KOTA CIREBON, (FC).- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Cirebon terus memperkuat literasi dan inklusi keuangan di wilayah Ciayumajakuning melalui berbagai program strategis sepanjang Tahun 2026.
Hal ini terungkap saat kegiatan Bancakan (Bincang Asik Seputar Jasa Keuangan) l, dengan puluhan awak media se-Ciayumajakuning, di Kantor OJK Cirebon Jaln Dr Cipto Mangunkusumo 133 Kota Cirebon.
Langkah ini dilakukan melalui pengembangan Desa Ekosistem Keuangan Inklusif (Desa EKI), edukasi keuangan, serta peningkatan layanan perlindungan konsumen. OJK menargetkan akses keuangan yang lebih merata, terutama bagi masyarakat di wilayah pesisir dan pedesaan.
Kepala Kantor OJK Cirebon, Agus Muntholib mengatakan, sepanjang Triwulan I 2026, OJK Cirebon telah melayani 901 konsultasi dan pengaduan konsumen.
Mayoritas berasal dari sektor fintech lending dan perbankan umum. “Permasalahan yang paling sering dilaporkan meliputi Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK), penipuan, serta penyalahgunaan data.
Selain itu, layanan Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) mencatat 4.770 permintaan, dengan dominasi pengajuan secara langsung. Hal ini menunjukkan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap akses informasi kredit,” kata Agus, Rabu (29/4).
Menurut Agus, untuk memperluas inklusi keuangan, OJK Cirebon menetapkan lima lokasi Desa EKI pada 2026. Program ini dijalankan melalui Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) bersama pemerintah daerah dan pemangku kepentingan.
“Salah satu fokus utama kami berada di kawasan wisata Situ Cipanten, Desa Gunung Kuning, Kabupaten Majalengka. Pada 16 April 2026 yang lalu, OJK bersama Bupati Majalengka menandatangani komitmen pengembangan kawasan tersebut sebagai pusat ekonomi berbasis pariwisata,” tutur Agus.
Selain itu, masih kata Agus, Desa Gebang Mekar di Kabupaten Cirebon juga menjadi lokasi prioritas. Melalui program “Bahari Tangguh, Ekonomi Maju”, OJK memberikan edukasi keuangan kepada nelayan guna meningkatkan akses pembiayaan produktif.
“OJK juga mendukung program pemerintah melalui inisiatif “PINTAR” di Desa Paninggaran, wilayah dengan tingkat kemiskinan ekstrem. Edukasi keuangan dilakukan secara bertahap dengan melibatkan berbagai lembaga jasa keuangan,” ujarnya.
Sebagai bagian dari program tersebut, OJK akan meluncurkan kegiatan sosial “Buku Layak Pakai” untuk mendukung pendidikan masyarakat. Program ini menjadi pintu masuk membangun kepercayaan sebelum edukasi keuangan diperluas.
“OJK terus mendorong literasi keuangan berbasis komunitas agar masyarakat mampu mengakses layanan keuangan secara bijak dan aman,” jelas Agus.
Selain itu, OJK juga menegaskan komitmen terhadap tata kelola yang bersih melalui penerapan program pengendalian gratifikasi. Seluruh mitra dan pemangku kepentingan dilarang memberikan hadiah dalam bentuk apa pun kepada jajaran OJK.
“Ke depan, OJK Cirebon akan memperluas program literasi melalui skema product matching. Strategi ini bertujuan menghadirkan layanan keuangan yang mudah, terjangkau, dan sesuai kebutuhan masyarakat di Ciayumajakuning,” pungkasnya. (Agus)













































































































Discussion about this post