KAB.CIREBON, (FC).- Tradisi Sedekah Laut atau Nadran di Desa Gebangmekar, Kecamatan Gebang, Kabupaten Cirebon, dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi daya tarik wisata bahari.

Selain melestarikan warisan budaya masyarakat pesisir, tradisi tahunan tersebut juga dapat membuka peluang ekonomi bagi warga setempat.

Anggota Komisi IV DPR RI, Rokhmin Dahuri, menyampaikan hal itu saat melepas peserta karnaval dalam rangkaian Nadran Desa Gebangmekar, Sabtu (31/10). Kegiatan tersebut berlangsung meriah dan disambut antusias masyarakat.

Rokhmin mengatakan, Nadran merupakan tradisi yang harus dipertahankan karena menjadi ungkapan rasa syukur masyarakat nelayan kepada Allah SWT atas rezeki dan manfaat yang diperoleh dari laut selama setahun.

Ia mengaku memiliki kedekatan dengan tradisi tersebut. Bahkan, sejak sebelum menjabat sebagai menteri hingga sekarang, dirinya kerap menghadiri kegiatan Nadran, khususnya di kawasan Karangburu dan Kepetoran.

“Bagi saya, ini tradisi yang baik untuk dipertahankan. Nadran merupakan ekspresi rasa syukur kepada Allah SWT karena masyarakat telah mendapatkan manfaat dari laut selama setahun,” ujarnya.

Meski demikian, Rokhmin mengingatkan agar pelaksanaan Nadran tetap berpegang pada nilai-nilai agama dan tidak bertentangan dengan akidah maupun syariat Islam.

Menurutnya, kegiatan tersebut jangan hanya menjadi seremoni dan hiburan, tetapi harus tetap mencerminkan rasa syukur kepada Allah SWT.

Ia juga mengingatkan masyarakat untuk menjalankan pesan Sunan Gunung Jati, yakni tidak meninggalkan tempat ibadah serta memperhatikan kehidupan fakir miskin.

“Bagi umat Islam, jangan sampai melupakan salat. Sementara bagi yang berkecukupan, jangan lupa membantu orang miskin. Mereka yang masih kekurangan juga harus terus berusaha memperbaiki kehidupannya,” pesannya.

Lebih jauh, Rokhmin mendorong agar Nadran dikemas menjadi atraksi wisata bahari yang menarik. Salah satu gagasan yang disampaikan adalah menghadirkan kembali perahu-perahu hias sebagai bagian dari karnaval dan pengalaman wisata bagi pengunjung.

“Kalau ingin dijadikan destinasi wisata, perahu-perahunya bisa dihias seperti dahulu. Ketika saya masih kecil, perahu yang dihias dan ditarik itu terlihat bagus. Hal seperti ini bisa menjadi atraksi yang menarik wisatawan,” ungkapnya.

Namun, ia menegaskan pengembangan wisata pesisir tidak cukup hanya mengandalkan atraksi budaya. Kebersihan, keindahan, dan kenyamanan kawasan juga harus dibenahi agar wisatawan tertarik berkunjung.

Rokhmin turut menyoroti potensi Pantai Baro yang memiliki kawasan mangrove. Menurutnya, kawasan tersebut dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata berbasis alam melalui penataan lingkungan, penyediaan fasilitas pendukung, serta kegiatan wisata yang tetap memperhatikan kelestarian mangrove.

Ia menilai pengembangan wisata mangrove di Pantai Baro dapat terinspirasi dari kawasan serupa di Malaysia yang telah menjadi tujuan wisata.

“Kalau ingin menjadi magnet wisata, harus ada atraksi yang menarik. Kawasan mangrove di Pantai Baro juga perlu dikembangkan dan diteruskan penataannya. Kalau dikelola dengan baik, kawasan ini bisa menjadi tujuan wisata yang menarik,” katanya.

Rokhmin berharap Nadran tidak hanya menjadi agenda tahunan masyarakat nelayan, tetapi juga mampu memperkuat identitas budaya pesisir sekaligus memberikan manfaat ekonomi melalui sektor pariwisata.

Sementara itu, Kuwu Gebangmekar, Nurdiyanto, menyambut positif gagasan pengembangan Nadran sebagai daya tarik wisata bahari. Menurutnya, hal tersebut menjadi pekerjaan rumah pemerintah desa untuk mengoptimalkan potensi budaya dan wisata yang dimiliki wilayahnya.

Ia menyebut Nadran merupakan bentuk rasa syukur masyarakat nelayan atas rezeki dan keselamatan selama menjalankan aktivitas melaut. Melalui tradisi tersebut, warga juga memanjatkan harapan agar ke depan memperoleh keberkahan serta hasil tangkapan yang lebih baik.

“Ini merupakan wujud rasa syukur masyarakat nelayan atas segala yang telah diperoleh selama melaut. Kami juga berharap ke depan masyarakat selalu diberikan keberkahan dan keselamatan,” ungkapnya.

Nurdiyanto mengatakan, keberadaan Pantai Baro menjadi modal bagi pemerintah desa untuk mengintegrasikan kegiatan budaya Nadran dengan potensi wisata pesisir.

“Gagasan menjadikan Nadran sebagai daya tarik wisata tentu sangat bagus. Ini menjadi PR kami di pemerintah desa, bagaimana mengkolaborasikan tradisi Nadran dengan potensi wisata Pantai Baro agar bisa semakin berkembang,” jelasnya.

Ia berharap dukungan berbagai pihak dan perencanaan yang matang dapat mendorong potensi wisata bahari Gebangmekar semakin dikenal luas serta memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat. (Nawawi)