KAB. CIREBON, (FC).- Menjelang datangnya bulan Safar, salah satu momen yang biasanya menjadi waktu panen bagi para produsen kue apem lokal di Cirebon, tahun ini justru menghadirkan kenyataan yang berbeda.
Usaha rumahan kue apem Nok Rokhaya yang berlokasi di Kelurahan Perbutulan, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon mengalami penurunan pesanan secara signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Rumah produksi yang kini dikelola oleh Wastini ini tetap aktif memproduksi kue apem seperti biasa, namun jumlah pesanan yang masuk tidak sebanyak biasanya.
Tradisi membagikan kue apem di bulan Safar yang selama ini diyakini masyarakat sebagai bentuk penolak bala dan doa keberkahan, kini mulai memudar seiring dengan perubahan kondisi ekonomi masyarakat.
“Taun kemarin masih rame, jadi agak beda dari biasanya. Biasanya kalau sudah masuk bulan Safar itu rame, pesanan bisa sampai ratusan bungkus. Tapi sekarang paling mentok 100 bungkus,” ujar Wastini saat ditemui di lokasi produksi, Selasa (5/8).
Baca Juga: Kue Apem, Warisan Kuliner Tradisional Lintas Generasi
Kue apem Nok Rokhaya dikenal memiliki cita rasa khas yang membedakannya dengan apem lain di pasaran. Selain rasanya yang lembut, tekstur apem yang dibuat Wastini juga memiliki keunikan tersendiri.
Proses produksinya pun masih mempertahankan cara tradisional, seperti penggunaan cetakan dari daun pisang dan pemakaian tape singkong sebagai bahan pengembang alami, tanpa menggunakan ragi.
Namun, keterbatasan ekonomi masyarakat serta naiknya harga bahan pokok menjadi kendala utama yang membuat penjualan apem tahun ini menurun drastis.
Wastini mengaku harus menaikkan harga jual produknya dari Rp7.500 menjadi Rp9.000 per bungkus, mengikuti lonjakan harga bahan baku seperti tepung beras, gula merah, kelapa untuk santan, hingga tape singkong.
“Harga bahan pokok pada naik. Tepung beras, aci, kelapa untuk santan, gula merah, sampai tape singkong semuanya naik. Tahun kemarin gula masih Rp8.000, sekarang jadi Rp9.000,” keluhnya.
Kondisi ini membuat sebagian pelanggan setia urung memesan. Banyak dari mereka mengaku sedang mengalami kesulitan ekonomi, bahkan ada yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).
Hal ini turut berdampak langsung pada turunnya daya beli dan keberlanjutan tradisi membagikan kue apem di bulan Safar.
“Agak berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, peminatnya tuh berkurang. Bilangnya karena lagi PHK, pas ditanya katanya kerjanya berhenti,” pungkasnya. (Tim PPL/FC)















































































































Discussion about this post