KAB. CIREBON, (FC).- Seorang pakar teknolog garam, Anwar Kurniawan menemukan teknologi yang mampu mengubah embun laut menjadi air minum yang layak konsumsi, higienis dan menyegarkan.
Air minum embun laut ini diklaim memiliki kandungan oksigen hingga 2 kali lipat dari air minum biasa.
Anwar mengenalkan temuannya itu kepada perwakilan petambak garam dari Krangkeng Indramayu dan dari Bungko Lor Kabupaten Cirebon.
Pertemuan di Desa Bungko Lor yang difasilitasi Caleg DPR-RI, Yosep Umar Hadi ini, Anwar mengenalkan inovasi teknologi produksi garam beserta turunan hasil penelitian teknolog garam tersebut.
Salah satunya inovasi teknologi mengubah air asin dari tambak garam menjadi air minum melalui proses desalinasi.
“Banyak yang belum mencicipi di tambak garam bisa ada air tawar minum dan sehat. Ada embun laut yang menyegarkan, mengurangi dahaga,” kata Anwar, Sabtu (30/9)
Desalinasi ini adalah suatu proses untuk menghilangkan kadar garam berlebih pada air laut untuk dapat menghasilkan air yang dapat dikonsumsi melalui metode filtrasi.
Dalam proses desalinasi ini, Anwar menggunakan model prisma untuk proses penguapan air laut yang dapat menghilangan kandungan garam dan bahan kimia lainnya pada air laut.
“Tidak boleh semua air laut langsung diembunkan. Harus diuapkan dulu minyak-minyak yang ada, karena air laut pasti akan ada lapisan minyak di permukaan,” ujar Anwar
Anwar mencontohkan, dalam wadah tampung berukuran 3,5 meter persegi, dalam satu hari bisa menghasilkan 5 sampai 12 liter atau 1 galon air mineral siap minum.
“Satu keluarga, minimal satu orang 2 liter minumnya. Apalagi kemarau ini boleh 4 liter,” ungkap Anwar.
Anwar mengklaim, air minum embun laut yang diproduksinya lebih bagus dari air minum biasa.
“Apa yang kita produksi lebih bagus, karena satuan Ppm (part per million) ini di atas 70, ini (air minum biasa) di bawah 15. PH nya 7 karena langsung dari air laut. Yang kalah di sini nyata-nyata adalah DO, Disolve Oxigen,” jelasnya.
Disolve Oxigen adalah jumlah oksigen yang terlarut dalam air. Semakin banyak jumlah DO, maka kualitasbair semakin baik.
“Ini (embun laut) minimal (DO) 5, ini (air minum umumnya) paling banter 2,5 atau 3. Jadi dua kali lipat oksigennya,” ujar Anwar yang juga selalu Ketua Koperasi Kristal Laut Nusantara yang menggarap pengembangan produksi garam teknologi tunel di Desa Bungko Lor ini.
Menurutnya, ada beberapa carra atau metode untuk menghasilkan air minum dari air laut melalui filterisasi.
Antara lain metode Sea Water Reverse Osmosis (SWRO), namun ini butuh biaya yang mahal.
“SWRO ini sedikit mahal karena butuh membran butuh listrik. Kalau yang kita pakai ini tidak butuh listrik dari PLN tapi pakai Solar Panel waktu mengisi ke dalam galon,” jelas Anwar.
Begitu juga saat proses penguapan, Anwar tidak menggunakan energi listrik PLN melainkan menggunakan energi tenaga surya yang efisien dan berkelanjutan
“Waktu penguapan hanya matahari, tidak lagi ada yang lain. Jadi sangat irit,” ujarnya. (Andriyana)













































































































Discussion about this post