KAB. CIREBON, (FC),- Situs Ki Lobama yang merupakan makam Keramat Ki Gede Mundu (Syekh Mudarim), Syekh Brata Kelana (Pangeran ing Desa Lautan) dan Mbah Syekh Kilobama (Syekh Abdurrohman Al Baghdadi) di Desa Mundu Mesigit, Kecamatan Mundu Kabupaten Cirebon akan dikembangkan menjadi destinasi wisata religi dan kuliner.
Kuwu Desa Mundu Mesigit, Syarifudin menjelaskan, situs Ki Lobama merupakan situs makam keramat yang sehari-harinya tampak terlihat sepi, sunyi, namun teduh dan tenang.
Hal itu menjadi daya tarik tersendiri untuk dikembangkan menjadi cagar budaya dan wisata lainnya.
Seperti kuliner dan kegiatan bernuansa islami, yang dapat mendongkrak ekonomi masyarakat lebih maju dan berkembang.
“Situs makam ini selain bersejarah, juga sangat cocok digunakan untuk bertafakur dengan suasana yang asri dan tenang, membuat para peziarah dapat khusyuk dalam bermunajat pada Allah SWT. Agar hajatnya diridhoi serta hidupnya bahagia dunia dan akhirat.” ungkapnya kepada FC, Minggu (4/7).
Oleh karena itu, kata Syarifuddin, hal yang wajar bila potensi wisata religi bagi masyarakat Mundu Mesigit ini perlu terus dikembangkan, sebagai upaya kearifan lokal untuk menjaga dan melestarikan budaya khususnya bagi masyarakat di Kabupaten Cirebon.
Pelestarian budaya ini harus didukung dengan kebijakan pemerintah, untuk terus melestarian bukti sejarah, sekaligus mampu mendorong tumbuhnya perekonomian masyarakat.
Melalui usaha kecil yang bersifat home industri yang bisa berkembang seiring dengan budaya yang ada.
”Dengan adanya situs yang mempunyai nilai sejarah ini, kita bisa mengembangkan kawasan tersebut sebagai objek wisata religi, temasuk diantaranya menata kawasan Makam Ki Lobama menjadi destinasi wisata dengan kelengkapan pendukung. Seperti tersedianya cindera mata, oleh-oleh khas Cirebon, bahkan hingga ke kuliner tradisional khas pesisir seperti ikan bakar dan seafood,” imbuhnya.
Syarifuddin menambahkan, kawasan wisata religi ini, bisa dikembangkan Pemkab Cirebon bersama pemerintahan desa, sehingga bisa dikelola dan ditata menjadi magnet kegiatan ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Dan untuk pengembangan usaha kecil ini, ia menilai butuh peran pemdes Mundu Mesigit untuk membangun badan usaha milik desa (Bumdes) dalam menyediakan kebutuhan pengusaha kecil dan pengrajin dengan menyediakan toko sembako bagi mereka.
“Kalau ada Bumdes yang menyediakan kebutuhan pengusaha kecil, berupa penyedian sembako maka hal ini bisa menumbuhkan pedagang kecil di sekitar lokasi wisata religi tersebut. Bumdes bisa menyediakan gerobak pedagang kecil, yang nantinya mereka berbelanja di Bumdes, yang keuntungannya juga bisa dinikmati bersama,” ungkapnya.
Selain wisata religi, kata dia, program kedepan akan dikembangkan sebagai kawasan agrowisata yang memiliki potensi bagi peningkatan pendapatan asli desa.
“Kami berharap Virus Corona cepat berlalu dan masyarakat hidup normal kembali seperti dulu. Dan pembangunan situs dalam perawatan dan renovasi harus di lakukan agar semua peninggalan sejarah juga budaya tidak punah di telan zaman digitalisasi,” tambahnya.
Sementara juru Kunci Ki Lobama, Raden Solihin mengungkapkan, jika melihat dari bentuk bangunan bisa melihat langsung dan nyata, sebuah bangunan pondasi tempo dulu yang tersusun dari tumpukan bata yang merupakan sebuah masjid peninggalan Ki Lobama.
Seorang mubalig dari Timur Tengah, Baghdad yang bernama lengkap Syekh Abdurrohman Al-Baghdadi yang dipercaya sebagai utusan dari Sultonul Aulia Syekh Abdul Qodir al Jailani, untuk menyebarkan agama Islam di tanah Jawa, pada sekitar abad ke-11.
“Ini yang menjadi cikal bakal lahirnya Desa Mundu Mesigit.” Tuturnya.
Raden Solihin pun menceritakan, Makam Adipati Terung saat itu, Syekh Syarif Abdurrohman. Berdakwah di tanah jawa di wilayah yang sekarang bernama Mundu Mesigit untuk melaksanakan misinya dengan membangun masjid yang bila dilihat mirip sebuah bangunan candi di Jawa Timur atau Singasari Akhir.
Selain sebagai sarana ibadah ritual, masjid tersebut juga digunakan beliau untuk menggembleng santri-santrinya dalam menuntut ilmu agama Islam serta ilmu-ilmu lainnya.
Dari sinilah beliau memiliki nama julukan ‘Ki Lobama’ alias Kiai yang loba (banyak) ilmu agama.
“Bangunan masjid ini dikenal dengan istilah masjid seribu jin dan terdapat sumur keramat yang airnya jernih dan adem yang dipercaya para ziarah bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit dan menyucikan diri.” terangnya.
Ditambahkan Raden Solihin, sedangkan Ki Gede Mundu merupakan seorang tokoh yang makamnya berada di Mundu Pesisir.
Beliau juga berasal dari Baghdad yang datang di tanah Jawa sekitar tahun 1420 M, dan merupakan abdi ndalem kesepuhan yang memiliki jasa besar.
Begitupun Pangeran Brata Kelana yang memiliki julukan Seda Ing Lautan, setelah beliau meninggal dan terbunuh di tengah lautan.
Semua tokoh tersebut dimakamkan di pemakaman Ki Lobama Desa Mhndu mesigitnini,” pungkasnya. (Nawawi)













































































































Discussion about this post