KOTA CIREBON, (FC).- Drainase atau selokan kecil di Wilayah Kalitanjung , Kelurahan/Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, dipenuhi relawan.
Mereka turun ke selokan tersebut untuk membersihkan berbagai material yang berada dalam selokan, dalam aksi lingkungan bertajuk ‘Run for Rivers’ yang digelar Sungai Watch, pada Selasa (12/5).
Sungai Watch adalah organisasi lingkungan nirlaba asal Bali yang fokus menghentikan sampah plastik masuk ke laut melalui pembersihan sungai, pemasangan penghalang sampah (trash barrier), edukasi dan pengelolaan limbah.
Organisasi ini didirikan pada tahun 2020 oleh kakak beradik Gary, Kelly, dan Sam Bencheghib.
Dalam kunjungannya ke Cirebon, Sungai Watch tengah menjalankan misi lingkungan bertajuk Run for Rivers dan tengah menempuh perjalanan dari Bali menuju Jakarta sejauh 1.200 kilometer.
Sejak kemarin, ketiganya lari dari Jawa Tengah hingga akhirnya tiba di Kota Cirebon.
Pantauan di lokasi, para relawan tampak memunguti tumpukan sampah dari dasar selokan menggunakan tangan dan alat penjepit. Sampah kemudian dimasukkan ke dalam karung jaring hijau yang terus menumpuk di pinggir jalan.
Botol plastik, bungkus makanan, styrofoam hingga botol kaca bekas minuman terlihat mendominasi sampah yang diangkat dari selokan tersebut.
Founder Sungai Watch, Sam Benchegib mengatakan, aksi tersebut merupakan bagian dari perjalanan kampanye penyelamatan sungai yang mereka lakukan dari Bali menuju Jakarta sejauh 1.200 kilometer.
“Ini lari untuk menjaga sungai di Indonesia. Sampai sekarang hampir semua sungai ada sampahnya,” ujar Sam, di sela kegiatan.
Menurutnya, sejak memasuki wilayah Jawa Barat, kondisi sungai yang dipenuhi sampah masih banyak ditemukan, terutama di kawasan Pantura.
“Semoga perjalanan ini bisa menginspirasi pemerintah dan masyarakat untuk membersihkan sungai,” ucapnya.
Sam mengaku terkesan dengan keterlibatan langsung aparat pemerintah dan masyarakat dalam aksi bersih-bersih tersebut.
“Yayasan Sungai Watch ini kecil, jadi harus kolaborasi dengan pemerintah dan komunitas. Kolaborasi ini akan sangat bagus,” jelas dia.
Ia menegaskan, persoalan sampah sungai bukan hanya masalah satu daerah, melainkan persoalan bersama yang harus diselesaikan secara gotong royong.
“Ini masalah kita bersama, jadi harus dipikirkan solusinya bersama juga,” katanya.
Sementara itu, Lurah Harjamukti Kota Cirebon, Beny mengatakan, kegiatan tersebut melibatkan berbagai unsur masyarakat hingga Dinas Lingkungan Hidup.
“Kegiatan hari ini dari organisasi lingkungan Sungai Watch dengan program ‘Jaga Sungai Kita’. Jadi kami bersama masyarakat, Dinas Lingkungan Hidup, pengurus RT dan RW semuanya terlibat turun ke lapangan,” ujar Beny.
Menurut Beny, tumpukan sampah di saluran tersebut diduga sudah lama mengendap karena merupakan titik akhir aliran pembuangan dari wilayah atas.
“Kalau dilihat dari titik ini kan ending saluran pembuangan dari arah atas. Mungkin ini sudah agak lama. Tapi memang plastik itu sifatnya diam saja, tidak hancur,” ucapnya.
Ia mengaku tergugah setelah melihat langsung kondisi selokan yang dipenuhi sampah rumah tangga.
“Kesan saya, saya tergugah. Karena menurut saya ini hal yang tidak biasa,” jelas dia.
Beny bahkan berencana menghidupkan kembali budaya kerja bakti rutin di lingkungan masyarakat Harjamukti.
“Insyaallah saya akan mengundang para RW dan tokoh masyarakat. Salah satunya menyisipkan agenda ini agar kerja bakti di kampung-kampung kembali intens,” katanya.
Dari hasil aksi bersih-bersih itu, total sampah yang berhasil diangkut mencapai 574,65 kilogram.
Karung-karung hijau berisi sampah kemudian ditumpuk di trotoar pinggir jalan sebelum dipindahkan petugas ke mobil truk agar tidak mengganggu arus lalu lintas di kawasan Kalitanjung. (Agus)















































































































Discussion about this post