KOTA CIREBON,(FC).- Karut marut pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tingkat SMA di Kota Cirebon mengemuka. Ada calon murid baru yang rumahnya dekat dengan sekolah tujuan dan nilai rapornya tinggi, namun tertolak.
Kendati SPMB SMA 2026 sudah selesai, namun persoalan yang dianggap janggal masih menyisakan tanya.
Seperti yang dialami DN, pelajar berusia 15 tahun itu gagal masuk ke SMA Negeri 1 Cirebon. Padahal rumahnya di Kelurahan Sukapura, Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon.
Pada tahap Pemetaan Calon Murid Baru (PCMB), ia sempat berada di posisi aman setelah daftar melalui jalur domisili. Namun, akibat adanya masa perpanjangan, DN harus menerima kenyataan terlempar dari kuota hasil PCMB.
“Jarak rumah saya dengan SMA Negeri 1 Cirebon itu sekitar 750 meter lebih. Tapi saya kaget ada siswa yang jaraknya cuma 87 meter dari sekolah,” ungkap DN saat hendak mengadu ke kantor Dewan Pendidikan Kota Cirebon, Senin (22/6/2026).
DN mengaku, dari rumahnya menuju SMAN 1 Cirebon hanya membutuhkan waktu 5 menit berkendara. Namun, impian bersekolah di sana harus pupus lantaran ia tak lolos SPMB.
Hal serupa juga terjadi pada pelajar lainnya, PT (15 tahun). Ia mendaftar SPMB melalui jalur nilai rapor. Memiliki nilai rata-rata rapor 92, namun PT juga tak lolos dalam tahap PCMB di SMAN 1 Cirebon.
“Awalnya posisi saya aman pada saat PCMB. Lalu tergeser jadi di luar kuota saat ada perpanjangan masa PCMB itu,” kata PT.
PT merasa bingung seusai tak lolos PCMB. Sebab, tidak ada informasi yang cukup bagi pendaftar untuk melakukan langkah berikutnya ketika sudah terlempar dari kuota PCMB.
“Tidak ada pemberitahuan sama sekali tentang bagaimana cara melanjutkan ke tahap berikutnya,” ujarnya.
DN dan PT serta satu pelajar lainnya hendak mengadu ke Dewan Pendidikan Kota Cirebon. Ia didampingi pemerhati pendidikan, Hera Damayanti.
Soroti Kuota dan Sekolah ‘Unggulan’
Menanggapi keluhan ketiga pelajar itu, Hera mengaku telah bertemu dengan pejabat terkait di Kantor Cabang Dinas (KCD) Pendidikan Wilayah X Jawa Barat untuk menyampaikan aspirasi para pelajar tersebut.
“Anak-anak ini bukan anak-anak yang tidak pintar. Nilai rata-rata rapor mereka di atas 90 semua. Mereka berjuang dari SD sampai SMP untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik,” ungkapnya.
Menurut Hera, salah satu persoalan dalam pelaksanaan SPMB tahun ini adalah keterbatasan daya tampung di SMA negeri. Mestinya hal ini menjadi perhatian Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
“Yang dibutuhkan Jawa Barat itu kuota, bukan sekolah unggulan. Sekolah unggulan dari dulu sudah ada. Masalah hari ini adalah banyak anak yang tidak tertampung,” tuturnya.
Ia meminta Pemprov Jabar untuk segera mengambil langkah konkret, agar tidak ada pelajar yang kehilangan hak memperoleh pendidikan.
“Saya berharap anak-anak korban SPMB ini ditampung di sekolah negeri. Jangan sampai mereka dipaksa masuk sekolah yang bukan menjadi pilihan mereka,” katanya. (Agus)












































































































Discussion about this post