Pandemi covid-19 telah mempengaruhi produksi dan distribusi hasil produksi pertanian, akibat pembatasan sosial hingga isolasi mandiri. Tantangan tersebut harus diantisipasi dengan strategi. Dengan kondisi ini, mau tidak mau, suka tidak suka, petani juga harus berinovasi memanfatkan teknologi sebagai langkah adaptif menghadapi kondisi “New Normal” di bidang pertanian.
Inovasi tersebut salahsatunya adalah konsep agritech, yakni penggunaan teknologi dengan tujuan meningkatkan hasil, efisiensi, dan profitabilitas. Agritech dapat berupa produk, layanan atau aplikasi berbasis aktivitas pertanian yang meningkatkan berbagai proses input maupun output. Dengan teknologi, rantai distribusi bisa dipotong sehingga logistik jadi lebih efisien. Teknologi juga memungkinkan petani di hulu menjangkau konsumen secara langsung.
Era digitalisasi pertanian muncul sebagai solusi permasalahan antara produsen dan konsumen apalagi di masa pandemi seperti ini. Konsep digitalisasi niaga komoditas pertanian bertujuan meningkatkan kesejahteraan petani dengan kepastian pemasaran sekaligus memposisikan konsumen benar-benar sebagai raja. Saat ini e-commerce menggeser cara belanja masyarakat dari pergi ke pusat belanja menjadi bisa dilakukan secara online melalui smartphone.
Di lain sisi, ekspor komoditas pertanian juga masih tumbuh sebesar 12,6 persen. Namun demikian, Nilai Tukar Petani (NTP) memang turun akibat pandemi. Kunci meningkatkan NTP adalah menyeimbangkan penawaran dan permintaan. Kebijakan pemerintah untuk membuka sektor pariwisata dan aktivitas perkantoran harus dipersiapkan dengan baik karena dengan keberhasilan kebijakan ini dapat berkontribusi terhadap perbaikan harga di tingkat petani.
Upaya menjaga stabilitas harga pangan, membangun penyanggah stok pangan utama di daerah, padat karya pertanian, jaring pengaman sosial, fasilitasi pembiayaan petani melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan asuransi pertanian, serta memperluas akses pasar melalui pengembangan toko tani dan usaha kemitraan. Bekerja sebagai Petani
Petani dikenal tangguh, bisa menghadapi masalah krisis, perubahan iklim, dengan kebijaksanaan diri yang fleksibel, mampu beradaptasi, dan inovatif.
Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) mencatat, ada sebanyak 1,72 juta tenaga kerja formal dan informal yang terdampak Covid-19 hingga 1 Mei 2022. Sebanyak 10,6 persen di antaranya atau sekitar 160 ribu orang kehilangan pekerjaan karena PHK, sedangkan 89,4 persen lainnya karena dirumahkan.
Pandemi Corona telah memberikan dampak luar biasa terhadap semua sektor tak terkecuali ketenaga-kerjaan. Isu ketenagakerjaan khususnya tenaga kerja bidang pertanian belum banyak dibahas dalam kebijakan ketenagakerjaan. Isu mengenai ketenagakerjaan hanya terfokus pada tenaga kerja di sektor industri dan sektor jasa. Kondisi pandemic saat ini dengan jumlah tenaga kerja sektor industri yang terkena PHK, merupakan momentum untuk membuka lowongan kerja menjadi petani.
Ketidakpastian waktu sampai kapan pandemi Covid-19 berakhir membuat sebagian masyarakat merasa bosan dan bingung ihwal aktivitas apa yang akan dilakukan. Kalau manajemen stres tidak dikelola maka akan kontraproduktif bahkan menghasilkan kecemasan yang berlebihan sehingga menurunkan imunitas tubuh. Satu hal yang bisa dilakukan adalah menjadi petani di pekarangan sekitar rumah sekalian menjemur badan agar sehat dan bugar.
Pertanian pekarangan
Komoditas yang diusahakan pada pertanian pekarangan sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan rumah tangga, nilai guna, dan nilai ekonomi. Pemanfaatan lahan pekarangan bisa dilakukan dengan menggunakan barang bekas seperti pipa paralon bekas, kaleng bekas, bambu sebagai tempat media tanam ataun pengganti pot.
Media tanam bisa dari tanah pekarangan yang ditambahkan kompos dari limbah dapur atau pupuk cair. Rumah tangga bisa memanfaatkan pekarangan sesuai potensi secara optimal. Kegiatan budi daya tanaman yang ditunjang peternakan dan perikanan akan bisa menambah pasokan protein hewani untuk tiap keluarga.
Inovasi teknologi perlu terus dilakukan didukung kebijakan pemerintah didorong untuk mengutamakan keberpihakan kepada petani dengan penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan) secara masif, mulai dari pengolahan lahan sampai dengan tahap panen dan pasca-panen. Dengan demikian, kegiatan usaha pertanian berubah dari sistem tradisional menuju modernisasi pertanian yang lebih efisien.
Melalui penggunaan alsintan pada setiap tahap kegiatan produksi, panen dan pasca-panen mampu menghemat biaya pengolahan tanah, biaya tanam, biaya penyiangan, dan biaya panen. Stimulus ekonomi di perdesaan sangat krusial untuk menyelamatkan sektor pertanian, khususnya pangan. Stimulus ekonomi dari pemerintah bisa berupa bantuan sosial yang ditujukan khusus bagi masyarakat di perdesaan.
Oleh: Ratnaningsih
(Guru sekaligus pelaku usaha tani di Indramayu)














































































































Discussion about this post