Oleh: Endang Kurnia
Direktur Madani Private Learning Indramayu
Keresahan para orang tua menghadapi pembelajaran daring/online sudah memuncak. Setiap hari, mereka disibukkan oleh keribetan anak dalam menyiapkan dan melaksanakan belajar di rumah. Belum lagi menghadapi masalah sinyal dan paketan internatan yang sangat merisaukan. Wilayah tertentu bahkan tidak terjangkau oleh jaringan sinyal yang menambah ketidaksiapan untuk melaksanakan pembelajaran daring.
Anak-anak pun sudah memuncak rasa lelahnya setiap hari di rumah. Rutinitas pembelajaran daring telah merampas kemerdekaan anak selama di sekolah. Di balik pembelajaran daring, ada satu masalah serius yang terkait dengan biaya. Ada indikasi komersialisasi pendidikan pada masa pandemi Covid-19.
Apa dampaknya? Kondisi pandemi Covid-19 mulai luntur dari perhatian masyarakat. Masyarakat terlihat mulai acuh terhadap dampak negatif pandemi Covid-19 karena desakan ekonomi. Lima bulan berlalu sejak dinyatakan Covid- 19 sebagai pandemi telah meluluhlantahkan perekonomian masyarakat.
Bahkan secara umum pertumbuhan ekonomi Indonesia cenderung melemah dan belum tampak ada arah menaik. Selama siswa belajar di rumah kebutuhan anak justru meningkat. Perpanjangan masa belajar di rumah tanpa disadari ada komersialisasi pendidikan. Ada pihak-pihak yang diuntungkan dan dirugikan dari pembelajaran daring.
Jumlah peserta didik mencapai 45,3 juta jiwa (2019), yang terdiri atas Sekolah Dasar (SD) sebanyak 25,49 juta (56,26%), Sekolah Menengah Pertama (SMP) mencapai 10,13 juta jiwa (22,35%), Sekolah Menengah Atas (SMA) mencapai 4,78 juta jiwa (10,56%) dan untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebanyak 4,9 juta jiwa (10,83%).
Melihat jumlah siswa yang membutuhkan kuota internet dan alat-alat telekomunikasinya menyebabkan adanya komersialisasi pendidikan. Komersialisasi pendidikan harus ditiadakan, harus disetop. Hal ini karena akan menghancurkan dunia pendidikan. Dengan asumsi rata-rata satu siswa membutuhkan dana Rp 100.000/bulan, maka akan ada perputaran uang lebih dari Rp 4,5 triliun hanya untuk kuota internet.
Kualitas Pendidikan
Pemerintah telah memaksa jutaan anak sekolah melakukan pembelajaran daring. Pembelajaran daring membutuhkan perangkat teknologi yang memadai dan kuota internet yang cukup, perangkat handphone Android, dan itu semua masih tergantung pada sinyal internet yang tersedia. Bukan hal mudah bagi orang tua yang benar-benar terdampak Covid-19.
Terkait dengan hal ini, sejumlah orang tua siswa memang tidak mampu secara ekonomi. Banyak orang tua terkena PHK, usahanya menurun bahkan tutup, mobilitas terbatas, dan sumber modal kerja tidak ada. Terlebih keuangan keluarga tergerus oleh kebutuhan pendidikan anak yang meningkat akibat pembelajaran daring.
Melihat mobilitas masyarakat yang sudah tidak terkendali, akibat desakan kebutuhan ekonomi, sebenarnya sekolah-sekolah sudah berani untuk menyelenggarakan pembelajaran tatap muka, tetapi dengan melaksanakan protokol kesehatan. Lebih baik pemerintah mengambil sikap membuka kran untuk melaksanakan pembelajaran tatap muka dengan beberapa catatan penting.
Misalnya jam pelajaran dikurangi, tidak ada jam istirahat di luar kelas, guru tidak memberikan tugas melalui medsos (media sosial) dan siswa harus antarjemput orang tua atau sekolah. Pembelajaran tatap muka akan menghindarkan komersialisasi pendidikan, meringankan beban orang tua, dan membuat siswa tidak jenuh di rumah terus.
Komersialisasi pendidikan daring juga berakibat banyaknya anak kecanduan games di handphone dan aplikasiaplikasi yang lain. Anak akan terbentuk menjadi siswa yang egois dan individualistis karena tidak suka bergaul dengan teman-teman sebaya di luar rumah.
Anak-anak lebih suka berdiam diri di rumah berteman dan berkomunikasi dengan teman-teman di dunia maya. Ini dampak yang sangat serius dan jangan sampai dibiarkan berlarut-larut karena akan melahirkan generasi egois. Pemerintah, melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), harus menyikapi penyelenggaraan pembelajaran daring secara bijak.
Pemerintah tidak hanya mendengarkan pembisik-pembisik di sekitar Mendikbud, tetapi harus mendengar suara tokoh-tokoh pendidikan, lembaga-lembaga pendidikan, dan suara masyarakat umum melalui berbagai media. Pemerintah jangan hanya mengedepankan kepentingan bisnis pihak-pihak tertentu, tetapi menyusahkan siswa dan orang tua.
Pendidikan harus diselenggarakan secara manusia dengan mempertimbangkan faktor-faktor lain di luar sekolah, seperti ekonomi keluarga dan lingkungan sosial. Komersialisasi pendidikan harus dihindari, harus disetop karena komersialisasi pendidikan akan melupakan kualitas pendidikan. Pemerintah sibuk menghadapi hujatan orang tua siswa, tetapi melupakan kualitas pendidikan.













































































































Discussion about this post