MAJALENGKA, (FC).- Indonesia ikut terlibat dalam menjalankan penelitian pembuatan vaksin COVID-19. Salah satunya uji klinik Fase III vaksin Sinovac di Universitas Padjadjaran.
Penelitian tersebut dikawal langsung oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk memastikan keamanan, kualitas, dan manfaat vaksin COVID-19 yang nantinya akan digunakan oleh masyarakat. Pendampingan dimulai sejak protokol uji klinik dimulai hingga saat ini memasuki Fase III. Upaya tersebut diharapkan dapat mempercepat penerbitan regulasi yang dibutuhkan.
Ketua tim Riset Uji Klinik Vaksin Covid-19 Unpad, Prof.Dr. Kusnandi Rusmil dalam acara Dialog Produktif bertema Menjawab Berbagai Keraguan Soal Vaksin, yang diselenggarakan Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), menerangkan, bahwa pihaknya sudah melakukan 1620 suntikan pertama, kemudian 1590 suntikan kedua.
“Sampai sekarang itu tidak ada (efek) yang mengkhawatirkan.” kata Prof. Dr. Kusnandi Rusmil, Rabu (4/11).
Menurutnya, Hasil uji klinik Fase III yang diselenggarakan di Unpad ini nantinya akan digabungkan dengan data dari hasil uji klinik Fase III di Negara lain. Gabungan data hasil uji klinik Fase III dari berbagai tempat di belahan dunia (multi center) inilah yang nantinya akan menjadi acuan regulator untuk melanjutkan ke fase berikutnya.
Kemudian hingga sejauh ini, hasil uji klinik Fase III di Unpad cukup bagus.
“Ini termasuk uji klinik yang aman sejauh ini, dibandingkan dengan hasil uji klinik vaksin tetanus dan difteri, ini lebih aman,” tambah Kusnandi Rusmil.










































































































Discussion about this post