KAB.CIREBON, (FC).- Dugaan buruknya pada manajemen maupun pelayanan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Waled yang terjadi disorot aktivis dan pemerhati sosial Cirebon Timur, H Dade Mustofa Efendi, Minggu (14/12).
Dirinya mendesak pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cirebon segera melakukan pembenahan total terhadap manajemen dan pelayanan di RSUD Waled.
Desakan ini muncul setelah maraknya keluhan masyarakat baru-baru ini, terutama terkait dugaan ketidakprofesionalan dokter dan sikap tenaga kesehatan (nakes) yang dianggap kurang ramah, khususnya dalam penanganan pasien Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.
H Dade Mustofa Efendi mengungkapkan, beberapa bulan ke belakang pihaknya banyak menerima keluhan yang mencakup berbagai aspek, mulai dari penanganan medis yang dirasa kurang optimal, hingga perilaku nakes yang dinilai minim empati, terutama saat berhadapan dengan pasien yang menggunakan fasilitas BPJS, sampai ke isu soal asusila.
Hal ini menimbulkan kekecewaan mendalam di kalangan masyarakat Cirebon Timur yang sangat bergantung pada layanan RSUD Waled.
H Dade Mustofa Efendi menyampaikan, bahwa momentum pergantian kepemimpinan saat ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Pemkab Cirebon.
“Kami melihat ini adalah momentum emas untuk pembenahan total di RSUD Waled. Terutama bagi Pemkab Cirebon yang saat ini sedang dalam proses mencari figur Direktur baru,” ujar pria yang akrab disebut Kang Dade.
Kang Dade menekankan kriteria utama yang harus dimiliki oleh calon Direktur RSUD Waled. Kriteria tersebut tidak hanya sebatas kompetensi manajerial, tetapi juga harus berlandaskan pada sisi kemanusiaan.
“Carilah dan tunjuklah person yang benar-benar kompeten dalam bidang manajemen rumah sakit, serta yang paling penting, harus memiliki hubungan jiwa humanis yang kuat. Tujuannya jelas, agar dalam penanganan pasien, baik pasien umum maupun BPJS, semua dilayani dengan profesionalisme tinggi dan hati nurani”
“Untuk hal ini saya punya pengalaman dengan pejabat rumah sakit yang lalu-lalu, dimana kami bersinergi sebagai kontrol sosial dan saya berani mengatakan pejabat teras RSUD Waled zaman itu sangat humanis,” tegasnya.
Ia berharap penunjukan direktur baru dapat membawa perubahan signifikan, menciptakan tata kelola rumah sakit yang lebih baik, dan mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap kualitas pelayanan kesehatan di RSUD Waled.
“Keluhan masyarakat terhadap kualitas layanan dan tata kelola RSUD Waled harus dijawab tuntas melalui perbaikan mendasar,” ujar Kang Dade.
Kang Dade berharap kepada manajemen baru RSUD Waled khususnya direktur, untuk wajib menembus sertifikasi WTP bidang pelayanan. Ini adalah indikator konkret bahwa manajemen telah bekerja secara profesional, transparan, dan efisien.
Dijelaskannya, selama ini protes pelayanan dari masyarakat datang bertubi-tubi, dari satpam dibereskan muncul lagi dari perawat, dibereskan lagi muncul dari kehumasan, dan terjadi terus menerus bergantian datang dari bagian yang lainnya.
Bila targetnya sertifikasi WTP pelayanan maka, upaya perbaikan itu muncul dari dalam bagian-bagian yang ada di RSUD Waled, dengan target amb tersebut diharapkan keluhan masyarakat kedepan terutama terkait pelayanan di RSUD Waled tidak ada lagi, dan sebaliknya, RSUD Waled menjadi kebanggaan masyarakat.
“Jika dalam waktu yang ditentukan RSUD Waled tidak berhasil meraih WTP, maka saya mendesak agar direktur rumah sakit tersebut untuk mundur atau diganti. Ini adalah langkah yang perlu diambil demi memperbaiki kualitas pelayanan publik dan kepercayaan masyarakat,” tegasnya. (Nawawi)










































































































Discussion about this post