KUNINGAN, (FC).- Upacara Adat Seren Taun Tahun Rayagung 1959 S atau 2026 kembali digelar di Paseban Tri Panca Tunggal, Cigugur. Tradisi budaya Sunda yang sarat makna syukur dan pelestarian nilai leluhur itu resmi dimulai Rabu (3/6) dan akan berlangsung hingga 8 Juni mendatang.
Sejak pagi, masyarakat adat dan warga telah mengikuti rangkaian ritual pembuka berupa Nyandak Pare ti Leuit dan Mesek Pare di kawasan Taman Sari Paseban.
Prosesi tersebut menjadi simbol penghormatan terhadap padi sebagai sumber kehidupan sekaligus ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang diperoleh masyarakat.
Camat Cigugur, Yono Rohmansyah, mengatakan seluruh rangkaian kegiatan Seren Taun tahun ini mulai dilaksanakan sejak pagi hari dan akan berlangsung selama enam hari dengan berbagai agenda budaya yang melibatkan masyarakat luas.
Selain ritual adat, hari pertama perhelatan diisi beragam pertunjukan seni tradisional, mulai dari Siraman Baleg Kembang, Damar Sewu, Tari Puragabaya Gebang, hingga Tari Rampak Kendang yang digelar pada malam hari.
Seren Taun merupakan tradisi tahunan masyarakat Sunda yang dilaksanakan setiap tanggal 22 Rayagung, bulan terakhir dalam kalender Sunda.
Tradisi tersebut tidak hanya menjadi wujud syukur atas hasil bumi, tetapi juga menjadi sarana memperkuat ikatan sosial, menjaga warisan budaya, serta menanamkan nilai-nilai kearifan lokal kepada generasi muda.
Berbagai agenda budaya telah disiapkan selama pelaksanaan kegiatan. Pada 4 Juni akan digelar Pesta Dadung, Seribu Kentongan, dan Tari Tani.
Kemudian pada 5 Juni dilaksanakan pembukaan pameran artefak budaya dan seminar kebangsaan. Sementara pada 6 Juni masyarakat dapat mengikuti pengobatan gratis serta menikmati berbagai pertunjukan kesenian tradisional.
Memasuki 7 Juni, perhatian pengunjung akan tertuju pada Helaran Budaya dan Harmoni Lintas Iman, agenda yang selama ini menjadi salah satu ikon Seren Taun sekaligus simbol kehidupan masyarakat Cigugur yang menjunjung tinggi toleransi dan kerukunan.
Puncak perayaan akan berlangsung pada Senin (8/6) melalui prosesi Ngajayak, yakni arak-arakan padi hasil panen menuju leuit adat.
Prosesi tersebut akan diiringi berbagai pertunjukan seni tradisional, seperti Tari Jamparing Apsari, Angklung Kanekes, dan Angklung Buncis.
Momen yang paling ditunggu masyarakat adalah ritual penumbukan padi massal menggunakan alu dan lesung.
Prosesi sakral tersebut menjadi simbol rasa syukur atas hasil panen sekaligus doa bersama agar musim tanam berikutnya membawa keberkahan dan kemakmuran.
Seren Taun tidak hanya menjadi agenda budaya masyarakat adat Cigugur, tetapi juga telah berkembang menjadi daya tarik wisata budaya yang dikenal luas.
Setiap tahun, ribuan pengunjung dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara datang untuk menyaksikan kekayaan tradisi Sunda yang tetap lestari di tengah arus modernisasi.
Melalui penyelenggaraan Seren Taun 2026, Paseban Tri Panca Tunggal kembali menegaskan perannya sebagai pusat pelestarian budaya Sunda sekaligus ruang perjumpaan berbagai elemen masyarakat dalam semangat kebersamaan, toleransi, dan penghormatan terhadap warisan leluhur. (Angga)












































































































Discussion about this post