Ribuan Warga Padati Helaran Cai Diraga, Larung Cai dan Kirab Budaya Meriah
KAB.CIREBON, (FC).- Sekitar 2.000 warga memadati Helaran Budaya Cai Diraga 2026 di Kecamatan Ciledug, Kabupaten Cirebon, Minggu (1/11).
Tradisi Larung Cai yang dilanjutkan dengan Kirab Budaya menjadi puncak kegiatan tahunan yang memasuki penyelenggaraan tahun ketujuh tersebut.
Mengusung tema “Jati Purwa”, kegiatan ini menjadi upaya masyarakat mempertahankan warisan leluhur sekaligus mengenalkan seni dan budaya lokal kepada generasi muda.
Prosesi Larung Cai berlangsung di atas Jembatan Sungai Cisanggarung, Desa Ciledug Lor.
Setelah itu, rombongan kirab bergerak dari Jembatan Cibening di perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah, melintasi Jalan Pierre Tendean dan pertigaan Terminal Ciledug, hingga berakhir di area parkir selatan Jempol Waterboom, Desa Ciledug Kulon.
Kirab melibatkan berbagai unsur masyarakat dan kelompok seni, di antaranya Rudat, Paskibraka, pembawa lodong bambu, dokar, SMANSUS, HKBP, pelajar SD dan SMP, serta kesenian Burok. Antusiasme warga terlihat di sepanjang jalur yang dilalui rombongan.
Pembina Midang Waringin Jati, Suherman, mengatakan Cai Diraga merupakan bentuk komitmen masyarakat dalam menjaga tradisi dan kearifan lokal yang diwariskan para pendahulu.
“Cai Diraga ini sudah memasuki tahun ketujuh. Kami ingin tradisi dan warisan budaya leluhur tetap terjaga serta terus dikenal oleh generasi penerus,” ujarnya.
Menurut Suherman, rangkaian kegiatan berlangsung selama tiga hari, 30 Oktober hingga 1 November 2026. Beragam agenda seni, budaya, edukasi lingkungan, dan kegiatan sosial disiapkan agar masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut terlibat dalam pelestarian budaya.
Pada hari pertama, kegiatan diisi senam pagi, edukasi pengelolaan sampah, lomba kaulinan tradisional, serta penampilan 500 penari Jaya Perbangsa.
Memasuki hari kedua, panitia menggelar workshop tari Bali, pertunjukan tari daerah, musik, Tarian Cai Diraga, doa lintas iman, serta penyerahan piagam penghargaan dari Kementerian Pariwisata melalui Deputi Bidang Event Daerah.
Sementara pada hari terakhir, selain Larung Cai dan Kirab Budaya, kegiatan dilanjutkan dengan penampilan 500 penari Jaya Perbangsa, bakti sosial, serta pertunjukan berbagai kelompok seni hingga malam hari.
Helaran tersebut juga melibatkan kelompok seni dari sejumlah daerah, seperti Banten, Bali, Kalimantan Tengah, DKI Jakarta, dan wilayah sekitar Cirebon. Kehadiran mereka menjadi ruang pertukaran kreativitas sekaligus mempererat hubungan antarkomunitas seni.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin memberikan ruang bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mengenal, mencintai, dan ikut melestarikan seni budaya daerah,” kata Suherman.
Ia berharap Cai Diraga tidak berhenti sebagai agenda seremonial tahunan, tetapi dapat berkembang menjadi daya tarik pariwisata berbasis budaya yang memberikan manfaat bagi masyarakat Ciledug.
Dukungan terhadap pelestarian budaya juga disampaikan Anggota Komisi VIII DPR RI, Hj. Selly Andriany Gantina. Ia mengapresiasi konsistensi masyarakat dalam menyelenggarakan Cai Diraga selama tujuh tahun berturut-turut.
Menurut Selly, tradisi tersebut perlu terus dipertahankan sebagai bagian dari identitas dan kearifan lokal Kabupaten Cirebon. Meski demikian, penyelenggara tetap perlu menghadirkan inovasi agar kegiatan semakin menarik tanpa meninggalkan nilai sejarahnya.
“Tradisi ini harus terus dijaga. Silakan dikembangkan dengan berbagai inovasi dan kreativitas, tetapi jangan sampai menghilangkan nilai sejarah serta budaya yang sudah diwariskan oleh para leluhur,” pesannya.
Selly juga menyampaikan rencana bantuan sebesar Rp10 juta untuk kelompok seni Nispala melalui tim panitia. Bantuan tersebut diharapkan dapat mendukung keberlangsungan aktivitas kelompok seni dan regenerasi pelaku kesenian tradisional.
“Insyaallah, untuk kawan-kawan Nispala, nanti akan saya berikan bantuan sebesar Rp10 juta melalui tim panitia. Mudah-mudahan kalian tetap mempertahankan seni tari yang ada di wilayah Kabupaten Cirebon,” tuturnya.
Ia berharap kelompok-kelompok seni terus aktif berkarya sehingga generasi muda tetap memiliki ruang untuk mengenal, mencintai, dan mengembangkan budaya daerah. (Nawawi)



Tinggalkan Balasan