkan pernah menyebut Majalengka sebagai lumbung fosil karena banyaknya temuan benda purbakala dan fosil hewan purba di wilayah ini,” ungkap Kang Naro.
Saat ini, berbagai koleksi fosil seperti stegodon Cilutung, fosil satwa laut Baribis, Batujaya, hingga taring megalodon disimpan di Museum Alit Grumala, Gedung Juang Majalengka.
Museum tersebut kini menjadi salah satu pusat edukasi sejarah lokal yang kerap dikunjungi pelajar, mahasiswa, dosen, hingga peneliti dari BRIN atau Badan Riset dan Inovasi Nasional.
Selain fosil hewan purba, museum itu juga menyimpan kapak purba yang diyakini menjadi petunjuk awal keberadaan manusia purba di wilayah Majalengka pada masa lampau. Penemuan demi penemuan ini memperkuat dugaan bahwa Majalengka bukan sekadar wilayah agraris di Jawa Barat, melainkan kawasan yang menyimpan jejak penting kehidupan purba Nusantara. (Munadi)















































































































Discussion about this post