KOTA CIREBON, (FC).- Pemerintahan Kota Cirebon terus berupaya menurunkan seminimal mungkin angka prevalensi stunting. Hal ini pula dilakukan oleh Kecamatan Kesambi, dengan melakukan penanganan stunting melalui gerakan mengkonsumsi serabi.
Pasca sukses menggelar Festival Serabi dalam rangkaian Hari Jadi Kota Cirebon ke-599 kemarin, Camat Kesambi Eko Budiyanto melakukan inovasi dalam penanganan stunting. Kali ini dengan menggandeng pihak akademisi dari Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya, untuk memberikan pencerahan kepada para kader kelurahan, ibu-ibu dan remaja.
Kegiatan ini dilaksanakan di Aula Kecamatan Kesambi Graha Pancaniti, Selasa (23/6/2026).
Camat Kesambi, Eko Budiyanto mengatakan, inovasi ini berawal dari koordinasi bersama pihak Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya yang telah mendapatkan dukungan anggaran dari Kementerian Kesehatan.
Program tersebut difokuskan pada dua hal utama yakni, penanganan stunting dan pemberdayaan ibu rumah tangga yang bertindak sebagai kepala keluarga.
“Kami melihat ada potensi besar dari UMKM kuliner khas Cirebon, yaitu serabi. Oleh karena itu, saya meminta pihak kampus untuk meneliti lebih dalam, apakah serabi ini bisa efektif membantu menurunkan stunting,” ujar Eko.
Mantan Sekretaris BPKPD ini menuturkan, serabi bukan sekadar karbohidrat biasa. Dengan variasi topping yang kaya akan protein seperti ebi, telur, tempe orek, hingga tahu serabi memiliki kandungan gizi yang sangat baik, terutama jika dikonsumsi oleh ibu menyusui dan anak-anak dalam masa pertumbuhan.
Untuk menyukseskan gerakan ini, Kecamatan Kesambi turut melibatkan para pedagang serabi lokal yang sudah berpengalaman puluhan tahun.
“Mereka dihadirkan untuk memberikan pelatihan dan mentransfer keahlian mereka kepada para ibu rumah tangga di wilayah Kesambi,” terangnya.
Lebih dari sekadar program kesehatan, Eko Budiyanto juga menaruh harapan besar terhadap masa depan serabi Cirebon. Ia menyayangkan belum adanya pengemasan serabi secara profesional yang membuatnya layak dijadikan buah tangan ikonik yang tahan lama.
“Melalui program pemberdayaan ini, serabi diharapkan dapat dikemas secara modern, lengkap dengan petunjuk ketahanan suhu dan cara menghangatkan kembali, sehingga siap bersaing menjadi produk oleh-oleh unggulan dari Kota Cirebon,” imbuhnya.
Sementara pemateri dari Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya Bidan Rani menambahkan, pihaknya akan meneliti lebih dalam lagi terkait kandungan gizi dari serabi ini.
Dikatakannya, serabi yang terbuat dari tepung beras dan kelapa masih memerlukan penambahan atau topping. Karena serabi hanya mengandung karbohidrat, sehingga harus dilengkapi dengan tambahan makanan lainnya.
“Iya serabi bisa ditambahkan telur, tempe, daging atau udang. Sehingga kandungan gizinya bertambah,” ungkapnya.
Oleh karenanya, ibu hamil, ibu menyusui dan remaja yang akan menikah bisa mengkonsumsi serabi dengan pelengkap toppingnya. Sementara untuk bayi atau balita, serabi bisa dibuat seperti serabi kinca yang mudah dikonsumsi.
“Kami dukung upaya dari pihak Kecamatan Kesambi untuk penanganan stunting. Kami juga siap menyediakan tenaga medis maupun konsultan dalam penanganan stunting ini,” pungkasnya. (Agus)












































































































Discussion about this post