MAJALENGKA, (FC).- Program Bank Sampah yang dikelola Tim Penggerak PKK Desa Biyawak, Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka, berhasil mengubah sampah rumah tangga menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat.
Sejak mulai berjalan pada Februari 2026, program tersebut telah menghasilkan kas sekitar Rp 10 juta dari hasil penjualan sampah yang telah dipilah.
Di bawah binaan Ketua TP PKK Desa Biyawak, Hj Iwi S, para kader PKK secara rutin mengumpulkan sampah dari rumah-rumah warga. Sampah yang sebelumnya tidak memiliki nilai kini dipilah berdasarkan jenisnya, kemudian dijual melalui Bank Sampah Induk (BSI) sehingga memiliki nilai ekonomi.
Setiap hari para kader mendatangi rumah warga untuk membeli sampah rumah tangga. Sampah yang terkumpul kemudian dipisahkan menjadi sampah organik dan nonorganik, selanjutnya dikemas sesuai jenisnya sebelum dijual kepada Bank Sampah Induk.
Sampah yang disetorkan warga dihargai sekitar Rp1.500 per kilogram. Uang hasil penjualan tidak dibayarkan secara tunai, melainkan masuk ke dalam tabungan Bank Sampah unit atau ( BSU ) atas nama masing-masing warga sehingga dapat diambil kapan saja saat dibutuhkan.
Menurut Hj Iwi S, program ini berawal dari kegiatan rutin Pemerintah Desa Biyawak dalam menjaga kebersihan lingkungan. Saat itu sampah hanya dikumpulkan dan dibuang ke tempat pembuangan sementara (TPS).
Setelah adanya program Bupati Majalengka yang mendorong pembentukan bank sampah di setiap desa mempunyai Bank Sampah Unit atau BSU TP PKK Desa Biyawak mulai mengembangkan sistem pengelolaan sampah yang lebih produktif.
“Sejak Februari 2026 kami mulai bergerak. Alhamdulillah hingga Juli 2026 kas Bank Sampah sudah mencapai sekitar Rp 10 juta dari hasil penjualan sampah yang telah dipilah,” ujarnya, Selasa (21/7).
Saat ini sekitar 700 kepala keluarga telah menjadi nasabah Bank Sampah Desa Biyawak. Setiap hari warga menyerahkan sampah rumah tangga untuk ditimbang, kemudian nilainya langsung dicatat ke dalam buku tabungan bank sampah.
Salah seorang warga, Wiwit, mengaku merasakan manfaat program tersebut. Dari hasil menabung sampah, saldo tabungannya telah mencapai sekitar Rp300 ribu.
“Uangnya tidak langsung diambil, saya tabung dulu. Nanti kalau ada kebutuhan mendadak atau menjelang Lebaran baru diambil,” katanya.
Setelah dipilah dan dikemas, sampah dijual kepada Bank Sampah Induk yang biasanya melakukan pengambilan setiap dua hari sepekan. Dalam sekali penjualan, sekitar satu hingga kuintal sampah dapat menghasilkan pendapatan sekitar Rp.1 200 000.
Harga jual setiap jenis sampah pun berbeda. Gelas plastik bekas air mineral dapat dijual sekitar Rp6.000 per kilogram, botol plastik sekitar Rp4.000 per kilogram, sedangkan beberapa jenis sampah plastik campuran atau barang bekas rumah tangga bernilai sekitar Rp500 per kilogram.
Keberadaan Bank Sampah dinilai memberikan manfaat ganda bagi masyarakat. Selain menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat, program ini juga memberikan tambahan penghasilan bagi warga melalui sistem tabungan sampah.
Ke depan, TP PKK Desa Biyawak berencana tidak hanya menjual sampah hasil pemilahan, tetapi juga mengembangkan pengolahan sampah organik menjadi pupuk kompos sehingga nilai ekonomi yang dihasilkan dapat semakin meningkat sekaligus mendukung pelestarian lingkungan. (Munadi)






































































































Discussion about this post