KAB.CIREBON, (FC).- Tak seperti pedagang lain yang ramai menjajakan dagangan di pinggir jalan atau berkeliling, Kasmen (90) hanya duduk diam di satu titik yang sudah ditentukan oleh pemilik bendera yang ia jualkan.
Ia tidak memiliki lapak sendiri dan tidak berpindah tempat. “Saya disuruh jualan. Saya sendirian di sini,” ujarnya singkat saat ditemui, Rabu (6/8).
Kasmen mengaku hanya dititipkan untuk menjual bendera milik orang lain. Harga bendera yang ia bawa berkisar antara Rp50.000 hingga Rp200.000. Dari penjualan tersebut, ia mendapatkan penghasilan kadang hanya Rp25.000 sehari—bahkan sering kali tidak mendapatkan apa-apa.
“Saya mah enggak tiap tahun jualan, jarang. Tidak punya usaha lain juga, biasanya di rumah saja,” ujarnya.
Meski penglihatannya sudah mulai terganggu karena faktor usia, ia tetap menjalani aktivitasnya dengan tekun. Ia tidak memiliki usaha lain, dan hidup sebatang kara. Bapak Kasmen menyebut bahwa ia memiliki seorang anak, namun sudah lama tidak pulang dan ia tidak tahu keberadaannya.
Meskipun berada dalam kondisi terbatas, ia tidak menggantungkan hidup pada bantuan pemerintah. “Enggak perlu uang pensiunan, saya enggak mengharapkan uang negara. Yang penting saya masih bisa bela negara, menjual bendera merah putih,” tuturnya sambil tersenyum kecil.
Wajah renta dan pakaian sederhananya menggambarkan kesahajaan dan keteguhan. Di balik tubuh yang lemah, semangatnya untuk tetap berpartisipasi menyambut Hari Kemerdekaan RI tidak pernah padam. Kasmen menjadi potret nyata perjuangan hidup dan bentuk sederhana dari rasa cinta tanah air. (Raihan/PPL)














































































































Discussion about this post