Ibarat kapal, negeri ini sedang limbung. Kompas negara yang sejatinya mengarah pada dermaga kebahagiaan rakyat seketika berbelok pada kepentingan orang perorang. Aset-aset negara dipreteli, korupsi merajalela yang mengakibatkan pajak-pajak melambung tinggi, saling sikut berebut kursi kekuasaan dan lain sebagainya.
Pertanyaannya, mau sampai kapan kita menjadi penumpang kapal yang bisu? membiarkan diri mengikuti perjalanan yang gelap. Terombang ambing di tengah samudra, dihempas gelombang. Apakah akan kita biarkan bahtera republik ini menghantam gunung es atau tenggelam di tengah lautan yang mematikan? Tidak, anak-anak muda harus mengambil alih kemudi, berlayar mengikuti kompas menuju dermaga kesejahteraan rakyat.
Jalan terjal penuh duri dan keirikil tajam telah ditapaki para pendahulu kita untuk bangkit bebas dan merdeka dari ketertindasan. Tidak terhitung berapa banyak jiwa yang terampas, berapa banyak darah yang harus ditumpahkan. Demi negeri ini tegak lurus memiliki harga diri, aral melintang pun diterabas.
Oleh karena perjuangan para pendahulu kita yang teramat pedih, tidak pantas rasanya jika anak-anak muda hari ini latah terhadap kebudayaan asing apalagi sampai mengeksploitasi kebodohan demi sebuah konten yang merusak karakter. Ini tidak bisa kita biarkan. Ketimpangan realitas sosial hari ini dengan cita-cita bangsa harus segera diatasi agar tidak mencederai spirit para pendahulu kita untuk hidup bebas dan bermartabat.
Anak muda hari ini harus dipaksa sadar jika mereka adalah pewaris cita-cita Bangsa Indonesia sebagaimana dalam pembukaan UUD 1945 alinea kedua disebutkan “Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.”
Kehidupan yang adil dan makmur bukanlah cita-cita yang menggantung di angan-angan melainkan konsensus pemuda Indonesia yang terlembaga dalam konstitusi bangsa ini. Meskipun keadilan dan kemakmuran hari ini masih dipertanyakan, tidak lantas kemudian menjadikan cita-cita bangsa ini serupa fiksi.
Visi bangsa ini selamanya menjadi haluan bernegara yang tetap harus diupayakan di tengah krisis integritas dan ancaman degradasi moral yang ditengarai oleh sifat-sifat rakus para koruptor, kita mengharapkan figur pemuda yang mampu melanjutkan tongkat estafet visi bangsa indonesia.
Apalagi, di tahun 2030-2040 indonesia mengalami bonus demografi. Jumlah penduduk usia produktif lebih besar dibandingkan penduduk usia tidak produktif. Ini merupakan kesempatan emas untuk berinvestasi menciptakan sumber daya manusia yang kompeten serta membangunan suasana kehidupan kebangsaan yang etis.
Anak muda tidak bisa terus-terusan dibuai angan-angan kehidupan yang monoton atau sekadar mengikuti irama rutinitas. Pemuda harus bangkit dan bersuara. Narasi-narasi keberpihakan pada rakyat harus diangkat ke langit hingga tak ada satu pun kepentingan paling tinggi kecuali kepentingan rakyat. Inilah tugas anak-anak muda kita.
Untuk bangkit dan merdeka, negeri ini membutuhkan pemuda yang memiliki karakter kuat dan cerdas sebagaimana generasi tahun 1920-an. Saat negeri ini tidak memiliki perkakas yang kuat untuk merdeka, keinginan berkehidupan kebangsaan yang bebas dan merdeka telah terekam dalam ingatan sejarah bangsa ini.
Tahun 1924 Perhimpunan Indonesia di Belanda, mulai merumuskan konsepsi ideologi politiknya bahwa tujuan kemerdekaan politik haruslah didasarkan pada empat prinsip : persatuan nasional, solidaritas, non-kooperasi dan kemandirian.. monumen dari usaha untuk mencari sintesis dari keragaman anasir keindonesiaan itu adalah sumpah pemuda (28 Oktober 1928).
Kesadaran Sejarah
Lembaga pendidikan memiliki peran sentral menumbuhkan kesadaran moral anak bangsa. Selama ini, institusi pendidikan banyak berkutat pada kerangka teoritis. Dialektika argumentasi selalu dibangun di atas pandangan para ahli. Orientasinya jelas, melahirkan lulusan dengan tingkat kecerdasasan intelektual yang beragam.
Tidak salah. Namun, kehidupan kebangsaan yang etis juga merupakan bagian koheren yang turut membentuk peradaban suatu bangsa. Karena itu, kesadaran sejarah anak-anak muda hari ini mesti ditumbuhkan sebagai akumulasi dari kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan spiritual.
Anak-anak muda wajib mengenal sejarah bangsanya. Mereka perlu menyelami lapis-lapis budaya bangsa indonesia agar kehidupan hari ini bertalian dengan suasana kebatinan para pendahulunya. Peristiwa pahit dan upaya patriotisme tokoh-tokoh bangsa ini tidak boleh dibiarkan lepas begitu saja dari memori ingatan kolektif rakyat indonesia dan dari catatan sejarah bangsa ini.
Spirit bangsa yang membakar jiwa melawan penjajahan harus tetap terhubung dalam ingatan anak-anak muda kita. Tujuannya agar anak-anak muda turut merasakan jiwa patriotisme dan optimisme para pendahulu kita untuk bangkit bebas dan merdeka. Selain itu, lembaga pendidikan dirasa perlu memfasilitasi para pelajar untuk terjun langsung ke lapangan mengabdi kepada masyarakat dengan berbagai kegiatan sosial.
Hal ini baik untuk memperkenalkan pelajar dengan nilai-nilai kepentingan publik sekaligus memantik sense of urgency mereka terhadap komplekstias persoalan-persoalan masyarakat. Sehingga, tatakala mereka duduk di birokrasi pemerintah atau lembaga perwakilan rakyat, integritas mereka tidak mudah tergadai oleh harta dan tahta.
Oleh: Ratnaningsih, S.Pd.
(Guru di Indramayu)




















































































































Discussion about this post