KAB. CIREBON, (FC).– Sanggar Seni Kencana Ungu Cirebon hingga kini terus berupaya melestarikan tradisi yang hampir punah.
Salah satunya adalah dengan tetap mengadakan Tradisi Wayang Kulit dan Tradisi Ruwatan. Kedua tradisi tersebut kali ini diadakan berbarengan dengan proses Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa dari IAIN Syekh Nurjati Cirebon.
KKN di Desa Mertasinga sendiri, diadakan selama 42 hari, dari tanggal 4 Juli sampai 14 Agustus 2023 mendatang.
Wayang Kulit ditampilkan selama satu malam suntuk dalam dua episode yang pertama menceritakan tentang Galuh dengan Serempeng yang dimulai dari pukul 21.30 WIB hingga pukul 02.00 WIB, dan kedua kedua menceritakan tentang Tradisi Ruwatan itu sendiri.
Tetua adat Desa Mertasinga yang juga Pemilik Sanggar Kencana Ungu mengatakan, pagelaran yang di adakan sekarang ini adalah kegiatan rutin diadakan setiap tiga tahun sekali.
Dengan tujuan mempertahankan tradisi yang hampir punah dan memperkenalkan kepada generasi muda terlebih kepada mahasiswa yang tengah KKN di desa setempat.
“Tujuannya mempertahankan tradisi yang hampir punah dan memperkenalkan kesenian daerah Cirebon kepada mahasiswa IAIN Syekh Nurjati Cirebon yang sedang KKN, yang nanti ketika terjun ke masyarakat bisa menyebarluaskan tradisi ini,” katanya, Sabtu (15/7) malam.
Ia menjelaskan, pagelaran wayang kulit yang diadakan selama satu malam suntuk dilanjutkan dengan Tradisi Ruwatan di pagi hari ketika fajar mulai muncul.
“Ini memang prosesnya seperti itu sejak Tahun 60-an atau 70-an kalau Ruwatan pasti sebelumnya itu wayang dulu seperti tadi, kalau mau ruwatan langsung harus jam 5 pagi karena waktu fajar itu dasar hukumnya dari ayat Al-quran yaitu surat Wal Asri,” terangnya.
Ia menambahkan, selain untuk hiburan wayang kulit yang ditampilkan memiliki pesan moral kepada masyarakat yang erat kaitannya dengan falsafah hidup para pendahulu.
“Pesan morl yang disampaikan dalam pagelaran Wayang Kulit adalah terkait dengan perilaku manusia sebagai salah satu gambaran bahwa jangan kan sinatria seorang raksasa saja bebasan (kromo) itu suatu contoh yang baik. Kedua merupakan suatu bentuk gambaran hidup kita bahwa wayang itu adalah kita di dunia nyata. Yang ketiga suri tauladan, dari situ bisa di terapkan kepada diri kita pribadi ataupun orang disekeliling kita, keluarga bahkan sampai anak didik kita. Keempat itu juga iramanya jadi antara wayang ini lagu nya ini itu tidak asal asalan yang terakhir untuk hiburan,” ungkapnya.
Sementara, Wakil Ketua KKN Mandiri Inisiatif Kelompok 118 Misbahul Munir mengatakan, KKN yang diadakan di Desa Mertasinga Kecamatan Gunung Jati diikuti oleh sebanyak 15 orang mahasiswa yang terdiri dari 9 orang perempuan dan 6 orang mahasiswa laki-laki. Tujuan KKN adalag untuk mengebangkan seni dan budaya.
“Sesuai dengan tema kami fokus untuk mengembangkan seni dan budaya yang ada di desa Mertasinga untuk dijadikan sebagai desa wisata yang nantinya bekerja sama dengan IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Program kami selama KKN di sini salah satunya adalah sebagai relawan seni dan budaya yaitu melakukan pendataan kesenian dan kebudayaan apa saja yang ada di desa Mertasinga yang nantinya akan kami publish dan kami juga selama disini belajar bersama masyarakat terkait dengan pendidikan, keagamaan dan tentunya seni dan budaya,” pungkasnya. (Frans)













































































































Discussion about this post