KOTA CIREBON, FC).- Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian menilai Kawasan Rebana memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi di Provinsi Jawa Barat.
Potensi tersebut tidak hanya terletak pada kekayaan sumber daya alam (SDA), tetapi juga kekuatan sumber daya manusia (SDM).
Hal ini ia sampaikan dalam acara ”Regional Summit Kawasan Rebana” yang diselenggarakan secara hybrid dari Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Kabupaten Majalengka, Jabar, Senin (19/5) lalu.
Mendagri Tito didampingi Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi membeberkan kapasitas fiskal dan profil APBD TA. 2025 se-Jawa Barat.
Mendagri mengatakan, Jawa Barat dalam fiskal provinsinya sangat kuat, namun pihaknya juga membagi wilayah di Jawa Barat ini pada kapasitas fiskal atau kemampuan kuat, sedang dan lemah.
Hal tersebut lanjut Tito, merupakan dua perbandingan dari dua income pendapatan utama yakni Pendapatan Asli Daerah (PAD) dengan Transfer Pusat (TP) seperti, Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Bagi Hasil (DBH) dan Dana Alokasi Khusus (DAK).
Tito menerangkan pada monitor grafik, dimana warna hijau merupakan PAD kota/kabupaten di Jawa Barat dan biru merupakan TP dari Kemenkeu.
“Jawa Barat ini sebenarnya fiskalnya cukup kuat, karena PAD nya tinggi dari pada transfer pusatnya. Yakni 62 persen dari PAD dan 37 persen dari TP,” ucapnya.
Tito membedah kondisi fiskal sejumlah wilayah seperti Kota Cirebon, yang dikatakannya cukup kuat. Dimana 55 persen fiskalnya berasal dari TP dan 45 persennya dari PAD.
“Jadi Kang Dedi, jika anggaran dari pusatnya dikurangi sedikit-sedikit, Jawa Barat tidak akan goyang. Dan jika daerah-daerah ingin mengajukan hibah bisa saja minta ke Kang Dedi, namun tetap harus bisa dipertanggungjawabkan,” kata Tito.
Tito melanjutkan, Kota Bekasi 60 persen TP dan 40 persen PAD, Kota Bogor 56 persen TP dan 44 persen PAD tapi penduduknya banyak sekali, kemudian yang lainnya Kota Bandung, Kabupaten Bekasi, Kota Depok, Kabupaten Bogor.
Seterusnya Kabupaten Subang, ternyata TP nya 71 persen meskipun kalau sirinci lagi TP nya berasal dari DAU atau DBH. Karena sebagian pajaknya ke Jakarta, baru dikembalikan lagi ke Subang. Sumedang dan Kabupaten Cirebon sama, 76 persen anggaran berasal dari TP, sisanya dari PAD. Indramayu dan Majalengka 78 persen anggaran dari TP.
“Kabupaten Kuningan paling berat, 82 persen itu anggarannya berasal dari TP dan PAD nya hanya 15 persen,” jelasnya.
Dari gambaran ini, kata Tito, grafik warna hijau dari PAD berupa pajak daerah dan retribusi, itu menggambarkan kondisi dunia usahanya. Semakin banyak hijaunya (PAD), berarti dunia usahanya hidup, maka pajak daerah dan retribusinya meningkat. Tapi bila hijaunya rendah artinya dunia usahanya belum hidup.
Tito kembali menyoroti Kota Cirebon yang termasuk Kawasan Rebana meliputi Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan, Subang, dan Sumedang, menurutnya Kota Cirebon cukup lumayan fiskalnya, dengan penduduk sekitar 350 ribu jiwa.
“Makanya, tadi Kang Dedi bilang ke saya, bagaimana kalau wilayah sekitaran Cirebon digabung dengan Kota Cirebon. Ya, silahkan boleh saja diajukan,” ungkap Tito.
Sementara Wali Kota Cirebon Effendi Edo menjelaskan, Wali Kota Cirebon, Effendi Edo menyebut, daerah berjuluk ‘Kota Udang’ ini sebagai kota dengan luas wilayah yang kecil namun lengkap dengan berbagai fasilitas yang tersedia.
“Kota Cirebon kota yang paling kecil dibandingkan kawan-kawan (daerah) yang ada di Rebana. Alhamdulillah, Kota Cirebon ini kota kecil tapi lengkap,” ujarnya.
Saat ini, di Kota Cirebon terdapat puluhan hotel dan ratusan rumah makan. Selain itu, Kota Cirebon juga memiliki sejumlah rumah sakit yang kerap menjadi rujukan, serta beberapa pasar tradisional.
“Kita punya rumah sakit rujukan se wilayah tiga (Ciayumajakuning). Karena ada beberapa rumah sakit yang ada di Cirebon dan ada sejumlah pasar tradisional. Kemudian di Kota Cirebon juga saat ini ada 64 hotel dan 232 rumah makan,” ujarnya.
Tidak hanya itu, Edo menyebut, di Kota Cirebon juga terdapat dua pelabuhan. Pelabuhan Cirebon dan Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Kejawanan. “Kita punya pelabuhan skala nasional, pelabuhan Pelindo. Lalu kita juga punya PPN, Pelabuhan Perikanan Nusantara,” terangnya.
Sementara itu, untuk sektor pariwisata di Kota Cirebon juga terdapat empat keraton yang bisa menjadi destinasi wisata sejarah dan budaya. “Kita punya empat keraton. Di jawa, ya di Cirebon yang ada empat keraton,” kata Edo. (Agus)











































































































Discussion about this post