Serangan militer Israel di seluruh wilayah Lebanon menewaskan puluhan orang, hanya beberapa jam setelah diumumkannya gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.
Serangan menghantam sejumlah kawasan komersial dan permukiman padat di pusat Beirut tanpa peringatan.
Serangan ini terjadi di tengah meredanya konflik antara AS dan Iran.
Militer Israel menyatakan, pada Rabu mereka melancarkan serangan terkoordinasi terbesar sejak operasi militer baru dimulai pada 2 Maret.
Target serangan mencakup Beirut, Lembah Bekaa, dan wilayah Lebanon selatan.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sebelumnya menegaskan bahwa gencatan senjata AS-Iran tidak mencakup Lebanon.
Israel diketahui tengah melanjutkan kampanye militernya melawan kelompok bersenjata Hizbullah.
Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan, puluhan orang tewas dan ratusan lainnya terluka akibat serangan tersebut.
Menteri Pertahanan Israel Katz menyebut serangan menargetkan infrastruktur Hizbullah.
Ia mengklaim, militer Israel menghantam ratusan target dalam waktu singkat.
“Dalam waktu 10 menit, lebih dari 100 pusat komando dan situs militer Hizbullah diserang secara bersamaan,” kata Katz.
Militer Israel juga menyatakan sebagian besar target berada di area permukiman. Namun, mereka mengklaim telah berupaya meminimalkan korban sipil.
Di lapangan, kepulan asap terlihat membumbung di atas Beirut. Warga panik dan berhamburan ke jalan.
Reporter Al Jazeera, Malcolm Webb, melaporkan suara ledakan terdengar di berbagai penjuru kota.
“Ledakan besar terdengar dari banyak area. Situasi memicu kepanikan. Anak-anak menangis, warga berteriak, dan korban berlarian menuju rumah sakit,” ujarnya, dikutip dari Al Jazeera pada Kamis (8/4).
Kondisi di Beirut dilaporkan kacau. Sejumlah warga meninggalkan kendaraan mereka di tengah kemacetan untuk menyelamatkan diri.***











































































































Discussion about this post