INDRAMAYU, (FC).– Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Indramayu, Edi Fauzi mendatangi salah satu rumah Siswa SMP Korban Kekerasan Seksual, tepatnya di Desa Kopyah Kecamatan Anjatan, Kabupaten Indramayu, Jumat (24/4).
Kedatangan Anggota DPRD ini, untuk memastikan kondisi siswa yang mendapat perlakuan tidak pantas oleh seorang Guru Ekstrakurikuler di lingkungan sekolah tempat mereka belajar.
“Kejadian ini sangat miris, apalagi terduga pelakunya seorang Guru dan dilakukan dilingkungan sekolah, dimana seharusnya menjadi tempat belajar mengajar untuk generasi muda yang baik,” ujar Anggota Komisi II DPRD Indramayu, Edi Fauzi.
Dikatakan Edi, kunjungannya ke rumah korban siswa kekerasan seksual ini merupakan bentuk dukungan moral dan psikologis kepada para korban, agar para korban ini tidak mengalami trauma yang berkepanjangan akibat kejadian ini.
“Kami juga memberikan penguatan psikologis agar para korban merasa tidak sendiri, berani mengungkapkan fakta, dan dijamin keamanannya,” kata Edi Fauzi, di rumah salah satu korban
Edi mengatakan, berdasarkan hasil keterangan, jumlah korban ini diduga lebih banyak dari yang saat ini terdata.
Bahkan, jumlah korban yang awalnya belasan orang berpotensi bertambah menjadi puluhan, karena masih banyak yang belum berani melapor.
“Masih banyak korban yang belum berani speak up. Bahkan kami menemukan adanya dugaan intimidasi terhadap korban agar tidak mau menjadi saksi dalam kasus ini,” ungkapnya.
Ia menegaskan, DPRD akan terus berkoordinasi dengan aparat kepolisian, khususnya Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA), serta Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A), guna memastikan penanganan kasus berjalan maksimal dan berpihak kepada korban.
“Penanganan harus mengedepankan perlindungan anak, pelaku harus segera ditangkap, dan korban mendapatkan pemulihan psikologis. Kami yakin kepolisian profesional dan memiliki perangkat yang lengkap untuk menangani kasus ini,” tegasnya.
Menurut Edi, mayoritas korban merupakan siswa laki-laki, meski terdapat pula korban perempuan.
Dugaan perbuatan tersebut terjadi di beberapa lokasi, termasuk di lingkungan sekolah.
Ia juga menyayangkan lambannya respons pihak sekolah saat menerima laporan awal, sehingga terduga pelaku diduga melarikan diri.
“Kami sangat menyayangkan ketika ada laporan, pihak sekolah tidak segera merespons, sehingga pelaku keburu kabur,” ujarnya.
Sementara itu, Salah satu keluarga Korban, Topan (48) mengatakan pihaknya berharap kasus ini agar segera di usut tuntas dan pelaku ditindak tegas atas perbuatannya tersebut.
“Kalau kondisi ini dibiarkan, saya takut ada korban anak anak lain, makanya kejar dan tangkap dan adili oknum guru Y (24) tersebut,” pungkasnya. (Agus Sugianto)










































































































Discussion about this post