KOTA CIREBON, (FC).- Polemik pelurusan sejarah siapa yang berhak menduduki tahta Kesultanan Kasepuhan, kembali memanas. Setelah Pangeran Rahardjo Djali mendeklarasikan sebagai polmak atau pejabat sementara sultan, kini dari pihak yang menyatakan trah dari Sunan Gunung Jati juga ingin turut meluruskan sejarah Cirebon Peteng.
Pangeran Kuda Putih yang menyatakan dirinya trah langsung dari Sunan Gunung Jati, tidak setuju dengan penobatan Lukman Zulkaidin sebagai Sultan Kasepuhan.
Pasalnya, tidak ada atau tidak tertulis dalam susunan keturunan, Lukman adalah trah dari Sunan Gunung Jati maupun Syech Syarif Hidayatullah. Sehingga tidak berhak atas tahta Kesultanan Kasepuhan.
Kuda putih sempat membacakan surat pernyataan, namun belum selesai kericuhan nyaris terjadi. Beruntung pihak kepolisian berhasil meredam dan mengamankan situasi.
Selanjutnya Kuda Putih memberikan keterangan di Keraton Kaprabonan. Dia menilai ada upaya dari pihak luar keraton yang ingin menghalanginya untuk masuk. Pihak tersebut seperti sekelompok preman yang dibayar.
“Kami ini tidak ingin merebut tahta, tujuan kami hanya meluruskan sejarah atas trah dari Sunan Gunung Jati. Agar Sultan Kasepuhan merupakan keturunan dari beliau, tidak seperti saat ini,” jelasnya kepada FC, Jumat (14/8).
Sementara dari pihak yang berseberangan, diungkapkan Raden Bendi Mulyadi bahwa yang Pangeran Kuda Putih atau Heru itu memang trah Syech Syarif Hidayatullah. Namun dari nasab wanita. Sedangkan untuk sultan harus dari nasab laki-laki.
“Dua juga meminjam sebuah kitab penting dari kami. Yang berkaitan dengan sejarah, tapi sampai saat ini belum dikembalikan,” ujarnya.
Sementara dari pihak Keraton Kasepuhan belum ada yang menanggapi peristiwa tersebut. (gus)












































































































Discussion about this post