KAB. CIREBON, (FC).- Curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah Kabupaten Cirebon beberapa waktu lalu, membuat air meluap hingga merendam ribuan hektare lahan pertanian di 13 kecamatan se-Kabupaten Cirebon. Bahkan hingga saat ini masih ada sebagian lahan pertanian yang masih terendam.
Kepala Dinas Pertania Kabupaten Cirebon, Asep Pamungkas mengatakan, ada 5.760 hektare lahan pertanian padi terkena dampak luapan air atau terendam banjir. Tersebar di 13 kecamatan se-Kabupaten Cirebon.
Di antaranya kecamatan Astanajapura, Mundu, Pangenan, Mundu, Plered, Gunungjati, Kapetakan, Arjawinangun, Panguragan, Susukan, Gegesik, Kaliwedi, Suranenggala, dan Jamblang.
Asep menjelaskan, dari 13 kecamatan yang terdampak banjir pada lahan pertanian tersebut Kecamatan Kapetakan yang menjadi paling banyak terkena dampak banjir.
“Lahan pertanian di Kecamatan Kapetakan yang terendam banjir seluas 1.795 hektare, mungkin karena daerah tersebut dekat dengan muara,” kata Asep saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (1/2).
Selain Kapetakan, lanjut Asep, bencana banjir yang melanda pun ikut merendam lahan pertanian padi di Kecamatan Gegesik. Tercatat, ada 1.121 hektare ikut terendam.
“Dari 1.121 hektare yang terendam, yang gagal tanam seluas 925 hektare dan hingga sekarang ada 533 hektare masih terendam banjir,” katanya.
Selain itu, dari total 5.760 hektare lahan di Kabupaten Cirebon yang terendam banjir, 3.478 hektare lainnya mengalami gagal tanam. Bahkan paling banyak ada di Kecamatan Kapetakan mencapai 1.380 hektare. “Petani yang mengalami gagal tanam harus melakukan kembali tanam ulang,” kata Asep.
Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon mencatat, penyebab ribuan hektare lahan terendam yakni, akibat luapan dari beberapa sungai besar dan terjangan banjir rob dari laut Jawa.
Ia mengatakan, permasalahan banjir di lahan pertanian menjadi tanggung semua pihak, salah satunya Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk-Cisanggarung sebagai otoritas.
Asep menyebut kejadian yang terjadi pada awal 2023 ini, merupakan terparah dalam kurun waktu 5 tahun terakhir dan menyebabkan kerugian hingga Rp23,7 miliar.
“Satu hektare kira-kira mengalami kerugian hingga Rp6,8 juta. Bila kondisi ini terus terjadi, panen raya perdana pada 2023 bakal mundur menjadi April atau Mei,” kata Asep.
Lebih lanjut, Asep mengatakan pihaknya akan membantu agar petani yang terdampak banjir bisa melakukan tanam ulang.
“Untuk bantuan anggaran kita belum ada, namun kami sedang meminta bantuan ke provinsi dan ke pusat,” kata Asep.
Dinas Pertanian juga sudah melakukan berbagai upaya, di antaranya adalah melakukan pompa untuk membuang air pada genangan di area lahan pertanian yang terendam ke tempat lain.
“Kita juga memberikan penyuluhan kepada petani untuk mengganti varietas bibit yang tahan genangan. Selain itu juga, kita berterima kasih kepada Pemdes yang melakukan gotong royong dengan menggunakan dana desanya dengan cara normalisasi saluran irigasinya,” pungkasnya. (Ghofar)









































































































Discussion about this post