KAB. CIREBON, (FC).- Dari makanan buruh hingga makanan sejuta umat, makanan berat khas Cirebon, yaitu Nasi Jamblang yang memiliki ciri khas pembungkusnya dengan daun pohon jati ini ternyata memiliki catatan sejarah yang cukup panjang.
Diungkapkan H. Emon Kusdiman yang merupakan suami dari keturunan generasi ke 5 yaitu Hj Tien Rustini pencetus nasi Jamblang di Cirebon sekaligus pemilik kedai nasi jamblang tulen di kawasan Palimanan, Cirebon, semulanya Berawal dari pembangunan pabrik gula Gempol di tahun 1847 an dan pembangunan pabrik spirtus di beberapa tahun berikutnya 1883, pada era pemerintahan kolonial Belanda.
Abdul Latief kakek buyut dari istri H. Emon yang merupakan seorang pribumi sukses kerap kali meminta pada istrinya Ny. Tan Piaw Lung (Mbah Pulung) untuk menyiapkan makanan berupa nasi dan lauk pauk secukupnya, yang dibungkus daun jati untuk dibagikan kepada para buruh pabrik sebagai “sedekah”.
“Setelah itu, para buruh ini menanggapi dengan positif dan permintaan pesanan nasi bungkus daun jati ini lebih banyak, juga mereka ini mau membayar nasi bungkus daun jati ini,” kata H. Emon, Minggu (17/1).
Pesanan makin hari semakin banyak, mbah Pulung yang bertempat tinggal di blok Ceng Kang Barat selalu mengantar nasi pesanan tersebut ke pabrik.
“Orang-orang sih namainnya Sega Jamblang yang artinya Nasi jamblang, dengan lauk pauk khas seperti tempe goreng, tahu goreng, sayur tahu,Ā panjelan, sambel goreng, dendeng laos, dan kebuk goreng,” tutur H. Emon, pada FC.
Dan, lanjut H. Emon, semakin berkembangnya popularitas nasi jamblang ini tidak lantas berkembang naik secepat usaha saat ini. Disisi lain teknologi yang terbatas, juga dikarenakan, penjualan yang masih dari rumah ke rumah melalui “pengeber” atau pedagang keliling.
Terlebih, pada saat itu penjualan mbah Pulung sebagai generasi pertama masihlah terbatas pada kuli dan buruh di pabrik.
“Tapi, tidak hanya di wilayah Jamblang, Palimanan, dan Gempol saja. Masakan Hj. Tien juga masuk ke kawasan Kota Cirebon terutama Kuli pelabuhan, pegawai Kereta Api, dan penumpang stasiun kereta api,” papar H. Emon.
Miliki 4 orang cucu, di tangan salah satu cucunya Ma Zenah (Siti Zenah) dan suami Kaprawi Nasi Jamblang Berkembang pesat sejak tahun 1932 hingga 1956 dan dicintai oleh seluruh golongan masyarakat.
“Pada masa beliaulah nasi jamblang menjadi jaya serta berkembang pesat, dan membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitarnya,” ucap H. Emon.
Mulai dari, sambungnya, pekerja, tukang masak, pemasok bahan, khususnya “pengeber” yang semakin banyak hingga mencapai 100 orang.
Semakin maju semakin banyak, begitulah penjaja nasi jamblang pada saat memasuki generasi ke-4 yang semakin meramaikan kuliner Cirebon dengan usaha nasi jamblang.
“Banyak pengeber yang akhirnya buka lapaknya sendiri, ada yang bukan asli Cirebon, seperti Tegal, dan orang Sunda juga buka usaha nasi jamblang baik emperan, kedai, dan yang lainnya,” imbuhnya.
Tapi, memang banyak pengusaha nasi jamblang saat itu tidak menerapkan cita rasa, pengolahan, dan menu lauk dan nasi jamblang itu sendiri.
“Hingga akhirnya dirasa, banyak yang rindu serta menanyakan nasi jamblang yang asli dan tulen itu dimana,” tutur H. Emon.
Ketika banyaknya pertanyaan dari pelanggan lama muncul, pada awal tahun 2004 Hj. Tien Rustini cucu dari Ma Zenah dan Bapak Kaprawi dengan sang suami H. Emon tergerak untuk mengembalikan nasi jamblang kepada cita rasa tempo dulu.
Tidak langsung berbentuk kedai, dulu H. Emon dan Hj. Tien berjualan di pinggir jalan, dan perlahan modal cukup dibangunlah sebuah kedai untuk makan. Namun, untuk harga diungkapkan H. Emon masih sama tidak ada perubahan.
Hanya saja, karena telah berbentuk kedai, banyak pelanggan dari kalangan masyarakat biasa berhenti membeli atau ragu untuk membeli. Karena, khawatir akan harga yang sudah tidak sama lagi, yang padahal kenyataannya tidak.
Namun, meski begitu perlahan beberapa pelanggan dari sekitar datang, terutama dari luar kota seperti Jakarta, Bandung, dan kota-kota besar lainnya.
“Karena, mengikuti resep dulu cara memasak kita cukup mirip. Terutama pada bumbu masakan tanpa pemberian MSG atau penyedap rasa,” jelasnya.
Untuk proses masak nasi dan lauk pada saat itu yang ditiru, dibeberkan H. Emon, tentu masih menggunakan metode dan peralatan yang sangat tradisional, seperti Dandang (alat untuk mengukus zaman dulu), tampah, kayu bakar, dan bumbu rempah yang lebih banyak serta beragam.
Adapun daun jati dipilih sebagai pembungkus karena sudah menjadi kebiasaan pada saat itu pembungkus ketika “selametan” atau “hajatan”, bahkan bekal ke sawah nasi dibungkus dengan daun jati, dan untuk lauknya dengan daun pohon pisang.
“Selain itu, memang dikarenakan pori-pori daun jati yang lebih besar, yang membuat nasi lebih tahan lama atau tidak mudah bau atau basi,” pungkasnya. (Sarrah)
















































































































Discussion about this post