KAB.CIREBON, (FC).- Program cek kesehatan secara gratis merupakan inisiatif pemerintah dalam rangka menyediakan pemeriksaan kesehatan tanpa biaya bagi masyarakat. Tujuannya dalah untuk meningkatkan kesadaran kesehatan serta mendeteksi penyakit sejak dini.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon, Hj Eni Suhaeni mengatakan program cek kesehatan gratis di Kabupaten Cirebon saat ini sudah mencapai 6,9 persen dari jumlah penduduk di Kabupaten Cirebon, namun di luar anak usia sekolah.
“Dengan capaian tersebut, kita berada di posisi terbaik ke tujuh se-Jawa Barat,” kata Eni, Rabu (6/8).
Apalagi, lanjut Eni, awal Agustus ini pihaknya juga menyasar untuk melalukan pemeriksaan kesehatan gratis (PKG) ke anak usia sekolah. Mulai dari TK, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA hingga pondok pesantren.
“Kalau umum dengan yang anak usia sekolah berbeda sebutannya ya. Kalau umum cek kesehatan gratis (CKG) kalau anak usia sekolah pemeriksaan kesehatan gratis (PKG). Sasaranya seluruh jenjang anak sekolah ya, sampai pondok pesantren,” kata Eni.
Pemeriksaan sendiri, lanjut Eni, dilakukan oleh tenaga kesehatan dari seluruh puskesmas di wilayah Kabupaten Cirebon dengan target awal menjangkau 40% siswa pada Agustus 2025. “Ini dilakukan untuk meningkatkan status kesehatan generasi muda dan mencegah terjadinya masalah kesehatan jangka panjang, seperti stunting dan lainnya,” kata Eni.
Pemeriksaan meliputi status gizi, deteksi dini anemia, kelainan mata, serta pemeriksaan fisik menyeluruh dari ujung rambut hingga kaki. “Target kami semua anak sekolah dicek kesehatannya secara menyeluruh, mulai dari kondisi rambut, kulit, hingga status gizi dan kesehatan mata,” kata Eni.
Masih kata Eni, salah satu fokus utama dari program cek kesehatan gratisini adalah skrining anemia, terutama pada kelompok remaja putri. Berdasarkan hasil sementara dari pemeriksaan kesehatan yang sudah dilakukan di beberapa sekolah, ditemukan sekira 43,55% remaja putri mengalami anemia. Angka ini tergolong tinggi dan menjadi perhatian khusus Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon.
Menurut Eni, anemia pada remaja putri bisa berdampak besar jika tidak ditangani sejak dini. Anemia yang berlanjut ke masa dewasa, terutama saat perempuan memasuki usia hamil, berpotensi menyebabkan komplikasi serius, termasuk melahirkan anak dengan kondisi stunting.
“Anemia pada remaja putri harus dicegah sedini mungkin. Kalau mereka anemia, kemudian hamil, maka risiko komplikasi kehamilan dan stunting pada anak menjadi lebih tinggi. Ini siklus yang harus kita putus,” ujar Eni.
Ia menjelaskan, anemia banyak disebabkan oleh asupan gizi yang tidak memadai, terutama kekurangan zat besi. Oleh karena itu, selain pemeriksaan, pemerintah juga akan memberikan edukasi gizi kepada siswa dan orang tua, serta melakukan intervensi gizi langsung jika diperlukan.
“Kami menemukan pola makan anak-anak, terutama remaja, cenderung kurang sehat. Banyak yang konsumsi makan cepat saji, minuman manis, dan kurang sayur atau protein hewani. Ini yang menjadi pemicu anemia dan gizi kurang,” jelas Eni.
Eni menegaskan, program ini bukan hanya bersifat sementara, melainkan akan menjadi program rutin tahunan yang terintegrasi dengan layanan kesehatan dasar di tingkat sekolah. (Ghofar)














































































































Discussion about this post