KAB. CIREBON, (FC).- Sebanyak 331 kuda memeriahkan tradisi Ider-ideran Memayu Keramat Trusmi di Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon, Minggu (1/11).

Arak-arakan budaya tahunan tersebut juga menampilkan beragam atraksi, mulai dari tari Bebaksan, hasil bumi, iring-iringan lamaran hingga ogoh-ogoh raksasa yang menjadi pusat perhatian masyarakat.

Kuwu Desa Trusmi Wetan, Anidi, mengatakan Ider-ideran Keramat Trusmi bukan sekadar pertunjukan budaya, tetapi tradisi yang mengandung nilai sejarah, adat istiadat, dan pesan leluhur yang diwariskan secara turun-temurun.

Menurutnya, kegiatan tersebut memiliki dua manfaat penting, yakni menggerakkan perekonomian masyarakat sekaligus menjaga kelestarian budaya lokal.

“Arak-arakan atau Ider-ideran Keramat Trusmi ini sangat menggeliatkan, pertama dari segi ekonomi dan yang kedua terkait kelestarian adat yang memang sangat sakral,” ujarnya.

Anidi menjelaskan, pelaksanaan Ider-ideran tahun ini melibatkan sekitar 200 peserta dalam rangkaian iring-iringan. Sementara jumlah kuda yang turut ambil bagian mencapai 331 ekor.

Arak-arakan diawali dengan iring-iringan sesepuh keramat, kemudian dilanjutkan penampilan tari Bebaksan atau tari perjuangan, ogoh-ogoh, hasil bumi, hingga iring-iringan lamaran.

Dari berbagai atraksi tersebut, ogoh-ogoh menjadi salah satu penampilan yang menarik perhatian pengunjung. Meski demikian,

Anidi mengingatkan agar inovasi dalam penyelenggaraan tidak menghilangkan unsur tradisional yang menjadi pakem utama.

Ia menegaskan, tradisi tersebut juga mengandung pesan moral yang harus terus dijaga masyarakat, salah satunya larangan berkata kasar selama mengikuti arak-arakan.

“Sebenarnya leluhur kita ketika Ider-ideran itu berarak-arakan mengajarkan tidak boleh berkata-kata yang kasar. Pesan tersebut menjadi salah satu nilai yang terus dijaga dalam pelaksanaan tradisi tahunan itu,” ungkapnya.

Nilai kebersamaan dan gotong royong juga terlihat dari keterlibatan warga di sepanjang jalur arak-arakan. Masyarakat secara sukarela membantu kelancaran kegiatan dengan menyediakan minuman dan makanan ringan, serta ikut mengatur jalannya acara.

Selain Ider-ideran, rangkaian kegiatan juga diisi prosesi Memayu, yakni ritual mengganti atap rumbia pada bangunan keramat.

Tradisi tersebut menjadi bagian dari pemeliharaan bangunan sekaligus penanda menyambut musim penghujan dan musim tanam.

Rangkaian kegiatan yang dimulai sejak 31 Oktober 2026 itu dijadwalkan berlangsung hingga 9 November 2026. Pada hari terakhir, agenda dilanjutkan dengan prosesi Memayu, hiburan, syukuran, dan tahlilan.

Anidi berharap Pemerintah Kabupaten Cirebon memberikan dukungan lebih besar agar tradisi Memayu dan Ider-ideran Keramat Trusmi terus terjaga.

Ia juga mendorong agar kegiatan tersebut dikembangkan menjadi destinasi wisata budaya yang dapat memperkenalkan kekayaan adat Cirebon kepada masyarakat luas.

“Saya berharap Memayu dan Ider-ideran Keramat Trusmi tidak hanya dipertahankan sebagai tradisi tahunan, tetapi juga dikembangkan menjadi tujuan wisata budaya yang menjadi kebanggaan daerah,” pungkasnya. (Johan)