KUNINGAN, (FC).- Kasus dugaan pencatutan identitas warga Winduherang, Rizal Nurdimansyah, dalam pembelian mobil mewah Ferrari 458 Speciale Aperta senilai Rp4,2 miliar memasuki babak baru.
Penelusuran terbaru mengungkap dugaan pemalsuan identitas dalam proses administrasi kendaraan di Samsat Kuningan.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, proses tersebut diduga melibatkan biro jasa pengurusan dokumen kendaraan di Kecamatan Ciawigebang yang dikelola pria berinisial AS.
Ia mengaku awalnya menerima permintaan dari seseorang berinisial BD, yang mengaku berasal dari Bekasi, melalui pesan WhatsApp.
BD disebut menyerahkan sejumlah berkas, termasuk identitas atas nama Rizal Nurdimansyah, untuk keperluan pengurusan dokumen kendaraan Ferrari.
Merasa janggal, AS berinisiatif melakukan verifikasi ke kediaman Rizal di Winduherang. Namun saat itu, Rizal tidak berada di tempat. AS kemudian memperoleh nomor kontak Rizal dari pihak keluarga dan melakukan konfirmasi.
“Yang bersangkutan menyatakan tidak pernah membeli kendaraan tersebut dan tidak mengetahui proses pengurusan dokumennya,” ujar AS, Rabu (15/4).
Atas pengakuan itu, AS mengaku sempat menghentikan proses. Namun beberapa hari kemudian, BD kembali menghubunginya dan mengklaim persoalan telah selesai, serta meminta proses dilanjutkan.
Dalam pertemuan di Samsat Kuningan, AS mengaku bertemu dengan dua pria. Salah satunya menyatakan bertanggung jawab atas seluruh biaya pengurusan, sementara satu orang lainnya mengaku sebagai Rizal.
Belakangan terungkap, sosok yang mengaku sebagai Rizal tersebut diduga bukan orang yang sebenarnya, melainkan individu lain yang menyamar menggunakan identitas korban.
Temuan ini memperkuat dugaan adanya praktik pemalsuan identitas dalam proses administrasi kendaraan. Kasus ini pun tidak lagi sekadar pencatutan data pribadi, tetapi berpotensi mengarah pada penggunaan identitas palsu secara terstruktur.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak berwenang terkait identitas pria yang diduga menyamar maupun pihak yang bertanggung jawab atas keseluruhan proses tersebut.
Sebelumnya, Rizal Nurdimansyah mengaku tidak pernah memberikan izin penggunaan identitasnya. Ia bahkan sempat menolak permintaan dari pihak tak dikenal yang ingin menggunakan KTP miliknya untuk pembelian kendaraan.
“Penelpon mengatakan bosnya akan membeli mobil menggunakan KTP saya. Saya langsung menolak karena tidak mengenal dan khawatir disalahgunakan,” ujarnya.
Rizal juga mengungkapkan sempat ditawari imbalan agar bersedia meminjamkan identitas, namun kembali ditolak.
Dengan terungkapnya dugaan “Rizal palsu” dalam proses administrasi tersebut, kasus ini membuka kemungkinan adanya jaringan lebih luas dalam praktik penyalahgunaan identitas, sekaligus menjadi sorotan terhadap lemahnya sistem verifikasi dalam pengurusan dokumen kendaraan. (Angga)















































































































Discussion about this post