KOTA CIREBON, (FC).- Otoritas Jasa Keuangan meluncurkan Program Investasi Terencana dan Berkala Reksa Dana (PINTAR Reksa Dana), sebagai upaya untuk meningkatkan pendalaman pasar dengan mendorong partisipasi masyarakat di pasar modal khususnya melalui instrumen reksa dana.

Program ini juga diharapkan semakin mempercepat akses keuangan dan semakin meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Di Cirebon, Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Cirebon, Agus Muntholib mengatakan, OJK tidak dapat bekerja sendiri dalam meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai sektor jasa keuangan. Termasuk mengenai investasi yang aman dan mudah diakses, khususnya melalui pasar modal dan reksa dana.

Oleh karena itu, pihaknya mengajak berbagai pihak termasuk para jurnalis dalam menyampaikan informasi dan edukasi keuangan kepada masyarakat luas.

OJK Cirebon, kata Agus, terus memperkuat sinergi dan kolaborasi dengan mitra kerja, termasuk Self-Regulatory Organization (SRO), Bursa Efek Indonesia (BEI), serta Galeri Investasi BEI yang berada di berbagai kampus dan sekolah.

“Upaya ini bertujuan menumbuhkan kesadaran berinvestasi sejak dini, terutama di kalangan pelajar dan mahasiswa. Agus menilai, pendidikan pasar modal perlu diperkenalkan sejak bangku sekolah agar generasi muda memiliki pengetahuan dan pemahaman yang baik sebelum mengambil keputusan investasi,” jelas Agus, Senin (27/10).

Di tengah dinamika dan tekanan yang terjadi di pasar saham, ia mengajak masyarakat yang memiliki pemahaman memadai serta dana dingin atau dana yang tidak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari dalam waktu dekat agar mempelajari peluang investasi di pasar modal secara bijak.

“Keputusan investasi harus didasarkan pada pemahaman yang cukup, pertimbangan risiko, serta kondisi keuangan masing-masing, bukan semata-mata mengikuti tren atau pergerakan pasar,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Direktorat Pengawasan Pengelolaan Investasi, Departemen Pengawasan Pengelolaan Investasi 1 dan Pasar Modal Regional OJK Sujanto mengatakan, program tersebut menyasar berbagai kelompok masyarakat, mulai dari pelajar, mahasiswa, hingga pekerja.

“Harapannya ini akan menyebar pada banyak penduduk yang ada di Indonesia ini, termasuk nanti apakah pelajar, mahasiswa, pekerja, dan sebagainya,” terangnya.

Program dirancang untuk membantu masyarakat memulai investasi secara terencana dan berkala, melalui produk reksa dana yang dapat dipilih sesuai kebutuhan. Reksa dana dapat menjadi langkah awal bagi calon investor sebelum mempelajari instrumen pasar modal lain yang lebih kompleks, seperti saham.

“Program ini terdiri atas layanan reksa dana umum yang terbuka bagi calon investor tanpa batasan usia serta SiMuda Investasiku yang menyasar masyarakat berusia 18 hingga 30 tahun,” sebutnya.

Diberdayakan Sujanto, perluasan jumlah investor harus disertai pemahaman mengenai karakteristik produk dan risiko, agar masyarakat dapat menentukan pilihan sesuai kemampuan finansial. Produk reksa dana memiliki sejumlah kategori, meliputi pasar uang, pendapatan tetap, campuran, dan saham, yang masing-masing mempunyai tingkat risiko berbeda.

Sebagai informasi, indeks literasi pasar modal Indonesia masih sebesar 11,78 persen, sedangkan indeks inklusinya tercatat 3,34 persen. Sementara jumlah investor pasar modal Indonesia saat ini telah mencapai sekitar 30,87 juta orang, meningkat 60 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

“Kami berharap rekan-rekan wartawan bukan hanya sekadar sebagai peliput berita, melainkan juga menjadi mitra strategis dalam menyampaikan informasi yang akurat dan berimbang,” pintanya.

Sujanto menyebut, terkait jumlah investor reksa dana syariah di Ciayumajakuning mencapai sekitar 34 ribu orang, dengan total nilai kepemilikan aset sebesar Rp378 miliar. Angka tersebut menunjukkan peluang untuk memperluas partisipasi masyarakat dalam investasi berbasis syariah, terutama melalui kemudahan akses terhadap produk reksa dana.

“Dengan adanya hal yang demikian itu masih terdapat ruang yang sangat besar untuk meningkatkan partisipasi publik,” terangnya.

Ia menjelaskan PINTAR menyediakan skema investasi reksa dana yang dapat diikuti masyarakat, secara terencana dan berkala dengan nominal sesuai kemampuan.

Sujanto mengatakan kelompok usia muda mendominasi investor reksa dana syariah di Ciayumajakuning, sehingga edukasi perlu terus dilakukan untuk memperluas keterlibatan mereka.

“Bagaimanapun mereka itu adalah calon-calon investor yang sophisticated di masa depan,” katanya pula.

Secara keseluruhan, kata dia, jumlah investor reksa dana di Ciayumajakuning mencapai sekitar 750 ribu orang atau sekitar 12 persen dari total investor reksa dana di Jawa Barat.

Ia menuturkan Provinsi Jawa Barat memiliki sekitar 6,2 juta investor reksa dana, sedangkan Kota Cirebon dan Kabupaten Cirebon mencatat sekitar 400 ribu investor dengan total aset hampir Rp1 triliun.

Sujanto menjelaskan reksa dana memiliki sejumlah kategori dengan tingkat risiko berbeda, sehingga calon investor perlu memahami produk sebelum menempatkan dana.

“Kami berharap perluasan akses dan edukasi melalui PINTAR dapat meningkatkan partisipasi masyarakat dalam reksa dana syariah serta memperbesar kontribusi investasi terhadap perekonomian daerah,” tandasnya. (Agus)