KAB. CIREBON, (FC).- Tak henti-hentinya belajar, Sujadi atau yang akrab disapa Jadi, berhasil menciptakan mesin CNC Laser untuk pesanan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Diperindag) pada tahun 2020 lalu, buktikan belajar atau berkarya dapat berjalan meski sudah tak sekolah lagi.
Hal ini diungkapkan pria asal Cangkoak, Kecamatan Dukupuntang, bahwa mesin CNC Laser ini dibuat berdasarkan ketertarikan yang berubah menjadi hobi terhadap teknik mesin dan elektronik.
Meski, bukan lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) atau Sekolah Teknik Menengah (STM) Sujadi berhasil buat mesin CNC Lokal yang dipelajarinya melalui buku, Google, dan Youtube.
Pria yang miliki 2 orang anak ini mengungkapkan, telah mempelajari dan memahami cara merakit mesin CNC ini sejak tahun 2009.
“Baca buku, baca di google artikel-artikelnya, dan liat youtube juga. Tapi, karena tahun 2009 youtube belum sepopuler sekarang banyak sekali hambatan,” tutur Jadi, Minggu (3/1).
Hambatannya, lanjut Jadi, handphone yang masih jadul, jaringan yang masih terbatas dan lelet, juga karena channel youtube masih sedikit yang membahas masalah permesinan menjadi kendala terbesar.
“Dulu channel lokal masih jarang, kebanyakan channel luar negeri dan yang bahas soal mesin CNC ini itu channel orang Turki punya,” bebernya.
Masih kata Jadi, karena ini bahasa yang cukup asing di telinganya, maka ia hanya melihat peralatan dan spare part yang dipakai dalam channel tersebut.
Diungkapkan pria yang berlatar belakang pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) ini, puluhan bahkan ratusan kali menonton video mesin CNC namun masih belum mengetahui, nama mesinnya.
“Awalnya cuma lihat buatnya saja terus kan terkait dengan video yang lain, dan akhirnya makin sering diliat dan dilihat judulnya, ada 1 kata yang selalu ada yaitu CNC,” ujar Jadi.
Dari 1 kata itu, lanjutnya, dia mencari di Google dengan nama CNC dan muncul berbagai artikel, blog, dan jurnal pembahasan mesin CNC ini.
Namun, dikarenakan faktor U atau finansial. Jadi, hanya dapat menunggu sembari mengumpulkan anggaran untuk pembelian spare part yang cukup mahal.
“Mahal dan jauh, hanya ada di China, kalau di Indonesia di Jakarta itu lebih mahal lagi,” tandasnya.
Makanya, tambah Jadi, kalau pesanan yang masuk dari konsumen itu santai maka harga normal. Sedangkan, kalau buru-buru bisa 2 kali lipat karena, ngambil langsung dari Jakarta.
“Kan, kalau beli dari China harus nunggu lebih dari 2 minggu datangnya. Tapi, karena konsumen butuh cepat ya harga naik untuk beli bahan baku yang lebih mahal di Jakarta,” bebernya.
Dilanjut dengan awal pembuatan mesin yaitu, Masuk tahun 2012 pria yang berusia 40 tahun ini berhasil membuat mesin CNC Router dengan bahan yang ada di sekitar Cirebon serta beberapa bahan ia beli dari toko online.
“Awal bikin mesin CNC Router itu pakai rel sliding untuk laci, dan kusen jendela yang bahan baja ringan, dan Alhamdulillah berhasil,” ucapnya.
Dari sanalah, sambung Jadi, mulai belajar lagi dan menshare hasil karyanya di Facebook, yang membuat orabg-orang tertarik.
“Di posting di facebook, banyak yang tanya dan kebanyak luar Cirebon, khususnya wilayah Jawa Tengah Semarang dan sekitarnya,” tambahnya.
Sejak saat itu, masih kata Jadi, dibuat grup pesan whatsapp yang berjumlah hingga ratusan, yang tentunya banyak pula yang keluar dan masuk.
Setelah, men-share hasil belajar dan praktinya melalui pesan, ia juga membagikan ilmunya melalui youtube. Tidak lupa pula ia mengumpulkan modal untuk mesin CNC router selanjutnya.
“Saya bantu teman-teman yang mau belajar, tidak hanya saya teman-teman di grup whatsapp banyak yang buat videonya juga, dan mendapat respon positif juga,” ujar Jadi.
Dan, tambahnya, melewati bertahun-tahun lamanya, pada tahun 2017 lah Jadi melaunching produknya ke muka umum dan mulai menerima pesanan.
Sedangkan, untuk mesin CNC Router pertama buatannya telah diberikan kepada kawannya sebagai kenangan setelah pameran di wilayah Kota Cirebon.
Tak hanya membuat mesin CNC router dengan ukuran besar atau seukuran papan tripleks, berbagai ukuran Jadi kerjakan, mulai dari ukuran 20×30 cm, 30×60 cm, dan varian ukuran lainnya.
Juga, disusul dengan mesin CNC Deoda , dan mesin CNC Laser. Tentunya dengan varian harga mulai dari Rp3 Juta hingga puluhan juta rupiah.
Untuk sekarang banyaknya pesanan mesin CNC Router dari sekolah-sekolah untuk belajar dan kebanyakan dari wilayah Jabodetabek, Semarang, Kalimantan, Padang, dan wilayah luar Ciayamajakuning lainnya,” papar Jadi.
Ada juga pemesanan kedua mesin lainnya seperti Dioda dan Laser. Hanya saja, untuk Dioda cukup jarang dikarenakan fungsinya yang terbatas yang hanya dapat untuk media yang lembut seperti kulit atau sponge.
Sedangkan, untuk mesin CNC Laser, dapat untuk berbagai media khususnya kayu, kaca, akrilik, dan masih banyak lagi.
Dan untuk perbedaan sistem CNC Router dengan Laser adalah penggunaan tabung CO2 yang digunakan untuk menembak laser pada media tertentu untuk melakukan pemotongan dan pembentukan. Yang tentu lebih efektif dan efisien dari CNC router.
Sedangkan, router menggunakan mata bor yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan baik memotong, menggrafir, ataupun memberi marka.
Dan untuk CNC dioda sesuai namanya memakai laser dioda yang memang kekuatannya dibawah laser CO2, sehingga tak dapat memotong material yang tembus pandang seperti kaca.
Perbedaan keduanya yang menonjol dipaparkan Jadi adalah, hasil dari pemotongannya, yang terdapat gosong atau sisa pembakaran oleh laser dan hasil potongan Router yang mulus tanpa ada gosong atau noda hitam terbakar.
Sayangnya, kemampuan, dan ilmu pengetahuan Sujadi ini belum diketahui oleh pemerintah Kabupaten (Pemkab).
Maka besar harapan Sujadi, agar segera pemkab melirik hobinya ini dan dapat mengulurkan bantuan spare part atau bahan baku untuk usaha dan hobinya ini.
“Kalau dana khawatir tak terburu membeli, saya berharap pemerintah bantu dengan bahan baku atau spare part. Karena itu yang mahal dan dibutuhkan,” pungkasnya. (Sarrah/Job/FC)
















































































































Discussion about this post