KOTA CIREBON, (FC).- dr. Edial Sanif kembali dipercaya memimpin Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Cirebon untuk masa bakti 2026–2031. Ia terpilih dalam Musyawarah Kota (Muskot) XIX PMI Kota Cirebon yang digelar di Aula PMI Kota Cirebon, Jalan Sudarsono, Kamis (30/4).
Kegiatan tersebut dihadiri oleh pengurus PMI Provinsi Jawa Barat, dr. Tjatja Kuswara, serta para peserta Muskot yang terdiri dari unsur pengurus dan relawan PMI Kota Cirebon.
Usai terpilih, dr. Edial menegaskan langkah awal yang akan dilakukan adalah memperkuat konsolidasi organisasi. Menurutnya, hal ini menjadi fondasi penting sebelum menjalankan berbagai program kerja selama lima tahun ke depan.
“Yang pertama tentu konsolidasi organisasi. Setelah itu, kita segera menyusun program kerja. Dalam waktu dekat, paling tidak satu bulan ke depan, kita harus sudah membentuk kepengurusan lengkap, melakukan sosialisasi organisasi, serta mematangkan program kerja yang akan dijalankan,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang kembali memberikan kepercayaan kepadanya. Tak lupa, dr. Edial menyoroti peran penting media dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kegiatan kemanusiaan.
“Terima kasih atas kepercayaan yang diberikan. Peran media selama ini sangat membantu PMI dalam menumbuhkan kepedulian masyarakat. Ke depan, kami berharap sinergi ini semakin baik,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, dr. Edial turut menyinggung tantangan pemenuhan stok darah, khususnya golongan darah langka seperti rhesus negatif. Ia menyebut PMI Kota Cirebon menjadi salah satu daerah di Jawa Barat yang memiliki komunitas pendonor rhesus negatif.
“Rhesus negatif ini sangat khusus dan jumlahnya terbatas. Tidak bisa sembarangan, karena penerima dengan rhesus negatif hanya bisa menerima dari donor dengan rhesus yang sama. Alhamdulillah, kita memiliki komunitasnya, bahkan daerah lain sering meminta bantuan ke Cirebon,” jelasnya.
Selain itu, PMI Kota Cirebon juga telah memiliki database pendonor yang terus diperbarui. Dengan metode terbaru, donor darah kini dapat dilakukan setiap dua bulan sekali, lebih cepat dari sebelumnya yang umumnya tiga bulan.
“Ada pendonor yang sudah lebih dari 100 kali, bahkan mencapai 115 kali donor. Untuk yang mencapai 100 kali biasanya mendapat penghargaan dari Presiden,” ungkapnya.
Ia menambahkan, donor darah bersifat sukarela tanpa batasan domisili. Banyak pendonor yang tetap kembali ke Cirebon untuk mendonorkan darahnya meskipun telah berpindah tempat tinggal.
“Donor itu soal keikhlasan, tidak dibatasi domisili. Bahkan ada yang sudah pindah ke luar kota, tapi saat donor tetap kembali ke Cirebon,” ujarnya.
Dengan kepemimpinan yang kembali diembannya, dr. Edial berharap PMI Kota Cirebon semakin solid dan mampu meningkatkan pelayanan kemanusiaan bagi masyarakat, khususnya dalam pemenuhan kebutuhan darah dan respons terhadap berbagai situasi darurat. (Agus)











































































































Discussion about this post