KOTA CIREBON, (FC).– Laskar Agung Macan Ali Nuswantara menandai satu dasawarsa kebangkitannya dari Cirebon dengan sejumlah agenda besar dan pembaruan organisasi.

Selain mengukuhkan panglima dari berbagai daerah di Indonesia, organisasi tersebut membentuk pasukan khusus hingga menyiapkan kirab bersejarah pada 2027.

Memasuki usia 10 tahun kebangkitan, Macan Ali menggelar pengukuhan panglima dan calon panglima dari sejumlah wilayah, di antaranya Manado, Riau, dan Palembang.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat struktur organisasi sekaligus memperluas jaringan hingga ke berbagai daerah.

Panglima Tinggi Laskar Agung Macan Ali Nuswantara, Prabu Diaz, mengatakan salah satu terobosan dalam peringatan satu dasawarsa kali ini adalah pembentukan Divisi Sapu Jagad.

Divisi tersebut merupakan pasukan khusus yang dibentuk untuk menjalankan tugas pengamanan dalam berbagai kegiatan organisasi. Pasukan ini dipimpin oleh Letnan Kolonel Infanteri Agus dari Korps Komando Pasukan Khusus (Kopassus).

“Kita membentuk Divisi Sapu Jagad, pasukan khusus Macan Ali yang khusus untuk tim pengamanan,” kata Prabu Diaz kepada wartawan, Sabtu (31/10).

Selain Divisi Sapu Jagad, Macan Ali juga tengah mempersiapkan pembentukan BIMA atau Badan Intelijen Macan Ali. Personel yang akan bergabung dalam divisi tersebut merupakan orang-orang pilihan yang harus melewati serangkaian tahapan seleksi.

“Kita membentuk BIMA, Badan Intelijen Macan Ali. Jadi nanti pendidikannya rencananya di Cibubur. Itu orang-orang pilihan semua,” ujarnya.

Prabu Diaz menjelaskan, proses seleksi calon personel BIMA akan mencakup tes inteligensi, psikologi, serta sejumlah tahapan lainnya untuk memastikan kesiapan anggota yang terpilih.

Perkembangan lainnya dalam peringatan satu dasawarsa ini adalah bergabungnya sekitar 18 paguron, komunitas adat, serta kelompok pelestari tradisi dan budaya ke dalam Macan Ali.

Menurut Prabu Diaz, bergabungnya berbagai komunitas tersebut menjadi perkembangan positif dalam memperkuat persatuan serta menjaga keberagaman tradisi dan budaya Nusantara.

“Yang luar biasa tahun ini banyak paguron, komunitas adat, dan tradisi budaya yang bergabung dengan Macan Ali. Ada sekitar 18 yang mengikrarkan diri bergabung,” tuturnya.

Dalam Musyawarah Besar (Mubes) ke-10, Macan Ali juga menetapkan sejumlah program strategis untuk 2027. Salah satunya kembali menggelar kegiatan thudong dengan perjalanan lintas negara.

Rute perjalanan tersebut direncanakan dimulai dari wilayah selatan Thailand, kemudian melintasi Malaysia, Singapura, Jakarta, hingga berakhir di kawasan Candi Borobudur.

Namun, agenda terbesar yang tengah dipersiapkan adalah Kirab Agung Macan Ali dari Sunda Kelapa menuju Cirebon.

Kirab tersebut dijadwalkan berlangsung pada 1-14 Oktober 2027. Rombongan direncanakan tiba di Alun-alun Sangkala Buana, Keraton Kasepuhan Cirebon.

Kegiatan ini disiapkan untuk memperingati 500 tahun peristiwa perjuangan Fatahillah mengusir Portugis dari Sunda Kelapa pada 1527. Momentum tersebut sekaligus menjadi upaya mengangkat kembali sejarah perjuangan Laskar Agung Macan Ali.

“Agenda paling besar adalah Kirab Agung dari Sunda Kelapa. Tanggal 1 Oktober sampai 14 Oktober 2027, tiba di Alun-alun Sangkala Buana Kasepuhan Cirebon dalam rangka memperingati 500 tahun Laskar Agung Macan Ali Nuswantara yang dipimpin Fatahillah ketika mengusir Portugis di Sunda Kelapa tahun 1527,” jelasnya.

Prabu Diaz menyebut peringatan lima abad tersebut menjadi momentum penting untuk mengenang sejarah perjuangan sekaligus memperkuat eksistensi Macan Ali yang kebangkitannya berawal dari Cirebon.

Selama sembilan tahun perjalanan sebelumnya, Macan Ali juga telah menjalankan berbagai kegiatan sosial, terutama membantu masyarakat yang terdampak bencana alam.

Sejumlah daerah yang pernah menjadi lokasi kegiatan kemanusiaan tersebut di antaranya kawasan Semeru, Cianjur, Palu, dan Lombok.

Memasuki tahun ke-10, Macan Ali turut menggelar prosesi memandikan para panglima dan Wakil Panglima Tinggi di Sumur Kejayaan, lingkungan Keraton Kasepuhan Cirebon. Prosesi tersebut menjadi salah satu rangkaian khusus dalam peringatan satu dasawarsa kebangkitan organisasi.

Prabu Diaz menyebutkan, saat ini jumlah anggota Laskar Agung Macan Ali Nuswantara telah mencapai lebih dari 48 ribu orang yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia hingga sejumlah negara.

Jaringan anggotanya juga telah menjangkau Sarawak, Singapura, Malaysia, Thailand, dan Taiwan. Taiwan menjadi salah satu wilayah dengan jumlah anggota cukup besar, yang didominasi pekerja migran Indonesia. (Agus)