KAB.CIREBON, (FC).- Pasangan suami istri Mulyadi (46) dan Dian (36), warga Desa Beringin, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon, harus bertahan hidup di rumah tidak layak huni selama delapan tahun terakhir.
Bersama dua anaknya, keluarga tersebut tinggal di rumah berdinding bilik bambu dan berlantai tanah dengan kondisi bangunan yang memprihatinkan.
Saat musim hujan, atap rumah yang rusak kerap bocor dan membuat lantai tanah berubah becek. Sementara saat kemarau, debu memenuhi bagian dalam rumah.
“Kalau hujan sering bocor dan lantainya becek,” ujar Mulyadi, Selasa (12/5).
Dinding rumah terlihat lapuk, berlubang, dan renggang. Kondisi itu membuat keluarga kecil tersebut hidup penuh keterbatasan di tengah tekanan ekonomi yang semakin berat.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Mulyadi hanya mengandalkan pekerjaan serabutan dengan penghasilan yang tidak menentu.
“Saya kerja apa saja yang penting halal. Kadang ada pekerjaan, kadang tidak,” katanya.
Beban keluarga semakin berat karena anak sulung mereka yang kini berusia 18 tahun mengalami keterbelakangan mental dan membutuhkan perhatian khusus setiap hari.
Sementara anak keduanya yang masih duduk di bangku sekolah dasar juga memerlukan biaya pendidikan dan kebutuhan sekolah.
“Yang paling saya pikirkan anak pertama saya karena butuh perhatian terus,” ungkapnya.
Di tengah kondisi tersebut, Mulyadi berharap adanya bantuan pemerintah, baik berupa program perbaikan rumah tidak layak huni maupun bantuan sosial lainnya.
“Harapan saya semoga ada perhatian dan bantuan dari pemerintah,” harapnya.
Sekretaris Desa Beringin, Supriyadi, membenarkan kondisi keluarga Mulyadi yang hidup dalam keterbatasan ekonomi dan menempati rumah tidak layak huni.
“Kondisinya memang sangat memprihatinkan dan perlu perhatian bersama,” ujarnya.
Pemerintah desa, lanjut Supriyadi, akan berkoordinasi dengan pihak kecamatan hingga pemerintah daerah untuk mengupayakan bantuan bagi keluarga tersebut.
Selain bantuan rumah, pemerintah desa juga akan mengaktifkan kembali kepesertaan BPJS Kesehatan keluarga Mulyadi agar lebih mudah mendapatkan pelayanan kesehatan, terutama bagi anak pertamanya yang membutuhkan perawatan khusus.
Kisah keluarga Mulyadi menjadi gambaran masih adanya warga yang hidup dalam kondisi serba kekurangan dan membutuhkan perhatian bersama agar dapat menjalani kehidupan yang lebih layak. (Nawawi)















































































































Discussion about this post